Bangkitlah Pemuda Indonesia

17 Agustus yang jatuh pada hari Sabtu dimana pada hari itu semua komponen bangsa ini  terutama para generasi muda merayakannya dengan upacara bendera dan berbagai perlombaan yang meriah. Ada balap karung, pacu jalur, panjat pinang dan lain sebagainya. Namun sayang, kemeriahan itu hanya seremonial belaka tanpa ada makna apapun karena mereka melakukannya hanya untuk tanggal itu bukan untuk mengenang bagaimana perjuangan bangsa ini sehingga tanggal 17 itu tercapai,apalagi mau ikut dan rela melanjutkan perjuangan para pendahulu yang telah syahid itu.

Bangsa ini adalah bangsa yang besar dengan jumlah penduduknya, pesona alamnya yang luar biasa dengan sebutan “Zambrut Katulistiwa”, banyak suku dan beragam adat istiadatnya, dan sumber alam yang melimpah ruah. Jumlah penduduk yang banyak itu ternyata 20% adalah pemuda, ya…..pemuda adalah harapan bangsa itulah yang sering kita gaung-gaungkan selama ini. Pemuda seharusnya menjadi pemain dalam segala aspek kehidupan negeri ini bukan malah menjadi pengekor keterpurukan yang terjadi saat ini. Pemuda yang jumlahnya banyak itu sebenarnya adalah asset bangsa ini yang terbesar apabila diberdayakan menjadi tenaga yang potensial untuk mengisi dan melanjutkan apa yang telah diraih oleh para pendahulu bangsa ini.

 Namun sayang seribu sayang, perhatian terhadap pemuda sampai hari ini sangatlah kurang, bahkan yang terjadi adalah pemanjaan, pembutatulian terhadap kaum generasi muda kita. Pemuda sekarang sejak usia dini telah dimanjakan dengan uang, permainan, elektronik mewah, motor dan bahkan mobil mewah dari luar negeri. Setiap harinya otak mereka diisi denga daya khayal melalui siaran televisi dalam dan luar negeri dengan berbagai suguhan: sinetron, film dan musik, yang akibatnya mereka menjadi generasi muda yang enggan berbuat. Jarang sekali orang tua yang menyuguhkan realita kehidupan manusia yang menantang misalnya bagaimana seorang pemulung mengaisngis sampah di tempat kotor demi menghidupi dan sekolah anak-anaknya, atau mengajak mereka untuk melihat gubuk-gubuk reot di pinggir kali atau jembatan layang agar mereka bisa berfikir bagaimana untuk memperbaiki kehidupan yang sangat miris itu.Gaya hidup hedonis terus dihembuskan di dada pemuda, pemuda tidak perlulagi bekerja keras, semua kebutuhanya telah dipenuhi oleh orang tua mereka. Sehingga pemuda masa kini menjadi pemuda yang tidak bisa mandiri.

Saat ini saatnya kita memberikan jalan terbaik kepada para generasi muda kita namun tidak membunuh karakter mereka dengan membawa imajinasi kepada tenaga siap pakai untuk kepentingan kemajuan bangsa ini dengan kemandirian bukan ketergantungan dan bukan menjadi penyokong negara lain.

Bangkitlah pemuda indonesiaku

Negara ini akan dihormati apabila pemudanya pemberani, santun dan religi

Negara ini tidak akan terpuruk dengan kemiskinan jikalau pemudanya kreatif mandiri dan tidak ketergantungan

Nagara ini akan terlepas dari kebodohan jikalau pemudanya saling peduli dan mau berbagi

Bangkitlah Pemuda, jangan sia-siakan 17 Agustus yang telah diraih para pendahulu menjadi sia-sia

#Untuk indonesiaku

Edmon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s