Pernikahan

Menikah adalah impian setiap orang yang telah beranjak dewasa dan setelah menikah tentu saja banyak sekali liku-liku dalam menjalankanya. Apalagi seseorang yang mengawali pernikahannya dengan cara-cara berpacaran dan sebagainya, tentu saja berbeda antara kehidupan dalam berpacaran dan setelah menikah. Dalam berpacaran seseorang lebih condong menampilkan yang baik-baik saja, wajah yang cantik atau ganteng, kehidupan yang mapan, tutur kata yang lembut nan membuai dan lain sebagainya. Karena memang secara kodratnya wanita pintu hatinya adalah telinga dan pria pintu hatinya adalah mata. Namun tidak sedikit setelah menikah mereka dilanda kekecewaan karena tidak sesuai yang diharapkan seperti apa yang mereka rasa pada waktu pacaran.

Pernikahan yang bagus adalah jika kedua belah pihak menjalankanya tanpa syarat mau menerima kekurangan dan mengabaikan kelebihannya yang disebut “Mawadah” yaitu mencintai apa adanya tanpa syarat hanya karena Alloh. Maka tak heran jika pernikahan melalui jalan perjodohan lebih langgeng daripada yang melalui pacaran, karena orang yg menerima perjodohan itu sudah siap dengan segala resiko apapun yang ia terima.

Pun demikian pernikahan yang melalui perjodohan ataupun pacaran tentu ada gelombang-gelombangnya karena memang secara manusiawi, manusia memang cenderung membanding-bandingkan, dan komunikasilah yang mampu menyelesaikannya. Karena memang menyatukan dua pemikiran manusia yang berbeda jenis itu tidak mudah. Dan sebenarnya dalam agama Islam telah diatur bagaimana tatacara berumah tangga seperti yang terdapat pada ayat di bawah ini:

[4:19] Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa278 dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata279. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Dalam menjalani hidup berumah tangga hendaklah secara ma’ruf, saling menghargai antara keduanya, saling berbagi kesenangan maupun kesusahan dan tidak mencari-cari keburukan pasangannya dan janganlah sekali-kali membandingkan dengan kehidupan orang lain, karena memang ibarat pepatah “Rumput tetangga lebih hijau” bahwa kehidupan orang lain itu lebih baik tetapi belum tentu karena kita melihatnya hanya dari luar saja. Kemudian jika dalam perjalanan hidup berumah tangga menemukan keburukan pasangan yang tidak kita sukai maka bersabarlah karena bisa jadi keburukan yang kita lihat itu adalah kelebihannya dan jadilah pasangan yang arif dengan menerima keburukannya itu menjadi suatu kelebihan darinya.

Ada sebuah contoh dalam kehidupan nyata:  Bahwa seorang pria yang pendiam menikah dengan seorang wanita yang galak dan cerewet namun mereka tetap menjalaninya dengan apik hingga masa tua dan sampai si istri sakit lumpuh total namun si suami tetap merawatnya dengan penuh kasih dan kesabaran. Hingga suatu hari salah satu anaknya bertanya seraya memuji bapaknya itu. ” Pak apa yang membuat bapak begitu sayang dan mau merawat ibu sampai saat ini, sementara aku tahu dulu ibu sangat cerewet dan galak terhadap bapak dan juga terhadap kami….?”mendengar pertanyaan itu si ibu menangis dan bapak itu berkata kepada istrinya “SSSTTTT sudah, sudah” lalu ia menjawab pertanyaan anaknya tadi ” Memang ibumu adalah orang yang galak dan cerewet, tetapi itu sudah garis dari yang mahakuasa untuk melengkapi kakuranganku sebagai laki-laki yang pendiam dan pemalu serta tidak tegas dalam sikap. Dan juga jika bukan karena galak dan cerewetnya ibumu mungkin kamu dan adik-adikmu tidak akan menjadi orang yang sukses seperti ini karena aku akui memang bapak ini orang yang lemah”.

Dari cerita diatas, jelas sudah bahwa hanya orang-orang yang mau membuka pintu hatinya untuk kekurangan dan keburukan pasangannyalah yang mampu mempertahankan biduk rumahtangga dengan apik dan berakhir dengan kesuksesan yang indah dikemudian hari.

Advertisements

7 thoughts on “Pernikahan

      • iya kann, haha bener itu
        ada hadits kalau gak salah artinya, seandainya tak diciptakan prempuan niscaya semua manusia pasti akan menyembah Tuhan dgn sbenar2mya

        adam yg gagal digoda setan, kalah sama hawa, perempuan adalah cobaan yg berat

  1. Ada juga yang pernikahannya langgeng dan baik-baik saja bukan karena perjodohan, tapi juga tak berpacaran lama. Mereka saling jatuh cinta sebelum menikah, tapi karena keduanya sama2 mengenal batasan syari’at, cinta keduanya segera mereka halalkan dalam pernikahan. Dan alhamdulillah berkah.

    Itu kisah teman saya, saya sendiri termasuk dalam barisan nikah karena perjodohan 🙂

    • Dalam pandangan saya bahwa pacaran itu adalah yg seperti ditampilkan di tv, bergandengan, berpelukan, berciuman dan lain sebagainya yg mana kini saya banyak temui dikehidupan anak muda yg katanya modern.
      Ada perbedaan perkenalan dan hanya ingin lebih mengenal lebih dekat dengan pacaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s