“Masuk Neraka Siapa Takut#Membentak Orang Tua”

Dalam segala kondisi apapun orang tua tetaplah orang tua, banyak sekali jasanya terhadap kehidupan kita, entah mereka dalam kondisi kurang mampu ataupun dalam posisi berada. Sungguh menyakitkan bagi orang tua terutama ibu, apabila ada seorang anak yang berani berbicara kasar atau bertingkah laku tidak menyenangkan terhadap mereka. Bagaimana tidak, ibu yang dengan susah payah selama sembilan bulan mengandungnya, menyusuinya, memandikan dan membersihkan kotorannya serta berbagai kesusahan yang dia emban selama kita masih kecil hingga dewasa. Pun demikian dengan ayah, siang malam tidak mengenal waktu membanting tulang untuk menghidupi keluarganya, dia rela berpakaian compang camping asalkan anaknya berpakaian layak, dia rela berpuasa asalkan anak-anaknya tetap makan dan juga dia rela bersusah payah menjadi kuli bangunan, pengasong, buruh tani dan sebagainya agar anak-anaknya tetap bisa melanjutkan sekolahnya.

Adalah Edmon, seorang anak kampung yang lahir dari keluarga kurang mampu dengan enam saudara, ayahnya bekerja sebagai juru ketik di sebuah sekolah stanawiyah dengan gaji 25 ribu sebulan dan 50 kg beras, selain itu ia juga bekerja serabutan dengan imbalan uang yang tidak menentu jumlahnya, ibunya hanyalah pedagang musiman di pasar dengan keuntungan  sekedar cukup untuk belanja sayur sehari-hari, namun demikian ayah dan ibu Edmon menginginkan semua anak-anaknya sekolah agar hidupnya kelak tidak susah seperti yang mereka rasakan. Edmon dan saudara-saudaranya sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba pas-pasan sehingga mengharuskan mereka untuk turut serta dalam mencari rezeki membantu orang tuanya. Edmon dari kelas satu SD sudah harus jualan es lilin keliling kampung sepulang sekolah dengan keuntungan Rp 100 untuk satu termos es lilin, sore harinya Edmon menggembalakan kambing tetangganya serta mencari rumput dengan imbalan ketika kambingnya nanti beranak akan dibagi separo sesuai jumlah anak kambing itu.

Begitulah kehidupan Edmon setiap harinya, sesuai bertambahnya usia, Edmon pun berubah-rubah dalam berjualan kadang es lilin, kadang siomay(penthol) dan terkadang berjualan mainan anak-anak seperti balon dan tembak-tembakan. Pada liburan sekolah akhir semester Edmon tidak berlibur pergi ke kota untuk bertamasya melainkan ikut bekerja sebagai kenek bangunan, kenek truk pasir dan lain sebagainya. Pada waktu sekolah SMA Edmon harus ikut dan bekerja kepada seseorang hanya sekedar untuk tempat berteduh dan makan sehari-hari, beruntung orang yang di tumpangi Edmon adalah orang baik dan menganggap Edmon sebagai anaknya sendiri. Di rumah itu Edmon harus menyapu tiga rumah joglo yang besar pagi dan sore, mencuci dan menyeterika pakaian, menjemur padi dan lain sebaganya.

Begitulah Edmon, walaupun sesederhana apapun dan sealim apapun dia tetaplah remaja biasa yang normal, mempunyai emosi, cinta dan gengsi. Ketika SMA, akhir semester lima, sekolahnya akan mengadakan study tour ke Bandung dan Jakarta selama empat hari dan semua siswa kelas tiga harus ikut karena harus menyusun karya tulis yang di angkat dari tempat-tempat yang dikunjunginya nanti. Biaya per anak adalah Rp 100 ribu dan Edmon pulang ke rumah orang tuanya untuk meminta uang Rp 150 ribu, malang nasip Edmon orang tuanya hanya sanggup memberinya uang Rp 100 ribu itu berarti Edmon harus pergi tanpa uang saku, Edmon emosi, malu kepada teman-temannya apalagi Edmon sudah punya pacar. “kenapa sih aku dilahirkan di keluarga miskin ini…….? teman-temanku semuanya hidupnya enak, sekolah pakai motor selalu membawa uang saku….kenapa aku sendiri yang hidupnya susah….?” dengan kasar Edmon membentak kedua orang tuanya.

Mendengar omongan keras dari anaknya yang selama ini dia bangga-banggakan dan paling dia sayangi, ibu Edmon masuk kedalam biliknya yang bersekat anyaman bambu dan menangis tersedu-sedu. Tangisan ibu Edmon semakin lama semakin menjadi sementara ayah Edmon hanya diam duduk di kursi yang terbuat dari bambu dan Edmon pun diam membisu di emperan rumahnya, dia pandangi rumahnya yang berdinding anyaman bambu yang sudah agak miring karena termakan usia. Tidak lama kemudian ayah Edmon menghampirinya, dengan kedua tangannya dia memegang pipi anaknya serta dengan lembut ia berkata kepada anaknya“Ed….begitukah guru agamamu mengajarkan kepadamu bagaimana berbicara kepada orang tuamu…..?kami memang tidak bisa memenuhi segala kebutuhanmu, akan tetapi tidak sepantasnya kamu berbicara kasar kepada ibumu….!” mendengar kata-kata yang lembut dari ayahnya Edmon hanya diam, lalu perlahan Edmon memberanikan diri menatap wajah ayahnya, wajah yang cekung karena kelelahan membanting tulang, kulitnya yang kurus dan hitam karena selalu berpanas-panasan, tanpa disadari Edmon pun menitikan air mata dan denga nada parau ia berkarta “Maafkan aku yah….aku salah” ayah Edmon memeluk erat anaknya dan dengan nada parau pula ia berkata kepada anaknya “mintalah maaf kepada ibumu, agar dia berhenti menangis…!”.

