Segenggam Setia untuk Pengasong

Disuatu sore seorang wanita muslimah dengan baju gamis dan jilbab lebar duduk di depan kontrakan menunggu suaminya pulang, dia duduk seorang diri sambil mengasah hafalan surat-surat Al-Qur’an. Terkadang dia berdiri dan melihat ke jalan raya dan kemudian duduk kembali, perutnya yang buncit karena ada nyawa baru di dalamnya membuat dia agak kepayahan untuk berdiri dan duduk, dia sedang mengandung tujuh bulan buah cintanya dengan sang suami.“Assalamualaikum ibu….” Setengah jam sebelum mahrib datanglah sang suami dengan pakaian yang lusuh penuh keringat dengan membawa dagangan sisa, beberapa korek gas yang tidak habis terjual di bus kota. Melihat sang suami yang kelelahan seharian mengasong berjualan korek gas di bus kota , dia langsung menyambut suaminya dengan mencium tangan sang suami “Waalikum salam pak….” 

” Surat apa yang ibu baca tadi?” tanya sang suami sambil meletakkan sisa dagangannya di dekat perabotan masak yang berada di teras kontrakan.

” Sudah sampai surat Maryam, diminum dulu airnya pak” jawab sang istri sambil menyodorkan segelas air putih ke suaminya.

” Bapak mandi dulu ya, sudah ibu siapkan airnya di belakang di ember yang tutup hijau” lanjut sang istri sambil menyerahkan handuk ke suaminya.

“Bu, ini uang 15,000 untuk belanja besok ya, alhamdulillah hari ini bapak dapat untung 20,000, yang 5000 untuk makan siang dan beli koran KOMPAS.” kata sang suami sambil memberikan uang dan berlalu ke pemandian umum di belakang kontrakan.

Sang istri kemudian masuk ke kontrakannya yang berukuran 3×3 meter itu untuk menyiapkan makan malam untuk suami tercinta. Setelah selesai mandi sang suami masuk ke kontrakan dan makanlah mereka berdua, nasi putih dengan sayur oyong dan lauk dua potong tempe serta tidak lupa ada lauk yang murah meriah tapi nikmat yaitu kerupuk selalu menemani santapan mereka. Walaupun makananya sederhana dan jauh dari kualitas gizi, namun mereka masih bisa bersenda gurau, sang suami selalu menceritakan liku-liku sebagai pedagang asongan dari bus ke bus, sang istri selalu setia mendengarkan dan kadang tertawa kecil mendengar cerita suaminya yang terkadang lucu.

Setelah selesai makan, mereka berdua pergi ke masjid untuk sholat mahrib kemudian sang istri mengajar TPA sampai sholat Isya. Setelah ba’da Isya sang istri meminta suami mengantarkan ke sebuah kontrakan para pekerja KBN untuk mengisi pengajian rutin mingguan. Sang istri memang suka mengisi pengajian para pekerja KBN dengan imbalan sesukanya, rata -rata mereka patungan 1000 an untuk diberikan kepadanya. Dengan sepeda kebo, diboncenglah sang istri menuju kontrakan di mana akan dilaksanakan pengajian, kemudian mereka melakukan pengajian selama satu setengah jam, sang suami menunggu di luar kontrakan sambil ikut mendengarkan materi pengajian yang disampaikan oleh istrinya.

Setelah selesai pengajian merekapun kembali kekontrakannya, seperti biasa sebelum tidur mereka selalu bercengkrama mesra dan bersenda gurau untuk sekedar menghibur diri atas kesusahan hidup yang mereka alami.

“Bu, maapin bapak ya… tidak bisa membahagiakan ibu” kata sang suami sambil membelai rambut dan mengelus perut istrinya yang semakin besar.

” Ibu bahagia koq, dan adik di perut pasti juga bahagia mempunyai bapak yang kuat seperti bapak” jawab sang istri sambil tersenyum.

