Pencari Rumput yg Sukses

Namanya pak Tarmo, tetangga kontrakanku waktu aku masih melajang. Dia adalah seorang pencari rumput untuk pakan sapi potong di daerah Cakung. Istrinya bu sugirah yang hari-harinya berjualan gorengan di pasar cakung. Mereka sangat santun dan baik kepada kami sebagai tetangga kontrakan, kebetulan mereka berasal dari kartosuro sehingga aku sangat dekat dengan mereka. Setiap hari selepas subuh, P’Tarmo membawa gerobak rumputnya ke pinggiran kota yang masih ada semak dan rumput. Di Jakarta tidaklah mudah mengumpulkan satu gerobak rumput, P’Tarmo harus keliling seaharian di pinggir-pinggir kota untuk memenuhi gerobaknya. Setelah penuh biasanya setelah asar barulah hasil diserahkan ke rumah potong hewan dan P’Tarmo dikasih imbalan Rp 20,000,- untuk rumput satu gerobak penuh itu (tahun 1999-2000).

Sang istri setiap pagi dan sore berjualan gorengan di pasar cakung dengan keuntungan bersih 10,000,- sampai 30,000,- tergantung laris atau tidak gorengannya. Walaupun hanya berprofesi sebagai seorang pencari rumput dan penjual gorengan, mereka sangat harmonis dan penuh optimis dalam menjalani hidup. Kami sebagai tetangganya sangat menghormati dan salut akan keteguhan hati mereka, yang kebetulan semua penghuni kontrakan kami adalah pekerja di perusahaan swasta di daerah itu. P’Tarmo adalah satu-satunya warga kontrakan yang berkeluarga, karena memang sebenarnya kontrakan kami khusus ontuk orang lajang.

Suatu sore, aku pulang kerja yang jaraknya memang tidak jauh dari kontrakanku. Di depan kontrakan duduklah sepasang suami istri itu sedang berbincang-bincang sambil bercanda. Dengan senyum yang khas dan logat jawa halusnya mereka menyapaku.

“Baru pulang mas ?” kata P’tarmo

“Iya pak, koq tumben udah seger jam segini ? bapak pulang cepat ya ?” jawabku heran

“Iya mas, tadi nemu tempat yang banyak rumputnya jadi gerobak bapak cepat penuh. oh iya mas kalau bapak mau tanya boleh ?”

“Tanya apa pak?”

“Waktu mau masuk kerja di perusahaan mas syaratnya apa saja ya? sekarang lagi ada lowongan apa tidak ya?”

“oh syarat minimal STM pak jurusan Mesin atau Electro untuk bagian servis tapi kalau bagian kantor biasanya minimal D3 Akutansi, emang kenapa pak?”

“kebetulan anak saya yang paling gede sudah lulus STM jurusan mesin mas, besok mau kesini cari-cari kerja. pengennya sih kuliah mas tapi saya kan seperti ini ya biar kerja dulu lah nanti kalau sudah kerja bisa sambil kuliah”

Saya sangat tertarik sekali, ternyata P’tarmo dengan kondisi seperti itu tetap berjuang menyekolahkan anak-anaknya, ke 4 anaknya dititipkan ke neneknya sementara dia merantau ke jakarta sebagai pencari rumput untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

Hari berikutnya datanglah anak sulung P’tarmo, karena kontrakan mereka sempit maka aku menawarkan agar anaknya tinggal denganku. Setiap malam dia  bercerita tentang kehidupan mereka dan dari situlah aku bisa mengambil kesimpulan betapa hebatnya p’tarmo di mata anaknya. P’tarmo tidak pernah menutup-nutupi pekerjaannya kepada anak-anaknya dan p’tarmo tidak ingin anak-anaknya bernasip sama karena tidak berpendidikan. Aku bawa surat lamaran anak p’tarmo dan aku titipkan ke personalia, dan bulan berikutnya dia sudah bekerja.

Setelah aku menikah dan meninggalkan kontrakan itu, kami putus komunikasi dengan P’tarmo dan anaknya, aku tidak tahu bagaimana anak itu di tempat pekerjaannya karena aku juga sudah tidak satu pekerjaan lagi dengan dia. Hingga sekitar satu tahun yang lalu ada seseorang mengad FB ku dan ternyata anaknya P’tarmo yang saat itu menjabat sebagai SDH (servie departemen head) perusahaan alat berat group ASTRA di site Free port Papua. Kemudian kami berkomunikasi melalui HP dan dia banyak bercerita bahwa setelah lulus OJT dia melanjudkan kuliah sabtu minggu dan lulus S1 teknik mesin, dia juga membantu membiayai adik-adiknya, serta bapak dan ibunya sudah pensiun dari profesinya dan tinggal di kampung halamannya Kartosuro.

——————————————————————-000———————————————————————————-

Dalam kehidupan ini banyak sekali orang-orang hebat, orang yang kuat dan cerdas dalam mensiasati hidup, mereka selalu ingin bertahan dan bertarung mengalahkan sang waktu sehingga akhirnya mereka tampil sebagai pemenang. P’tarmo dan istrinya serta anak-anaknya memang bukan orang terkenal seperti Habibie sehingga cerita mereka tidak dibuat sebuah novel ataupun film. Akan tetapi jika didudukkan bersamama, cerita hidup mereka akan sejajar dan sama hebatnya dengan Habibie. Dan sebenarnya masih banyak sekali cerita orang-orang hebat di dunia ini yang kita tidak pernah mengetahuinya.

#Edi Padmono : Inspirasi dari sahabat sang pencari rumput

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s