Ichwan Abdul Hafidz Adzakhi

Tanggal 22 September 2004, di kota Pekanbaru lahirlah anak ke dua kami, seorang laki-laki yang aku beri nama “Ichwan Abdul Hafidz Adzakhi” sesuai namanya kami mengharapkan bahwa dia kelak menjadi bagian dari hamba Allah, penghafal Al-Qur’an yang terpelihara atas kecerdasannya. Dia lahir dalam kondisi ekonomi kami yang masih susah namun lebih baik daripada waktu abangnya lahir dulu, kami waktu itu masih tinggal di sebuah kontrakan rumah petak yang buruk akan tetapi selama masa hamil dan persalinannya sudah ditangani oleh dokter spesialis kandungan. Hafidz kami memanggilnya, lahir tengah malam sekitar jam 22.00 hari Rabu pahing.

Hafidz kecil bersama abangnya kami besarkan bersama-sama di rumah kontrakan itu, walaupun sederhana kami melewatinya dengan bahagia. Beruntunglah hafidz kecil umur baru 3 bulan sudah ada kesempatan melancong ke Bukit tinggi Sumatera barat karena ada gathering dari kantor aku bekerja. Seperti abangnya, ibunya mulai mengenalkan bacaan ayat-ayat Al-quran pada waktu dia mulai belajar berbicara dan surat Al-fatihah lah yang diajarkan pertama kali oleh ibunya.

Bersyukur kepada Allah, setahun kemudian kami bisa membeli rumah sederhana di kota Pekanbaru dan juga sebuah sepeda motor untuk transportasi aku bekerja. Dan tinggalah kami di rumah itu sampai tahun 2008 yang kami kemudian pindah ke Tangerang karena aku mendapatkan promosi ke kantor pusat Jakarta.

Hafidz kecil tumbuh menjadi anak yang cerdas dan rajin mengaji di masjid bersama abangnya. Dan bahkan mereka berdua adalah pioneer TPA masjid kami dibentuk dan mereka jugalah yang memotivasi teman-teman mainnya untuk pergi mengaji di masjid. Adalah sesuatu yang membanggakan kami tentunya sebagai orang tuanya. Hafidz dan abangnya selalu bangun pagi dan mandi lalu bersamaku pergi sholat subuh, merekalah pengisi shaf anak-anak pertama kali untuk sholat subuh waktu itu yang akhirnya diikuti oleh teman-teman mainnya di kemudian hari.

Hafidz sangat cerdas, pada waktu baru satu semester dia sekolah TK 0 kecil dia sudah bisa membaca dan menulis, dan ketika memasuki semester 1 TK 0 besar dia sudah menjadi asisten gurunya untuk mengajari teman-temannya membaca, selain itu Hafidz juga pandai melukis dari kecil dan dia pernah juara 1 lomba mewarnai antar TK se kecamatan namun gagal di tingkat kabupaten karena tidak bisa berangkat lomba. Sesuatu yang membanggakan lagi bagi kami sebagai orang tuanya.

Saat ini hafidz sudah kelas 3 SD di sebuah SDIT yang jaraknya ada sekitar 3 km dari rumah kami. Hafidz dan abangnya selalu berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepeda dan tidak pernah kami antar jemput seperti teman-temannya, itulah cara kami mendidik kemandirian mereka. Mereka juga tidak pernah jajan di sekolah karena ibunya selalu membekalinya dengan kue buatannya sendiri yang lebih enak dan higienis. Hafidz anak yang pemurah terkadang bekalnya dibagi dengan gurunya atau teman sebangkunya.

Walaupun di beri bekal oleh ibunya, sebenarnya Hafidz juga di beri uang saku namun selalu dia bawa pulang lagi dan dia tabung di celengan kaleng ultramennya. Sedari kecil hafidz selalu menabung dahulu jika menginginkan sebuah mainan yang ia sukai, katika uangnya sudah hampir cukup barulah dia meminta tambah dari ibunya.

Hafidz adalah anak pintar sesuai namanya, dia adalah juara satu di kelasnya dan saat ini dia sudah mampu menghafal lebih dari separuh  Juz Ama. Kami dan guru mengajinya tidak pernah menargetkan tetapi kami hanya secara rutin mengajarinya untuk menghafal ayat demi ayat. Semakin besar kemampuan menggambarnya pun semakin bagus, saat ini dia sudah bisa menggambar kartun yang bagus seperti dragon ball dan ultramen.

Sampai saat ini Hafidz selalu rajin sholat subuh, mahrib dan isya berjamaah di masjid walaupun aku tidak ada di rumah, dan ternyata itu adalah sebuah motivasi tersendiri bagi bapak-bapak di perumahan kami untuk selalu sholat berjamaah di masjid. Sering aku dengar dari tetangga bahwa mereka merasa malu jika tidak berangkat berjamaah di masjid sedangkan hafidz dan abangnya selalu rajin ke masjid walaupun hari sedang hujan.

KAMI SANGAT BANGGA DENGAN HAFIDZ

Selamat ulang tahun “Ichwan Abdul Hafidz Adzakhi” semoga hidupmu selalu dilimpahi keberkahan dari Allah, semoga menjadi anak yang sholeh berbakti kepada orang tua dan rajin ibadah, semoga memiliki kecerdasan yang tinggi dan bermanfaat, semoga bisa menjadi orang besar yang selalu merasa kecil dimata Allah….amien….

Note ;

Hafidz bercita-cita menjadi Polisi, ketika kami tanya kenapa ingin jadi polisi dia menjawab “tugas polisi kan menangkap penjahat, nanti hafidz akan tangkap penjahat itu dan hafidz ajarin ngaji agar tidak jadi orang jahat lagi” . Sungguh luar biasa pemikirannya di usianya yang belia itu.(menurut kami)

#Edi Padmono : Rintihan hati seorang ayah yang tidak bisa merayakan milad anaknya.

Advertisements

2 thoughts on “Ichwan Abdul Hafidz Adzakhi

  1. Selamat milad ya Hafidz, maaf tnt winny terlambat mengucapkannya. Semoga cita-cita Hafidz dikabulkan Allah, kelak menjadi petinggi di kepolisian RI supaya Indonesia punya pemimpin yg shalih, hafidz qur’an dan membawa Indonesia menjadi negeri yg Baldatun Thayyibatun waRabbun Ghafuur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s