“Terkadang bapak merasa tidak pantas mendampingi ibu, ibu baik, rajin ibadah dan hampir hafidz Al-Qur’an, sementara babak hanyalah pedagang asongan”

” Allah tidak akan pernah salah mempertemukan makhluknya pak, dan ibu yakin bapak adalah orang yang hebat”

” Sampai kapan hidup kita akan seperti ini ya bu? bapak heran lamaran kerja bapak tidak ada satupun yang dipanggil”

“Sabar pak, kita sedang di uji dan kita beruntung di uji diawal daripada kita di uji di pertengahan atau diakhir perjalanan hidup kita tentu akan lebih terasa berat, karena ujian Allah itu pasti datang karena Allah telah berjanji di dalam Al-Qur’an bahwa Dia akan menguji hambanya yang beriman”

Lalu sang istri membacakan penggalan ayat dalam Al-Qur’an :

[2:155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Begitulah hari-hari keluarga itu dilaluinya dengan penuh kesabaran dan tawaqal kepada Allah, walaupun sedikit uang yang suami dapatkan sang istri selalu menerima dan mensyukurinya. walaupun tinggal panas dan sempit-sempitan di sebuah kontrakan 3×3 m sang istri selalu setia dan cinta kepada suaminya itu. Hingga suatu hari sang suami beralih jualan minuman exstrajoss ke pelabuhan tanjung priuk, seperti biasa sang istri menunggu kepulangan suami di depan kontrakan, dia berencana akan menyambut suaminya dengan spesial karena hari itu ada surat panggilan test di tiga perusahaan yang testnya akan dilaksanakan besok paginya. Akan tetapi sudah mahrib suaminya sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya, selepas sholat mahrib dia kembali kedepan kontrakan dan mondar-mandir di jalan, sampai jam 12 malam juga belum pulang. Gelisah dan kawatirlah dia, kemudian dia masuk ke kontrakannya untuk istirahat, namanya juga orang gelisah, dia tidak bisa tidur sampai pagi.

Pagi harinya sang suami juga belum pulang, lalu dengan perutnya yang gendut dia berjalan ke terminal tanjung priuk mencari suaminya, dia bertanya kepada semua tukang ojek sepeda dan pedagang asongan perihal keberadaan suaminya, tak satupun orang yang tahu. Dengan tangan hampa, sedih dan sambil menangis dia berjalan kaki pulang ke kontrakannya. Hari berikutnya jam 4 sore sang suami pulang dengan tertatih tatih dan baju compang camping serta bibir yang kering dan badannya teramat lemas. Sang istri langsung memapah suaminya masuk kontrakan.

“Bu, makan…..makan….minum…” dengan lemas sang suami meminta

Sambil menangis sang istri memberi minum dan menyuapi makan suaminya yang kelaparan dan kehausan itu, ternyata suaminya terkena rasia petugas pelabuhan, dagangan dan sepeda kebonya dirampas serta dia dikurung tanpa dikasih makan dan minum selama tiga hari. Setelah fisik suaminya pulih sang istri bercerita kalau sebenarnya kemarin ada test di tiga perusahaan, saat itulah darah suaminya mendidih, mukanya merah membara.

“Dulu aku di palak preman dan di pukuli hingga masuk rumah sakit sampai tabungan kita habis dan kita tinggal di kontrakan yang sempit ini !!! kemarin aku ditangkap KPLP disiksa dan tidak dikasih makan minum dan gara-gara itu aku tidak bisa berangkat ujian..!!!!! nasip apa ini, kurang baik apa aku, apa salahku hingga hidupku tersiksa seperti ini????Anjing saja tidak kesulitan mencari makan…..kenapa aku begitu susah dan susah….!!!!”

……Pruang…….sang suami membanting gelas & piring sambil menangis yah….suaminya yang perkasa itupun menangis, lalu sembari diam sang istri merapihkan pecahan2 beling itu kemudian memeluk kepala suaminya erat2 didadanya seraya berkata ” ……………sabar pak istigfar … ujian ini akan berlalu……………”. kemudian dia melantunkan hafalan surat Al-Baqoroh sampai selesai dan tertidurlah suaminya dalam pelukannya. Pagi harinya sang suami tidak jualan dan hanya membantu sang istri mengerjakan pekerjaan rumah.

