Mendoktrin Anak

Seseorang dengan bangga menceritakan bahwa anaknya sekarang sekolah di sebuah SMA favorit dan mengikuti bimbel yang sangat mahal dengan target bahwa anaknya harus bisa masuk kedokteran di salah satu universitas negeri terkemuka di negeri ini. Namanya juga SMA favorit, jam belajarnya begitu padat dari pagi hingga sore dan menjelang mahrib barulah si anak sampai di rumah, setelah itu dilanjutkan mengikuti bimbel dimalam harinya sehingga tidak ada sedikitpun istirahat untuk si anak. Walaupun melelahkan si anak tetap menjalaninya karena orang tuanya selain mendoktrin target juga disertakan bayangan indah duniawi bahwa jika menjadi dokter kelak maka ia akan menjadi orang sukses dan kaya, serta dalam proses belajar orang tuanya mensuport segala materi yang wah maka jadilah ia seorang pelajar yang keren dan berkelas.

Tidak sedikit orang tua, terutama jika mereka kebetulan bekerja sangat mapan di sebuah perusahaan multinasional, mendoktrin anak-anaknya untuk menjadi sesuai keinginannya tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya si anak inginkan dan cita-citakan. Mereka selalu memberi doktrin dan bayang-bayang bahwa jika jadi dokter maka akan kaya, jika jadi sarjana teknik maka akan bisa bekerja di perusahaan besar dan akan menjadi kaya. Mereka lupa akan tujuan pendidikan yang sebenarnya, bahwa pendidikan bukanlah sebuah alat untuk menjadi sukses dan kaya, yang mereka pikir dan tanamkan kepada anaknya hanyalah bagaimana menang dalam bersaing, mudah mencari kerja, mudah mencari uang dan kaya raya. Maka sudah barang tentu si anak akan tumbuh dengan mengejar mimpi duniawi yang tidak memperhatikan aspek-aspek yang lainnya.

Orang tua boleh saja mengarahkan dan memberikan sebuah gambaran-gambaran masa depan, namun tidak sepantasnya orang tua memaksakan si anak untuk menjadi apa kelak. Secara umum anak mempunyai hayalan dan mimpi tersendiri untuk menjadi apa dan siapa kelak dan itulah yang seharusnya diarahkan dan disuport oleh orang tua. Biarkanlah si anak berkembang sesuai dengan cita-cita dan imajinasinya, dengan demikian si anak akan bisa belajar dengan maksimal.

Ilustrasi : bahteramerdeka53.blogspot.com

Ada sebuah cerita dari saudara jauh saya, bahwa diapun mengalami berbagai doktrin dari orang tuanya agar dia kelak menjadi seorang dokter, padahal impinya adalah menjadi seorang entrepreneur. Dari SD dia sudah dijejali berbagai kegiatan belajar yang sangat berat dan bahkan waktu belajarnya melebihi jam kerja seorang pekerja kantoran yang hanya 8 jam saja. Dan akhirnya berhasilah dia masuk fakultas kedokteran di sebuah PTN favorit, walaupun demikian mimpinya menjadi seorang entrepreneur tidak pernah surut, karena rasa hormat kepada orang tuanyalah dia masuk fakultas kedokteran dan bukan yang lain. Beruntung di kampus dia mempunyai kenalan aktivir Rohis yang mengajaknya untuk bergabung mengikuti kegiatan rohis dan di sanalah dia berteman dengan mahasiswa dari berbagai fakultas termasuk mahasiswa fakultas ekonomi.

Kepada temannya dari fakultas ekonomi dia banyak belajar tentang akutansi, marketing, pajak dan lain sebagainya dan memantapkan dia untuk menjadi seorang entrepreneur. Di waktu senggangnya sebagai mahasiswa kedokteran dia selalu melakukan survey-survey pasar dan mulai berbisnis kecil-kecilan tanpa sepengetahuan orang tuanya, terlebih ketika dia PTT di sebuah daerah dia menemukan peluang bisnis yang menjanjikan di daerah tersebut. Dia meminta uang saku tambahan kepada orang tuanya sebagai modal dan memulai bisnis di daerah itu. Setelah lulus sebagai dokter dia letakan gelar dan ijazahnya di rumah mewah orang tuanya dan berangkatlah dia kembali ke daerah tempat ia PTT bukan sebagai dokter melainkan melanjutkan usaha yang sudah dia bangun.

Jatuh bangun dalam dunia bisnis adalah hal biasa dan tidak menyurutkan tekatnya menjadi seorang pebisnis, dan akhirnya setelah 7 tahun berjalan dia menjadi seorang entrepreneur yang mapan dan menikah dengan seorang gadis di daerah itu. Orang tuanya kecewa tentunya melihat anaknya yang dia idam-idamkan menjadi seorang dokter tetapi menjadi seorang pedagang, akan tetapi melihat keberhasilan usaha anaknya terobatilah kekecewaan orang tuanya.

Kebanyakan orang tua mengkait-kaitkan keberhasilan seseorang dengan pendidikan yang dia tempuh tanpa melihat aspek-aspek yang lain, padahal bukanlah pendidikan yang membuat seseorang itu menjadi berhasil dan sukses melainkan proses belajarnyalah yang membuat keberhasilan dan kesuksesan itu. Tidak ada yang salah seorang anak bercita-cita menjadi pelukis, penyanyi, pemusik, ustad, acounting, engineer, guru ataupun dokter, semua adalah baik dan mempunyai peluang yang sama untuk menjadi sukses.

#Edi Padmono

Advertisements

6 thoughts on “Mendoktrin Anak

  1. Tak jarang pula orang tua merasa berhak ‘menuai hasil’ dari apa yang telah ditanamnya. Padahal memberi pendidikan yang baik pada anak adalah kewajiban ortu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s