Foto 0481Seperti inilah rumah orang tua Edmon dulu

Dengan rasa penuh menyesal Edmon masuk ke bilik ibunya, mencium tangan dan memluk ibunya kemudian keduanya sama-sama menangis ” Ibu maafin aku, aku salah, aku sudah durhaka kepada ibu…..” ibu edmon mulai mereda tangisnya, dengan penuh kasih dia membelai rambut anaknya yang masih berada dalam pelukannya ” Ya sudahlah nang, jangan diulangi lagi ya….! hati ibu sakit sekali mendengarnya, sudah menjadi takdir kamu adalah anak ibu yang miskin ini dan itu harus kamu jalani dengan sabar, ya sudah kamu bantu ayahmu mengairi sawah pak Rebo, ibu mau masak oseng buncis kesukaanmu” mereka lalu keluar dari bilik, ibunya pergi ke dapur dan edmon bersama ayahnya pergi ke sawah pak Rebo untuk mengairinya.

Malam harinya, selepas sholat Isya ayah dan ibu Edmon pergi mengelilingi kampungnya, mereka ketuk hampir semua pintu rumah tetangganya untuk sekedar meminjam uang Rp 50 ribu kepada tetangganya yang bersedia bermurah hati. Karena masih dalam misim tanam, tidak ada satupun tetangganya yang bersedia memberikan bantuan kepada ayah dan ibu Edmon, lalu mereka pergi ke kampung sebelah dan langsungmenuju rumah seorang mantri puskesmas pak Bari namanya, dengan maksud yang sama mereka utarakan kepada pak Bari. Pak Bari adalah orang baik yang kebetulan masih saudara jauh ibu, kakeknya adalah kakak dari kakek ibu Edmon. Bersyukur akhirnya ayah dan ibu edmon mendapat pinjaman uang Rp 50 ribu dari pak Bari.

Dari sanalah Edmon semakin mengerti bahwa dalam kondisi apapun orang tua akan berusaha secara maksimal untuk membahagiakan anaknya, walaupun harus menahan malu, walaupun harus bermadi keringat darah sekalipun. walupun orang tua Edmon sudah memaafkannya namun hati Edmon masih merasa bersalah, Setiap waktu Edmon selalu mencium tangan ibunya dan meminta maaf berharap kesalahanya benar-benar dimaafkan oleh ibunya dan dosanya di ampuni oleh Allah. Saat ini Edmon sudah  berkeluarga dan hidup mapan, namun rupanya tidak bisa merasakan kebahagiaan itu karena dia sakit stroke yang sangat sulit obatnya. Walaupun tidak mungkin bisa membalas semua jasa-jasa orang tuanya, Edmon berusaha merawat ibunya dengan penuh kasih, dia mandikan ibunya, membersihkan kotorannya, menyuapinya makan dan semua kebutuhan ibunya dia tunaikan. Edmon beruntung mempunyai istri yang sholehah, yang mau ikut membantu merawat ibunya ketika Edmon sedang berada di luar kota.

Edmon merawat ibunya

“Semoga kesalahan edmon kepada orang tuanya benar-benar dimaafkan dan dosannya diampuni oleh Allah, dan semoga ibu Edmon diberi kesabaran atas sakitnya….Amiin”

“Artikel ini diikutkan sebagai peserta Fiesta TaliKasih Blogger 2013 BlogS Of Hariyanto – Masuk Neraka Siapa Takut!!!??? ”

#Edi Padmono : Kesalahanku

Advertisements

20 thoughts on ““Masuk Neraka Siapa Takut#Membentak Orang Tua”

    • Edmon: Edi Padmono
      Begitulah mas topiq, itu sebabnya saya selalu merasa sedih dan bersalah serta merasa belum bisa membahagiakan kedua orang tua saya. Setiap kali berbicara tentang orang tua terutama ibu saya selalu terbawa emosi dan tidak bisa menahan air mata, termasuk dalam menulis cerita ini.

  1. terketuk hati saya mambaca kisah ini.
    ciri manusia dengan dosa yang dikurangi ketika didunia adalah ketika Yang maha kuasa mendatangkan sakit, diuji kesabarannya namun tetap tabah.

    Rasanya saya tahu bahwa edmon itu pecahan diri anda sendiri ya mas 🙂 ?

    semoga Allah meridhoi jasa dan budi baik mas edi demi mengabdi kepada sang ibu, dan
    Semoga sang ibu diberi kekuatan dan kesembuhan oleh Allah SWT

  2. Syafakillah, semoga ibu njenengan cepat sembuh nggih pak…dan semoga njenengan dan klga selalu di beri nikmat sehat, rahman, ridlo dan berkahNya shg bisa merawat ibu di hari tua nya sakniki, aamiin

    Kisah nya inspiratif pak….maturnuwun sampun berbagi

  3. Begitulah kasih sayang orang tua selalu berusaha yg terbaik utk anaknya, smoga sang ibu pun segera di ber kesembuhan

    “Salam kenal,terima kasih sudah berkunjung sebelumnya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s