Berbagi Dengan Keluarga

Ada seorang ibu ketika bertemu dengan istri saya selalu mengeluhkan suami dan mertuanya, bahwa suaminya selalu mementingkan keluarganya dengan selalu mengirim uang kepada keluarganya setiap bulannya. Dan juga sang mertua sering kali bertandang ke rumah mereka dengan alasan menengok cucu dan lain sebagainya, ibu itu berfikir itu hanyalah alasan saja agar bisa dapat uang dari anaknya. mungkin istri saya sudah bosan mendengar keluhan itu yang akhirnya istri saya memberikan nasehat yang sedikit pedas ke ibu itu

” Bu, apa yang ibu fikir tentang mertua itu belum tentu benar, karena setahu saya tidak ada satupun orang tua yang meminta imbalan terhadap anaknya. dan kalaupun benar mertua ibu itu menuntut anaknya untuk memberi uang dan membiayai adik-adiknya, juga tidak salah dan ibu juga tidak bisa memprotesnya karena mertua ibu sudah susah payah membesarkan suamimu hingga berhasil menjadi orang dan ibu adalah orang lain (sebelum dinikahi) yang tiba-tiba menerima hasilnya tanpa bersusah payah. jadi wajar jika mertua ibu menerima hasil atas susah payahnya membesarkan dan membiayai suami ibu waktu dulu. Dan perlu diingat bahwa Orang tua memang tidak ada hak untuk meminta imbalan apa yang telah diusahakan untuk anak-anaknya, akan tetapi seorang anak mempunyai kewajiban untuk berbakti kepada orang tuanya”

Siapapun tidak akan menyangkal, bahwa uang adalah hal yang sangat sensitif. Seringkali pertikaian dan percekcokan yang terjadi di ranah rumah tangga disebabkan oleh uang.  Bahkan banyak rumah tangga yang hancur akibat persoalan uang. Kasus diatas banyak sekali kita jumpai pada banyak pasangan rumah tangga lain.  Tidak hanya terjadi di pihak suami,  kadang istri pun melakukan hal yang sama.

Kita tidak dapat menghapus jejak bahwa sebelum menikah dan membina kehidupan berumahtangga, setiap manusia lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Seorang lelaki atau perempuan dibina untuk menanggung beban tanggung jawab hidup, dalam keluarga. Mengingat semua ini tentu kita juga tak dapat melupakan peran orangtua dalam merawat dan mendidik baik diri kita sendiri maupun pasangan. Dibalik peran tersebut, tentu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua dan keluarga hingga kita dapat menjelma menjadi sosok yang sekarang. Pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua tentu tidak ada yang berpamrih. Namun, tentunya kita semua tahu bahwa semakin hari orangtua kita semakin berkurang tenaganya bahkan ada yang memasuki kondisi renta. Bila bukan kita yang menanggung atau meringankan beban tersebut, lalu siapa lagi?

Pemahaman tentang hal ini harus benar-benar dimiliki oleh siapapun yang akan menikah, bahwa apapun yang terjadi pada hari ini, tak dapat terlepas dari pengorbanan orangtuanya dan apa yang pernah dilewati oleh pasangan dalam keluarganya. Sehingga bila nanti hadir tuntutan untuk berbagi penghasilan dengan keluarga pasangan, tidak akan timbul rasa keberatan. Komitmen untuk saling menerima apa adanya juga sangat penting untuk ditumbuhkan sedari awal pernikahan diniatkan. Ada beberapa pasangan yang mungkin berasal dari keluarga yang berkecukupan sehingga tak ada himbauan untuk meringankan beban ekonomi keluarga setelah menikah. Namun, tak jarang pasangan justru lahir dari keluarga yang kurang berada, sehingga dia yang kita pilih untuk mendampingi hidup, masih harus berbagi penghasilan untuk menghidupi keluarga.

“Menyikapi keadaan perekonomian keluarga pasangan yang seperti inilah kesiapan kita untuk menerimanya apa adanya teruji. Dikala kondisi keuangan masih “aman-aman” saja, mungkin kita masih tersenyum lepas padanya saat berbagi. Namun, di kala keuangan tengah sulit, masihkah kita melapangkan dada untuk tidak menyesali pilihan yang jatuh padanya?”

Selanjutnya, kita tentu menyadari sejak awal pernikahan dilangsungkan, kita tidak hanya menikah dengan seseorang yang kini ada di sisi. Namun, kita juga menikahi keluarganya dan segenap kondisi yang terjadi dalam keluarganya. Saat ijab kabul terucap, detik itu pula kita menjadi bagian dari kehidupan keluarganya. Nah, dengan demikian, detik itu pula beban yang menggelayuti pasangan dan keluarganya adalah beban yang mau tidak mau harus turut kita ditanggung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s