Malam harinya sang istri mengeluh perutnya sakit, mereka pikir hanyalah sakit mag dan tidurlah mereka, namun tengah malam sakitnya semakin tidak tertahan dan saat itu sang suami melihat bercak darah, lalu suaminya berteriak “ibu mau melahirkan” lalu dia pergi keluar memanggil becak dan dibawalah istrinya ke klinik bersalin, di klinik langsung diperiksa oleh bidan dan ternyata sudah pembukaan 2. Lalu mereka berjalan-jalan untuk menunggu pembukaan berikutnya, mereka bergandengan erat, seidih, gembira, takut jadi satu. Sesekali sang istri membungkuk menahan sakitnya kontraksi si bayi hingga pagi sekitar jam 6 sudah tidak tertahan lagi lalu bidan membawanya keruang bersalin dan akhirnya hari itu Jum’at 17 – 05 -2002 jam 07.00, lahirlah putra pertama mereka.

Dengan uang pinjaman sang suami menebus istri dan anaknya dari klinik bersalin, dan hidup mereka kini bertambah berat, mereka lalui hari2  bertiga penuh sesak, mereka makan seadanya bahkan kadang dengan singkong rebus dan anak mereka suapin hanya dengan pisang. Kata orang “Badai pasti berlalu”, akhirnya setelah anak mereka berusia 4 bulan sang suami mendapatkan pekerjaan di Kalimantan timur. Ditinggalkanya sang istri dengan anaknya di kontrakan yang sempit itu tanpa sanak saudara, dan selama di Kalimantan timur mereka tidak ada komunikasi sama sekali karena belum adanya alat komunikasi, namun sang istri tetap setia dan setia menungu suaminya, dengan merawat bayinya dia menghibur diri atas segala rindu dengan sang suami. Hingga akhirnya setelah tiga bulan bekerja, pulanglah sang suami dengan segenggam harapan baru, dengan pekerjaan tetap kehidupan mereka menjadi lebih baik. Karir sang suami tahun demi tahun menanjak dan akhirnya kini mereka menjadi keluarga yang mapan namun tetap bersahaja dan tidak pernah melupakan masa lalunya dan juga teman-temannya  pengasong dulu.

Untuk Mbak Uniek dan Suami, selamat merayakan ulang tahun pernikahan. Semoga langgeng terus dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah…Amin

Kisah  ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary by Heart of Mine.

#Edi Padmono : Kenangan pahitku sebagai pengasong

Advertisements

14 thoughts on “Segenggam Setia untuk Pengasong

  1. kisah yang sarat dengan usaha, perjuangan, dan doa.

    semoga terwujud cita-cita seperti yang tertulis di header blog ini.

  2. salam kenal mas….perjalanan hidup yang luar biasa…tapi kita semua memang harus yakin, kalau Allah SWT tidak akan menguji umatnya melebihi kekuatan kita…sungguh saya banyak belajar membaca cerita mas Edi..semoga diberkahi Allah SWT selalu ya mas…salam untuk keluarga..

  3. Aduh mas…sukses deh ceritanya bikin aku nangis bombay… ini beneran pengalaman sendiri? aku jadi pengen meluk istrimu mas, hebat & sabar bgt deh. Salut buat kalian berdua, semoga Allah senantiasa melimpahkan rezeki, kebahagian, kesehatan utk seluruh anggota keluargamu amiiinnn 🙂

    • Kami hanyalah satu diantara orang orang yg diberi kesempatan melewati ujian dan alhamdulillah kami lulus. Saya sendiri kalau mengingatnya masih menangis dan anak pertama saya itu adalah pengingat hidup yg membuat saya tidak mungkin melupkan masa masa sulit itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s