Keluarga Adalah Partner

Beberapa waktu lalu saya membaca tulisannya bunda Afin Yulia, disana diceritakan ada seorang suami yang engan melakukan pekerjaan rumah yang mungkin karena malu dan gengsi. Seorang suami yang merasa cukup mencari nafkah saja dan tidak mau membantu pekerjaan istrinya adalah kondisi yang umum saat ini dan banyak sekali teman-teman istri saya mengeluhkannya, apalagi ketika mereka main ke rumah kami dan menyaksikan kami menyuci baju berdua mereka langsung komen “Enak banget ya bu dibantuin suami nyuci, kalau suamiku boro-boro”.

pic1membantu istri mencuci pakaian

Memang betul seorang suami tanggung jawabnya adalah bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, akan tetapi tidak ada salahnya jika sedang libur atau pas ada di rumah juga mau membantu pekerjaan rumah walaupun di rumah sudah ada asisten rumah tangga. Membantu pekerjaan istri itu adalah salah satu tanda dan cara mengungkapkan cinta kepadanya, kenapa harus malu dan gengsi untuk sebuha kata cinta? dan juga suami bukanlah bos dan istri bukanlah anak buah yang harus di suruh-suruh melainkan suami istri itu adalah partner yang saling mensuport antara yang satu dengan yang lain. Selain itu , juga bisa mencontohkan kepada anak-anak agar mau ikut membantu pekerjaan ibunya.

Kami di dalan rumah tangga selalu seperti itu, bekerja sama dalam melakukan pekerjaan rumah. ketika ada di rumah saya selalu membantu mengerjakan pekerjaan istri seperti mencuci pakaian yang tidak bisa dicuci di mesin cuci, mengangkat galon air minum, menganti tabung gas bahkan membantu istri memasak. Kebetulan kami tidak mempunyai asisten rumah tangga, sehingga kami melakukan semua pekerjaan sendiri, untuk itu kami sudah membuat tugas untuk masing-masing anak misalnya anak pertama(11th) tugasnya adalah mengepel, anak yang kedua(9th) menyapu dan anak saya yang ketiga(6th) tugasnya mencuci piring Karena dia perempuan. Bukan memperbudak melainkan untuk mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab dan mandiri. Pekerjaan rumah yang dikerjakan bersama-sama dan terbagi dengan baik akan membuat pekerjaan itu menjadi ringan dan cepat selesai.

Pun demikian tetang hal mengasuh anak, suami istri juga harus bekerjasama dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya, seorang suami dengan ketegasannya akan membuat anak menjadi kuat dan percaya diri, seorang istri yang lembut dan penuh kasih akan membuat anak menjadi orang yang selalu merasa di sayangi. Tidak ada salahnya seorang suami menyuapi makan, memandikan anaknya yang belum mandiri atau mencebokinya ketika dia buang air besar, tidak ada salahnya seorang suami bermain kejar-kejaran dan petak umpet dengan anak-anaknya agar si anak benar-benar bisa dekat dengan ayahnya. Dalam pandangan pribadi saya, sangat begitu menyenangkan apabila saya memamdikan anak saya yang ke empat (2,5 th), menyuapinya makan dan bermain kejar-kejaran dengannya.

Waktu seorang ayah dengan anak-anaknya memang sangatlah sedikit karena setiap hari harus bekerja di luar rumah, dibanding ibunya yang setiap waktu harus mengurusi anak-anaknya, untuk itu bagaimana anak mau mendekat kepada ayahnya jika si ayah ketika ada di rumah tidak mau mengurusi dan mendekat kepada anaknya. Jika mau dihitung dan ditimbang kadar berat ringannya antara mengurus anak dan bekerja mencari nafkah sudah barang tentu jauh lebih berat mengurus anak dibanding bekerja, kalau tidak percaya silakan mencoba seorang ayah menjaga anaknya satu atau dua jam saja pasti si ayah itu sudah mengeluh dan tidak betah atas tingkah laku anak-anaknya.

Mengingat betapa beratnya seorang istri mengasuh anak-anak setiap harinya, maka janganlah ragu, malu ataupun gengsi dalam membantu pekerjaan istri jika ada di rumah. Bukankah ketika baru kenal atau pacaran dulu seorang laki-laki mau melakukan apa saja untuk perempuan yang di cintainya? tetapi mengapa ketika sudah diikat oleh sebuah pernikahan dan berjalan dengan waktu yang lama kebiasaan itu menjadi hilang? apakah seorang suami sudah tidak mencintai istrinya? atau seorang suami telah merasa menjadi raja yang berkuasa dalam rumahnya dan istrinya adalah pembatu yang tidak berdaya karena hidup dari yang dinafkahkannya? “Your wives are your partners, not your servants”ย  begitulah istilah bulenya.

