KEPEDIHAN YANG INDAH

September 2001 adalah hari yg tidak terlupakan untuku, ya…………..waktu itu terjadi pengeboman wtc dan pentagon di Amerika serikat. Tetapi ada yg lebih tak terlupakan bagiku adalah kala itu genap satu tahun pernikahanku, istriku positif hamil dan aku diberhentikan dari pekerjaanku karena selesai kontrak.

Gelap rasanya dunia waktu itu, bagaimana tidak? aku tidak punya tabungan, apa untuk bayar kontrakan, untuk makan, dan tentunya merawat kehamilan istriku. Akan tetapi istriku bilang “sudahlah pak yg sabar….cari2 kerja lagi sambil usaha yg lain, kan bisa jualan asongan atau yg lain….yang mudah-mudah saja dulu ………..”

Akhirnya aku datengin produsen permen jahe dan aku jualan permen jahe di bus bus dan terminal tanjung priuklah jadi pangkalanku. Dari jualan itu seharian aku mendapatkan uang 20 ribu sehari….ya….dari pagi hingga petang…..5000 u jajan, 1000 u beli Kompas, 2000 untuk lihat lowongan di warnet, sisanya aku bawa pulang untuk istriku. Setap aku pulang dia menyambutku dg mata berkaca kaca tetapi tetap tersenyum seraya mengucapkan Alhamdulillah ketika aku memberikan uang 12000. Hal itu terus berlanjut hingga aku suatu hari ngobrol dg teman pedagang buah dan  dia menunjukan gudang buah tempat dia belanja. Akhirnya aku jualan buah keliling di pelabuhan tj priuk dan hasilnya lumayan, setiap box aku untung 20 rb n aku bisa menjual 3-4 box sehari. Tapi jualan di pelabuhan itu adalah ilegal jd harus menghindari petugas KPLP yg sering merasia para pengasong. Hari terus berlalu dengan begitu payahnya kami lalui bersama tanpa sepengetahuan keluargaku dan keluarga istriku karena memang dulu aku berjanji ke keluarga tidak akan merepotkan mereka.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan kandungan istri semakin besar,……..aku masih pengangguran…..satu lamaranpun tidak ada pangilan padhal aku lulusan D3 mesin poltek Undip dengan ipk lumayan, yg mana dulu aku banyak diterima di perusahaan2 multinasional……… Dan malangnya lagi gudang buah juga lagi susah dan aku tidak pernah kebagian lagi….. Akhirnya aku berubah haluan mejadi pengasong korek gas di bus2 lagi dg penghasilan 20-30rb /hari,aku mengambilnya dari pasar senen dan disinilah aku benar2 merasa sangat kepayahan dan mendapat berbagai ujian salah satunya ialah waktu aku pulang tengah hari jalan kaki dari pos 1 pelabuhan lewat rel kereta disitu aku dihadang & dipalak 2 preman …………..aku melawan karena aku pikir banyak orang pasti akan membantu………………..tapi salah …………aku malah dikeroyok rame rame sampai berdarah darah kemudian mereka meninggalkanku setelah mengambil semua uangku, aku sendirian berjalan dg luka berdarah sampai akhirnya ketemu seorang ahwat yg menolongku, mengantarku dg becak ke “RS Sukmul” lalu dia meminta alamatku dan menjemput istriku. Di RS istriku hanya berkaca2 matanya sembari berkata sabar ya pak ini ujian dan diapun mengeluarkan semua tabungan yg rencananya untuk biaya melahirkan dan menebusku dari RS.

Karena sakit dan tdk bisa jualan kamipun pindah dari rumah petakan ke kontrakan ukuran 3×3 m mandi bergantian dengan tetangga. Disinilah aku merasa betul betul tersiksa hingga suatu hari aku hanya mempunyai uang 50 rupiah saja, aku marah semarahnya sampai  aku banting gelas & piring, lalu sembari diam istriku merapihkan pecahan2 beling itu kemudian memeluk kepalaku erat2 didadanya seraya berkata ” ……………sabar pak istigfar … ujian ini akan berlalu……………”.

