Jangan Menunda Kebaikan

Pada bulan Ramadhan kemarin, kami pengurus masjid mengadakan rapat dan hasil rapat diputuskan bahwa masjid akan membangun sebuah menara untuk pengeras suara mengingat pengeras suara masih menggunakan tiang yang terbuat dari pipa. Cukup beralasan ide itu karena pengeras suara sering troble dan waktu memperbaikinya penuh resiko karena harus memanjat tiang setinggi 15 meter itu. Kemudian dianggarkan pembangunan akan memakan biaya ±100 juta dan dana kas masjid tinggal 25 juta maka diputuskan akan menarik iuran suka rela kepada jamaah masjid.

Setelah sampai di rumah aku langsung bercerita kepada istri bahwa aku berniat akan menyumbang pembangunan menara masjid. Aku masukan sejumlah uang di amplop untuk sumbangan, waktu itu dua hari lagi aku harus berangkat ke kaltim untuk kerja rutinku selama dua minggu. Entah kenapa aku berubah pikiran bahwa menyerahkan sumbangannya nanti saja pas aku sudah pulang dari kaltim sekaligus membayar Zakat, dan uang itu aku serahkan ke istri untuk belanja bulanan dan pergilah kami belanja keperluan bulanan ke mall.

Sepulang dari belanja, anak ke-4 saya tiba-tiba muntah dan buang-buang air, saya pikir masuk angin biasa lalu oleh istri saya perut sikecil dikasih minyak angin dan tidurlah kami malam itu. Dini hari anakku terbangun dan muntah-muntah lagi sampai pagi, saya kebingungan lalu jam 8 pagi aku bawa periksa anakku ke rumah sakit dan pihak rumah sakit meminta untuk dirawat. Aku masih belum percaya dan aku minta resep obat saja, dokter mengijinkan kami pulang akan tetapi kalau sampai jam 4 sore belum ada perubahan maka harus segera masuk rawat inap. Ternyata betul kata dokter anaku semakin lemah dan akhirnya aku bawa lagi ke rumah sakit untuk di rawat. Akhirnya aku mondar mandir rumah dan rumah sakit karena aku tidak mempunyai PRT sementara anaku masih kecil semua. Aku meminta ijin ke atasanku untuk di mundurkan jadwal kerjaku dan dia menyetujuinya, karena saking sibuknya aku lupa mengurus tiket pesawatku sehingga terpaksa hangus.

Copy of IMG_20130717_185306Setelah dirawat selama 4 hari akhirnya anakku diperbolehkan pulang, karena dia adalah anak ke-4 maka perusahaanku tidak menanggung biaya rawat inapnya dan aku harus mengeluarkan dari kantong sendiri. Karena kondisi anak sudah setabil lalu aku membeli tiket pesawat untuk berangkat ke Kaltim tidak disangka semua sold out, dan ketika muncul kursi satu satunya walaupun dengan harga tinggi (1,3 juta rupiah) aku membelinya. Berangkatlah aku ke bandara Soeta terminal 1A dengan ojek, lagi-lagi aku mendapatkan masalah ternyata terminal keberangkatannya pindah ke 1C dan tidak ada informasi, lalu aku berjalan kaki dari terminal 1A ke 1C dan masalah masih membuntutiku, check in sudah close 10 menit yang lalu. Aku marah dan memprotes karena tidak ada informasi bahwa terminal keberangkatan dipindah, debat tidak ada penyelesaian lalu aku mengalah dan beli lagi tiket untuk penerbangan berikutnya denga harga yang sama tetapi pihak penerbangan masih berbaik hati, tiket sebelumnya dihargai separo sehingga aku hanya membayar 700 ribu rupiah.

Penerbangan berikutnya adalah jam 18.30, aku harus menunggu selama 4 jam di bandara. Setelah sholat mahrib aku masuk ruang tunggu dan ternyata delai sampai jam 20.00 dongkolnya bukan maen mau marah marah sama siapa, akhirnya aku pasrah saja, setelah sholat isya aku kembali ke ruang tunggu,  dan 20.30 akhirnya pesawatkupun berangkat. Di dalam perjalanan aku merenung, apa gerangan yang membuatku terlunta-lunta seperti ini, lalu aku membuka Al-quaran terjemahah di HPku, entah kebetulan atau tidak, pas aku buka langsung ke surat Al-Kahfi dan sampailah ke salah satu ayat yang berbunyi:

[18:23] Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi”

Akhirnya aku sadar, bahwa kejadian yang beruntun menimpaku dan keluargaku adalah suatu teguran dari Allah. Bukankah berniat baik saja sudah mendapat pahala, jadi wajar saja kalau Dia meminta untuk segera menunaikannya. Setelah menyelesaikan surat Al-Kahfi akupun berdzikir dan beristigfar memohon ampun kepadaNYa atas semua kekhilafanku. Jam 24.00 aku sampai di penginapan dan langsung menceritakan semua kejadian kepada istriku melalui telphon. Dan aku memberi tahu kepada istri agar segera memberikan sumbangan ke masjid.

Ini adalah pelajaran berharga bagiku, hanya karena menunda hal yang kecil aku mendapat teguran langsung dengan berbagai kejadian yang beruntun. Dan aku juga masih bersyukur bahwasanya aku masih diberi petunjuk untuk instopeksi diri atas kekhilafanku itu, kalau tidak aku pasti tidak berhenti untuk menggerutu, menghujat atau bahkan marah-marah.

Astaghfirullah  ampuni aku ya Allah

#Edi Padmono : Teguran

Advertisements

12 thoughts on “Jangan Menunda Kebaikan

  1. kalimat di dalam ayat tersebut belum sepurna dan dilanjutkan dengan ayat berikutnya. “[18:24] kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”.

    jadi saya pikir boleh mengucapkan tentang apa yang akan kita lakukan di masa depan menyertai ucapan “insya Allah”

    • Setuju mas Rifki, hanya saja kehidupan manusia itu sangatlah dinamis. Jika kita menunda sesuatu amalan bisa jadi kita berubah pikiran nantinya karena kebutuhab yang berubah pula. contoh saja ketika kita akan berinfaq 100rb kita tunda satu minggu pas hari H ternyata terjadi perubahan sehingga kita hanya mengeluarkan infaq 50rb atau malah tidak mengeluarkan sama sekali. Kejadian yang menimpaku itu mungkin sebenarnya juga di alami oleh banyak orang hanya saja tergantung orang tersebut menyadari atau tidak….itu sudah menjadi keyakinan saya mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s