Memilih jodoh

Sepuluh tahun yang lalu, ada seorang sahabat muslimah kami datang ke kontrakan kami untuk berkonsultasi dengan kami bahwasanya dia telah dipinang oleh seorang laki-laki muslim namun dalam hatinya masih bimbang dan ragu. Adapun keraguannya adalah dikarenakan sang laki-laki itu hanyalah karyawan rendahan dengan gaji Rp 700 ribu sebulan serta dia hanyalah tamatan STM sedangkan sahabatku ini adalah seorang lulusan sarjana komunikasi sebuah PTN di Riau. Dia bingung apakah gaji calonnya itu bisa mencukupi kehidupannya nanti dan apakah pantas seorang sarjana bersanding dengan lulusan STM.

Laki-laki yang melamarnya itu aktif dalam sebuah halaqoh, rajin ibadah dan pandai mengaji maklum orang sukabumi memang pandai mengaji dan rajin ibadah. Lalu kami bilang ke sahabat kami itu untuk menerima lamarannya kalau masalah rejeki itu sudah ada yang mengatur tidak peduli latarbelakang pendidikannya apa dengan mengambil contoh kepada kehidupan rumah tangga kami yang bai-baik saja walaupun ada perbedaan asal pendidikan dan setatus ekonomi, yang terpenting adalah laki-laki itu adalah sholeh dan bertanggung jawab.

Al hasil diterimalah lamaran laki-laki itu dan menikah mereka dua bulan kemudian, pada awal pernikahan dan belum mempunyai momongan sang istri bekerja sebagai guru di sebuah SDIT ternama di kota Pekanbaru namun setelah dua tahun kemudian dia mempunyai seorang anak perempuan yang cantik yang akhirnya membuat sang istri harus berhenti bekerja karena sang suami menuntutnya agar fokus kepada anak dan keluarga. Dari sanalah mulai datang ujian itu, pendapatan suami yang kecil dengan kebutuhan yang bertambah. Sering kali sang istri mengeluhkan nasipnya ke kami namun sebagai sahabat kami selalu membesarkan hati dan menghirburnya. 

Walaupun kehidupan mereka berat, mereka tetap menjalaninya dengan penuh keihlasan.

Suaminya adalah orang yang jujur dan sebenarnya adalah anak yang cerdas sehingga setiap permasalahan mesin-mesin di tempat kerjanya selalu bisa diselesaikan dengan cepat walaupun teman-temannya kesulitan untuk mengerjakannya. Dia juga tidak malas-malasan jika di tugaskan keluar kota berhari-hari dengan meninggalkan keluarganya.

Dari etos kerjanya yang bagus itu ternyata diam-diam sang manager membidiknya untuk promosi, pada suatu kesempatan ada pertukaran magang kerja antara kantor pusat di Jepang dengan Indonesia maka sang manager mengirimnya ke Jepang selama satu tahun. Dan kembalilah cobaan itu datang lagi karena mereka harus berpisah selama satu tahun dan sang suami hanya meninggalkan gaji pokoknya setiap bulan….yah…..Rp 1 juta untuk satu bulan dengan anak satu dan juga masih ngontrak memang berat. Wajar saja dalam satu tahun itu hutang sang istri banyak karena untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Setelah satu tahun pulanglah sang suami dari Jepang, dan kembali bekerja di kantornya semula akan tetapi dengan posisi berbeda. Dulu dia hanyalah seorang tehnisi biasa tetapi sekarang dia adalah seorang project supervisor dengan gaji 4 kali lipat gajinya dulu. Dua tahun kemudian sang suami mendapatkan promosi lagi sebagai mining service project manager yang bertempat di kantor Balikpapan Kaltim dengan gaji 2,5 kali gaji sebelumnya. Dan akhirnya mereka pindah ke kota Balikpapan dan hidup berbahagia disana dengan kedua anaknya.

Dari cerita diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Hanya karena imanlah memilih jodoh bukan karena latar belakang pendidikan dan ekonomi karena kita tidak akan pernah tahu sejatinya orang itu akan menjadi apa di masa mendatang karena masa depan hanyalah Allah yang tahu.

2. Kejujuran, keihlasan dan sabar menerima ujian akan mendapat balasan yang setimpal dari Allah yang maha member rejeki.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup sahabatku ini.

#Edmon : Inspirasi dari seorang sahabat

Advertisements

15 thoughts on “Memilih jodoh

  1. ceritanya bagus dan menginspirasi. nanti tak copas saya taruh di note facebookku nggak apa-apa kan sob? supaya temen-temen fb-ku yang nggak suka ngeblog bisa baca juga. Dibawahnya saya sertakan sumbernya kok.

    Oh ya kak, dulu artikel tentang cinta memerlukan waktu juga saya salin ke note fb-ku. Banyak yang membaca lho ternyata.

  2. Begitulah Allah memilihkan jodoh untuk makhluk-NYA.
    Banyak yang terlena gebyarnya dunia sehingga mengejar yang hebyar-gebyar sehingga menyesal kemudian.
    Terima kasih atas pencerahannya
    Salam hangat dari Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s