Sampailah 8 bulan usia kandungan istriku dan suatu malam dia bilang” pak perut ibu sakit…” aku jawab dg bodoh ”…………….. tadi belum makan ya………………….? ” sudah kata dia…. Kemudian dia tidur miring melengkung menahan sakitnya n saat itu aku melihat darah lalu aku baru sadar n berkata ibu mau melahirkan………!!!tapi dia jawab dg lirih masa sih pak kan baru 8 bln….. Lalu aku pangil becak n kubawa dia ke “klinik bersalin bidan sugianti” dan perawat bilang sudah pembukaan 4 dan akhirnya hari itu jum’at pon 17 mey 2002 lahirlah putraku “Ahmad nurfattah adzakhi”.

Aku bingung pake apa bayar bidan? Akhirnya tidak ada pilihan………..aku pinjam kakakku di tangerang dan dapatlah uang 600rb, 350rb u byr bidan sisanya buat beli baju bayi. Yah…..kami lalui hari2 kami bertiga penuh sesak tanpa diketahui keluarga kami…. Kami makan seadanya bahkan kadang dg singkong rebus n anak kami suapin hanya dg pisang. Sampai akhirnya bln agustus 2002 aku mendapat panggilan interview, dan  yg menguji adalah seniorku di perusahaan sebelumnya. Dan September 2002 aku mulai bekerja tapi ditugaskan u pertambangan batubara di kaltim dg gp 900 rb. Sebelum berangkat aku mendapat uang saku 1,5 jt, aku tingalkan untuk istri & anakku 1,2 jt aku bilang”……….. bu ini untuk 3 bln ya…karena bpk hanya bisa pulang setelah 3 bln…………………. ” Istriku menjawab” ……………iya pak, percayalah ibu & adik akan baik2 saja…Alloh pasti menjaga kami……………… ” Aku tingalkan mereka di kontrakan 3 x3 m itu menuju hutan belantara di kaltim u menjadi mekanik alat berat sebuah pertambangan.

hari itu aku pertamakali merantau keluar jawa…..takut, sedih , senang jadi satu…..aku beruntung ternyata pekerjanya kebanyakan orang sunda dan jawa sehingga aku tidak kesulitan dalam beradaptasi. Sampai 3 bln kemudian aku cuti 2 mingggu dg membawa uang 10 jt ( pendapatan bersihku waktu itu 3,35jt/bln) lalu kami pulang ke ortunya dilanjut ke ortuku dan kami mengadakan akiqah anaku disana.

