Kebahagiaan Yang Relatif

Seperti biasa setiap hari raya iedul fitrie kami sekeluarga mudik ke kampung halaman istri dan kampung halamanku. Tidak seperti biasa aku kali ini terfokus pada seseorang yang sudah lama aku kenal dari aku kecil dulu.

Foto 0481

Dia adalah mbah Painah, seorang wanita tua yang tinggal di gubuk reot dekat dengan rumah orang tuaku. Seingatku rumah itu tidak banyak perubahan dari dulu sampai sekarang hanya beberapa dinding dari anyaman bambu yang diganti yang mungkin sudah rusak dimakan usia. Setiap aku pulang dia selalu mendatangiku dan menanyakan kabarku sekeluarga. Yang aku heran adalah pertanyaan yang dia berikan selalu sama“Anakmu sekarang berapa nak…?” setelah aku jawab 4 mbah! dia lalu berbalik cerita ke istriku ” ya syukurlah….walah mbak-mbak …edi ini lahirnya pas aku sedang menikahkan anak pertamaku, sekarang koq sudah 4 anaknya”.

Seperti biasa aku mengajak anak-anaku masuk rumahnya dan kami melihat rumah itu tanpa sekat ada dapur kayu di sisi kanan belakang, ada 1 sapi dan 7 kambing di sisi kiri belakang, di sisi kiri depan ada tempat tidur dari bambu tanpa kasur ataupun matlas dan juga ada lemari pakaian yang campur dengan perabotan dan di sisi kanan depan ada tumpukan karung yang berisi hasil panen yaitu gabah dan kacang tanah. Sembari maen memberi makan ternak anak pertamaku nyeletuk ” mbah ini kaya ya punya sapi dan banyak kambing…?” kata kata anaku itu membuatku berfikir…iya aset mbah painah ini kalau di rupiahkan banyak, tapi kenapa kehidupannya masih seperti itu ?

Lalu aku berbincang bincang dengannya banyak sekali pertanyaan yang aku ajukan kepadanya tentang kehidupan ini dan semua jawabanya sederhana tetapi masuk akal dan yang paling mengesankan adalah kata-katanya yang paling terakhir.“Aku bahagia dengan kehidupanku seperti ini nak, kita hanya menjalankan kehidupan ini sesuai garis-Nya. Tidak usah melihat kanan kiri (kehidupan orang lain) karena apa yang kita lihat dan fikir belum tentu sama dengan yang mereka rasakan.”

Dari perbincangan dengan mbah painah aku mendapat pelajaran baru :

  1. Bahwa kebahagiaan itu adalah relatif dan hanya si pelakulah yang bisa merasakan.
  2. Apa yang kita lihat terhadap orang lain semuanya adalah hanya kemungkinan saja, mungkin bahagia atau mungkin menderita.
  3. Hidup sederhana dan selalu mensyukuri apa yang kita dapatkan akan membuat kita lebih bahagia.

#oleh-oleh mudik 2013

Edi Padmono(Edmon)

Advertisements

3 thoughts on “Kebahagiaan Yang Relatif

  1. Saya sudah baca semua postingannya, dan tak ada yang tak menyentuh hati saya. .
    Sulit dipercaya ini sebuah blog yg baru lahir. Tulisan-tulisannya bermakna, tampilannya pun sudah rapi. Selamat ya, saya ikut senang.
    Tetap semangat menulis mas, kalau bisa sampai mati, menjadi bagian dari amal kita terpuji, semoga Allah ridha dan berkahi. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s