Memotong Angsa bertelur Emas

Masih ingatkah kita pada cerita “Angsa bertelur emas” ya……sebuah dongeng yang populer waktu kecil kita dulu, dimana sang pemilik angsa melihat angsanya bertelur emas sehari hanya satu butir tidaklah cukup dan akhirnya dia memotong angsanya itu dengan harapan dia bisa membedah perut si angsa dan mendapatkan semua telur emas disana. Namun hasilnya adalah sebaliknya bukan telur emas yang didapat melainkan hanya jerohan angsa saja dan hilanglah kesempatan untuk mendapat sebutir telur emas setiap hari karena angsanya telah mati.

Bisa seperti cerita diatas sebagai analogi apa yang terjadi terhadap bumi Indonesia yang kita cintai ini. indonesia adalah negeri yang subur makmur gemah ripah lohjinawi, rentetan pulau yang potensial akan pertanian dan perkebunan. Contohnya yang sederhana adalah bumi borneo alias kalimantan, disana pertanian dan perkebunan sangat menjanjikan, padi tumbuh dengan subur, sayur-mayur, buah-buahan tak bermusim. Disana ada berbagai buah langka yang tidak dapat ditemukan didaerah lain, ada buah “Lay” sejenis durian tetapi kuning warnanya dan tidak bau seperti durian dan lebih manis, Ada buah sejenis mangga yang rasanya lembut dan manis sekali seperti rasa susu, buah naga tumbuh dan berbuah dengan suburnya dan masih banyak lagi yang aneh-aneh di bumi borneo. Dan di kalimantan juga tumbuh subur tanaman perkebunan seperti rotan, sawit, karet dan lain sebagainya.

Bumi kalimantan dengan tanah yang subur itu memiliki sumberdaya mineral yang luar biasa dibawahnya seperti batubara dan minyak bumi. Disinilah yang akhirnya para investor asing dalam dan luar negeri atas prakarsa pemerintah berlomba-lomba menguras dengan ganas bumi kalimantan, tanah-tanah warga yang dulunya adalah lahan pertanian atau perkebunan dibeli oleh para investor untuk dijadikan tambang batubara. Kalimantan sebenarnya belum memerlukan pertambangan itu, karena dengan hasil pertanian dan perkebunannya mereka masih bisa kaya dan kekayaan itu bisa diwariskan ke anak cucu mereka.

Ada yang tahu apa yang terjadi jika bumi kita itu dikeruk dan di ambil kandungan mineralnya seperti batubara misalnya? ya…….koanstruksi kesuburannya akan hilang karena tanahnya dan kandungan airnya berubah menjadi asam dan setelah itu hanya tanaman akasia dan rumput yang bisa tumbuh sebagai pengganti berbagai tanaman pangan tadi. Aku pernah bekerja di areal pertambangan jadi aku tahu persis bagaimana ganasnya mesin-mesin itu mengeruk bumi kalimantan, jika kita tidak mengikuti perkembangan setiap hari maka kita akan tersesat di areal tambang tersebut karena bukit berubah jadi dataran, dataran jadi danau dan danau menjadi bukit.

Memang masyarakat mendapat ganti rugi pembebasan lahan sangat besar bahkan ada warga yang menerima Rp 2 milyar s/d 4 milyar, akan tetapi tanah mereka yang subur telah hilang dan apakah uang itu akan bisa bertahan sampai cucu ke tujuh nanti? saya kira tidak karena mereka cenderung hidup berfoya-foya sebagai contohnya dikalimantan rumah papan memiliki mobil mewah seperti fortuner, alphard dan bahkan disana jika ada sesuatu yang baru diiklankan di TV maka kita akan bisa melihatnya sudah berkeliaran di sana.

Kemidian dari segi migasnya, yang dari 30 tahunan lalu digenjot terus sehingga cadangan minyak dan gas di kalimantan sudah tipis dan saat ini yang menjadi permasalahan adalah tentang pengolahan limbah yang semakin tidak terkendali karena jumlah produksi yang sedikit tetapi limbahnya sangat banyak.

Alangkah baiknya jika dulu pemerintah tidak mengexploitasi habis-habisan bumi kita ini hanya untuk kepentingan kapitalis asing yang tentunya diikuti kepentingan kantong-kantong kelompok mereka denga mengesampingkan dampak akhir yang begitu menyeramkan ini. seandainya bumi kita ini dikelola pertanian dan perkebunannya dahulu sebelum mengexploitasinya maka sudah barang pasti negeri kita ini akan tetap makmur dan tidak kekurangan pangan seperti saat ini.

Saat ini bumi kita sudah seperti angsa mati yang tidak bisa menelurkan sebutir telur emas lagi, bumi kita sudah kering, tandus, hutan kita gundul dan pencemaran lingkungan begitu parahnya. Kita tidak tahu apakah anak cucu kita nanti bisa menikmati alam Indonesia yang begitu exsotik dan makmur ini, apakah mereka bisa menikmati uang yang kita dapatkan hari ini, dan apakah mereka bisa nyaman tinggal dinegeri ini?

                              “Negeri ini terancam oleh kemiskinan karena sumber daya alamnya sudah habis diambil oleh generasi terdahulu dengan serakahnya”

#Edmon : Kegundahan seorang pekerja tambang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s