Membeli Waktu

Namanya Tomy, dia adalah anak seorang yang kaya raya, sang ayah adalah seorang enginer manager sebuah BUMN dan sang ibu adalah seorang dokter spesialis kandungan yang hebat. walaupun serba ada namun Tomy setiap harinya hanya di temani oleh sang PRT di rumah yang begitu besar dan mewah itu, Sang ayah setiap pagi harus berangkat kerja sebelum Tomy bangun dari tidurnya karena takut terjebak macet dan pada malam harinya ketika Tomy sudah tidur sang ayah pun baru pulang. Sebenarnya sang ayah hanya bekerja 5 hari kerja setiap minggunya, akan tetapi karena posisi jabatannya dia harus menyelesaikan sisa-sisa pekerjaannya di rumah dan saking sibuknya dia tidak bisa memberikan perhatiannya kepada sang anak.

Sang ibu pun demikian setiap pagi hingga petang melakukan praktek di rumah sakit, namun karena profesinya sebagai dokter kandungan, waktunyapun di rumah sakit tidak cukup dari pagi sampai sore saja melainkan kadang-kadang dia harus datang pas jam makan malam ataupun tengah malam dan kadang juga sebelum subuh karena ada yang harus dibantu melahirkan di rumah sakit.

Tomy sendiri dan sendiri, hanya dengan sang PRT dia bermain, berangkat dan pulang sekolah, belajar mengerjakan PR dan lain-lainnya. Tomy adalah anak yang pintar…… yah…..mungkin warisan kedua orang tuanya, namun kedua orang tuanya tidak pernah memberikan apreseasi terhadap apa yang telah ia capai selama ini. Pernah suatu hari Tomy menunggu ibunya untuk menunjukan hasil ulangan hariannya ” Bu lihat bu, ulangan Matematikaku dapat 100 bagus kan bu? “ kata Tomy pada ibunya yang baru saja datang dari prakteknya, “wow…bagus dong” kata ibunya sambil mengelus kepala si Tomy lalu pergi melanjutkan pembicaraannya di telpon selulernya. Seperti itulah komunikasi yang ia dapatkan dalam keluarga setiap harinya.

Suatu saat akan dilakukukan pertunjukan drama di sekolah Tomy dan dialah yang jadi pemeran utama, pertunjukan akan digelar pada waktu hari kemerdekaan yang mana seluruh wali murid akan di undang. ” Tomy…… ini undangan untuk orang tuamu ya…..mereka harus datang karena kamu pemeran utamanya….” kata guru seni Tomy. Tomy pulang dan menunggu ibunya dari rumah sakit ” Bu…ada undangan dari sekolah, hari sabtu bulan depan “ ibunya menerima surat undangan itu dam membacanya ” Tom….kamu kan tahu…pasien ibu banyak menunggu, jadi ibu sulit untuk menghadirinya” lalu ibunya pergi masuk ke kamar dan istirahat. Begitu ayahnya pulangpun samajuga jawabannya, Tomy pun sadar betapa pentingnya kedua orang tuanya bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan keluarganya, akan tetapi tidak adakah waktu sedikitpun untukku gumam si Tomy.

Lalu Tomy berpikir keras untuk mendapatkan waktu kedua orang tuanya tersebut, namanya juga anak-anak, ia fikir jika gaji sang ayah satu bulan 30 juta dan pendapatan ibu 30 juta maka tomy harus mengumpulkan uang sebanyak 2 juta untuk satu hari saja agar mereka bisa menghadiri pentas drama yang diperankannya. Dijualah semua mainan tomy tapi karena mainan bekas teman-temannya pun membelinya dengan murah dan hanya terkumpul 700 ribu rupiah. Biasanya Tomy diantar PRTnya dengan ojek kusus, tetapi ia memilih jalan kaki untuk sekolah karena ia butuh uang itu lumayan ojek itu kan 400 ribu sebulan, jadilah uang tomy sekarang 1,1 juta. Pentas drama semakin dekat, namun tomy belum punya cukup uang.

Tomy punya tabungan di bank, datanglah dia ke bank tersebut namun di tolak karena harus ada tanda tangan orang tuannya. Kembalilah tomy kesekolah dan pergi ke kantin untuk telpon ayah atau ibunya namun tidak satupun ada yang mengangkat telponnya. Pada saat menelepon di lihat penjaga kantin meninggalkan tempatnya dengan kotak uang terbuka, maka dengan mengendap-endap Tomy mengambil isi kotak itu dan pergi. Esok harinya orang tua Tomy dipanggil ke sekolah karena anaknya terekam kamera CCTV mencuri uang kantin, marahnya bukan main sang ayah dan ibu tomy ” Untuk apa kamu mencuri uang kantin, untuk beli mainan, kartu-kartu yang tidak berguna itu, atau uang jajan yang ayah beri tidak cukup!!!!!!! “ kata sang ayah sambil melambaikan tangannya ingin menampar si tomy. Sambil menangis tersedu-sedu tomy menjawab ayahnya ” ayah maafkan tomy, tomy tidak perlu uang itu, juga maina-mainan itu dan juga uang jajan itu tapi aku perlu uang itu untuk membeli waktu ayah dan ibu agar bisa hadir di pentas dramaku. aku sudah menjual semua mainanku dan aku tabung uang jajan dan transportku tapi belum cukup juga untuk membeli satu hari saja waktu ayah dan ibu.” Sambil terus menangis tomy menyerahkan kembali undangan itu ke ayahnya, ayah dan ibunya terdiam dan tiba-tiba berlinang sir matanya lalu memelu tubuh tomy yang masih terisak-isak karena tangisnya. ” maafkan ayah nak, selama ini ayah tidak ada waktu untuk kamu. tapi ayah janji ayah akan datang di hari pentasmu nanti bersama ibumu ” kata ayah tomy yang tentunya sangat membuat senang hati tomy.

Akhirnya pentas dramapun dapat dihadiri oleh kedua orang tua tomy, dan di akhir cerita tomy menambahkan kata-kata yang di tujukan ke kedua orang tuanya.

                                                   ” Setiap anak mempunyai mimpi, dan mimpiku adalah ayah dan ibu selalu ada waktu untukku, selalu memperhatikanku, selalu menilai hasil ulangganku, selalu membelai rambutku…….aku rindu ayah ibuku…..aku rindu mereka memanjaku, aku rindu ia membanggakanku………”

Pentas drama ditutup dengan tepuk meriah para penonton yang diiringi haru karena kata-kata Tomy itu.

#Edmon : Realita kota metropolitan

Advertisements

4 thoughts on “Membeli Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s