Saya fikir bahwa dengan mendapatkan perjaan berakhir sudah ujian hidup yang saya alami. Tetapi tidak, Januari 2003 lokasi tambang tempat saya bekerja diblokir oleh warga suku dayak karena permasalahan ganti rugi lahan mereka yang kena caplok areal pertambangan. Waktu itu sampai diturunkan personel brimob untuk mengamankan lokasi tambang dan mengevakuasi kami dan kamipun pulang ke kantor pusat Jakarta.Di Jakarta saya diberi tawaran oleh manager saya untuk pindah ke cabang Pekanbaru dan pada Februari 2003 berangkatlah saya ke Pekanbaru dan mulai bergabung di team product support cabang tersebut dengan gaji masih Rp 900 ribu. Di sana saya tidak disambut dengan baik karena banyak pegawai senior yang secara gaji masih dibawah saya yaitu sekitar Rp 600 ribu s/d 700 ribu dan juga gaji saya itu setara dengan Foreman (kepala regu) disana, sehingga mereka menggerakkan anak buah mereka untuk menjauhi saya. Setelah satu bulan akhirnya saya mendapat kontrakan dan saya pulang ke Jakarta menjemput anak dan istri saya.Berangkatlah kami bertiga ke Pekanbaru dan tinggal di kontrakan sebuah rumah petak yang waktu itu uang sewanya adalah Rp 300 ribu dan mulailah kami menata hidup baru di kota tersebut. Di Pekanbaru kami tidak ada siapa-siapa, namun istriku adalah orang yang mudah bergaul dan mampu mewarnai pergaulan itu sehingga kami mendapat banyak saudara ada orang sunda, jawa dan bahkan orang minang. Begitupun saya, di pekerjaan sudah tidak lagi diajauhi oleh teman-teman karena memang saya pantang menyerah dalam melakukan pendekatan personal.Mulailah babak baru ujian dalam hidupku. Waktu itu ibuku jatuh sakit dan memerlukan biaya besar sedangkan adik perempuanku baru masuk kuliah AKPER dan adik laki-lakiku masuk sekolah MAN, entah mengapa kakak pertamaku membaginya hanya dengan aku sedangkan ada juga dua kakak-kakaku. Kakak pertamaku kebagian membiayai rawat jalan ibu dan aku biaya sekolah adik-adikku. Malangnya lagi mertua laki-lakiku pun sudah tidak sanggup berniaga lagi dan memasrahkan ke 7 adik ipar kepadaku. Berat sekali rasanya waktu itu bayangkan saja gaji 900 ribu harus aku bagi dengan sebegitu banyak orang setelah dipotong kontrakan 300 ribu.Namun sudahlah, ini memang nasipku harus menjadi orang tua di umurku yang masih muda. Dalam membesarkan hatiku istriku selalu bilang bahwa “jika punggung kita tidak kuat tidaklah mungkin Alloh memberikan beban itu” akhirnya aku belajar dengan giat agar bisa menjadi seorang mekanik alat berat yang handal dan dibutuhkan banyak customer dan juga aku kerja serabutan sepulang kerja serta dan hari sabtu / minggu : les privat, cuci mobil dan lainnya.Waktu terus berjalan dan akhirnya akupun menjadi mekanik yang diperhitungkan oleh banyak customer dan bahkan ada beberapa customer hanya mau akulah yang melakukan troubleshoot terhadap alat beratnya dan mereka itu begitu memanjakan aku dengan angpaunya setelah pekerjaan selesai. Memang benar semua sudah ada yang mengatur aku bisa membiayai sekolah adik-adikku dan ketika ibu anfall masuk rumah sakit aku bisa membantu kakak pertamaku. Ibuku hampir 2x dalam setahun masuk ruang ICU dan tidak sedikit biayanya, namun kita tanggung berdua sehingga tidak terasa berat. Kebetulannya lagi ketika aku memerlukan banyak uang untuk biaya ibu atau adik-adiku selalu saja ada banjir jobku di hari sabtu minggu dan mereka membayar cash kepadaku. Akhirnya akupun mampu membeli rumah sederhana pada tahun 2006 dan kami tinggal disana sampai akhirnya Juni 2008 aku ditarik ka kantor pusat Jakarta dengan promosi gaji menjadi Rp 2,000,000.- , penghasilan menurun kebutuhan meningkat namun aku tetap menjalaninya. Sampai akhirnya, Januari 2009 aku melamar-lamar kerja lagi dan aku mendapatkan 2 pekerjaan baru dengan gaji 10 x lipatnya gajiku saat itu. Pertama sebagai GM sebuah dealer alat berat merk baru yang di tempatkan di medan membawahi tiga cabang yaitu Pekanbaru, Palembang dan Jambi. Kedua sebagai seorang operator di perusahaan migas asal Amerika dengan sekedul kerja 2 minggu kerja dan 2 minggu libur. Aku berunding dengan istri serta minta petunjuk dari Alloh akhirnya April 2009 aku memilih yang ke dua karena jadi anak buah lebih sedikit bebannya daripada jadi seorang general manager dan hiduplah kami dengan bahagia sampai saat ini dan semua adik-adikku sudah bekerja semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s