Ditampar Pemulung

Sudah menjadi kebiasaan kalau aku pas libur setiap pagi mutar-mutar sepedaan hanya sekedar cari keringat sekaligus refresing cari udara segar. Kebetulan daerah kami ada danau buatan bekas rawa, ada pasar tradisional dan ada pasar modern juga yah…….. kalau dilalui dengan santai biasanya aku sampai rumah lagi satu jam kemudian.

Hari itu tidak biasa, aku berangkat sekitar jam 7 pagi, yah matahari sudah lumayan tinggi sih…..aku mulai menggoes sepedaku ke arah berlawanan seperti biasanya. Kalau biasanya aku dari rumah melewati pasar tradisional kemudian pertokoan lalu danau baru kerumah lagi, tapi ini sebaliknya aku dari rumah melewati danau dulu. Perjalanan dari rumah ke danau tidak ada yang aneh biasa-biasa saja hanya berbarengan dengan orang yang berangkat kerja dan anak-anak sekolah agak macet sih…..

Sampailah aku di pinggiran pasar tradisional yang mana di situ ada tumpukan sampah limbah pasar dan warga sekitar pasar, dasar nasip kurang bagus rantai sepedaku putus……dongkolnya hatiku saat itu bagaimana tidak jarak pasar itu ke rumah masih jauh. Di tengah kedongkolan hatiku karena aku harus berjalan kaki untuk sampai rumah nanti, tiba-tiba aku mendengar suara orang tua mengucap syukur…….Alhamdulillah…….aku kaget dan menoleh ke belakang, ternyata ada seorang tua yang baru selesai makan nasi bungkus dipinggir gerobak sampah miliknya. Kata-kata syukur pemulung itu bagai pukulan keras di telingaku yang menyadarkanku bahwa aku terlalu cepat dongkol hati hanya gara-gara rantai putus. Betapa rendahnya diriku dalam mensikapi sesuatu rintangan kecil, bagaimana jika aku menjadi si pemulung itu yang tiap hari mengais-ngais sampah dan berjalan sepanjang hari namun dia tetap bisa bersyukur dengan apa yang dia dapatkan.

Aku terduduk dan diam  sementara melihat pemulung itu, aku lihat dia mengais-ngais botol plastik yang kemudian dimasukkannya ke dalam gerobak miliknya. Akhirnya aku mendekati pemulung itu sambil membantu mengais-ngais sampah yang berguna aku ajak dia ngobrol. Aku memang suka ngobrol dengan siapapun terutama masalah kehidupan,” oalah den ndak usah bantuin kotor!!!!” kata pemulung itu dan terang saja aku merasa di pukul lagi dengan kata-katanya itu, yah “den” aku belum pernah mendapat sebutan itu, setahuku itu adalah panggilan ningrat. Aku lihat wajahnya, yah …..mungkin umurnya seputaran 50an tapi masih kelihatan gagah dan bersih walaupun bekerja di tempat kotor.

“Dari mana pak asalnya?” tanyaku dalam bahasa jawa lho

“Dari tegal den.” sahut dia dengan bahasa jawa juga.

” Sudah berapa lama di Tngerang pak?”

” Sudah hampir 30 tahun den……ya semenjak saya bujangan merantau ditangerang cuma ini yang bisa saya lakukan karena saya tidak punya keahlian”

” Tinggal dimana pak? trus ibunya kerja apa? punya anak berapa? sekolah di mana ?”

“Ngontrak di kampung jambu, kalau istriku jaualan jamu keliling dan kami belum dikasih anak sama Allah”

“lho kampung jambu dekat dong aku di PURI lho pak, gimana pak lumayan dapatnya tiap hari?”

“Ya Alhamdulillah den cukup untuk makan hari-hari dan bayar kontrakan, hidup ini kan tinggal menjalankan saja sudah ada yang ngatur den yang penting sudah usaha semampunya……”

Luar biasa, aku mendapatkan wejangan geratir dari orang yang begitu ihlas melalui kehidupannya, walaupun hidup susah dia selalu ingat dengan yang maha pengatur kehidupan ini. Aku menerawang ke masalaluku yang pernah mengasong selama hampir dua tahun dan ternyata tidak ada apa-apanya dibanding dengan pemulung ini yah 30 tahun menjadi pemulung.

“Sini den sepedanya saya betulin, rantainya putus ya?” kata-kata pemulung itu mengagetkan lamunanku.

“Iya-iya pak” jawabku kaget

Akhirnya dia perbaiki rantai sepedaku yang putus, aneh memang dia ada di gerobaknya ternyata ada pen rantai yang aku butuhkan itu dan selesailah sepedaku diperbaiki oleh pemulung itu. Aku sangat snang di samping sepedaku sudah bagus lagi , aku juga dapat berbagai wejangan kehidupan dari bapak pemulung itu. Aku mengeluarkan uang untuk ongkos perbaikan tetapi dia menolak, dia bilang ihlas membantu saya seihlas aku membantu dia mengais sampah dan mendengarkan ceritanya.

Semenjak saat itu aku sering mengajak anak-anakku main ke kontrakan pemulung itu damn kamipun akrab seperti saudara apalagi anak-anaku sudah seperti anak-anak mereka. Yang aku heran adalah aku tidak pernah melihat mereka mengeluh atas kesulitan-kesulitan hidupnya, dan mereka tetap rajin ibadah tepat waktu. Dia selalu memberikan nasehat kepadaku dan anak-anakku:

                         “Bahwa susah senang, kaya miskin itu sudah ada garisnya dari yang di atas tetapi beriman itu adalah tuntutan dan pilihan”

 

#Edmon : refleksi dari saudaraku sang pemulung.

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Ditampar Pemulung

  1. Subhanallah,, membaca ini, saya ikut tertampar,, betapa keikhlasan hidup sangat sulit kita jalankan, mengeluh dan kurang puas seringkali menguasai hati dan membuat kita justru semakin merasa “susah”. terimakasih untuk pelajaran hidup yang mas tularkan melalui catatan tentang bapak pemulung ini.. 🙂 salam kenal

    advertiyha.blogdetik.com

  2. Pada hakikatnya …
    kita itu bisa belajar dari siapa saja … termasuk dari bapak pemulung tadi …

    dan ingat juga … bahwa bisa jadi ada orang yang belajar pada kita … tanpa kita sadari …
    Sehingga …sebaiknya … setiap waktu kita selalu ingat untuk melakukan yang baik-baik saja … supaya tidak menjerumuskan orang yang mungkin secara tidak sadar belajar dari kita …
    (Anak kita misalnya …)

    Salam saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s