Seorang laki-laki tidak akan menjadi banci ketika membantu istrinya mencuci pakaian, melainkan akan seperti arjuna yang menyayangi subadra. Seorang laki-laki tidak akan merendahkan martabatnya ketika membantu istrinya untuk mengendong dan memandikan anaknya melainkan akan di pandang terhormat oleh anak dan istrinya. Jika seorang suami mau melakukan hal yang demikian wajar saja jika seorang anak mengatakan “aku ingi menjadi seperti ayah” dan seorang istri akan mengatakan ” Terimakasih suamiku, telah sudi menjadi ayah untuk anak-anaku, aku sangat menyayangimu dan aku menjadi sangat begitu berarti jika bersamamu “ .

Mahi ayan 30 Oct 2013

#Edi Padmono

Advertisements

18 thoughts on “Keluarga Adalah Partner

  1. Terharu sekali membacanya.
    Semoga kelak nanti saya menikah dapat pula melakukan seperti yang pernah Bpk ajarkan melalui tulisan ini.
    Rukun selalu, sakinah, dan tentram selalu untuk keluarga ya Pak.
    Salam dari Jember.
    Terima kasih.

  2. Mas Edi saya suka tulisan ini …

    Saya sering mendengar teman berkata … “Aaahhh elu takut sama istri elu ya … mangkanya elu mau ngerjain kerjaan rumah, cuci piring, ngepel setrika … payah lu …”
    Saya geram dengan kata-kata sotoy seperti itu …

    I tell you teman-teman … Seorang lelaki itu baru dikatakan jantan … jika dia sudah bisa dengan lihai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga !!! Mulai dari mbetulin Genteng … masang lampu … sampai ganti popok bayi !!! … itu baru Jantan Namanya …

    Jantan itu bukan … rokoan … cangkruan … baca koran … motoran … atau ngegym … Sama sekali bukan …!!!

    (lho ,,, Om … om .. kok marah-marah disini …)(maaf … maaf ya Mas …)
    Saya suka gemes dengan hal seperti ini …

    Salam saya

    Saya pernah nulis mengenai peran Ayah … disini …
    http://theordinarytrainer.com/artikel/aksi-lelaki

  3. Jujur, suami yang “melemparkan” semua pekerjaan rumah tangga ke istri itu termasuk makhluk yang paling menyebalkan buat saya. Biarpun saya belum nikah, tapi saya bisa lihat tugas ibu2 rumah tangga termasuk berat dikerjakan sendiri. Tangan mereka cuma dua, tapi harus meng-handle berbagai pekerjaan. Kalau suami merasa sudah menafkahi istri lantas merasa berhak menyuruh istri mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, mendingan istrinya jadi pembantu aja, dapet duit!

    Banyak yang berdalih bahwa kalau istri mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga akan mendapatkan pahala. Well, saya belum nemu hadits shohihnya. Tapi, logikanya, suami juga bakal dapat pahal kalau meringankan beban istri. Nggak mesti fifty fifty juga. Bantu-bantu dikit kan bisa. Kalau istri sudah nyuci, suami bantu nyetrika, istri udah masak, suami bantu cuci piring, istri sibuk nyebokin anak yang kecil, suami bantu ngemong yang gede.

    Ah, kalau bahas masalah beginian bawaannya emosi.

  4. Met malam Mas Edi,

    Bagi saya bukan hal yg tabu untuk berbagi pekerjaan rumah dg istri. Saya enjoy melakukannya, istri juga ringan sedikit bebannya.
    Kini saya tinggal jauh dg keluarga. Keluarga di sukabumi. Saya di bekasi, ngekost. Jadi semacam nyuci, nyetrika, nyapu dan ngepel, sebagian yg biasa saya kerjakan saat keluarga di bekasi, menjadi hal yg biasa dilakukan.

    Nah, mari kita tetap mengerjakan pekerjaan2 rumah, mengurangi sedikit beban istri kita. Terkhusus bagi yg tidak punya pembantu rmh tangga seperti saya ini.

    Salam,

  5. Kita” berubah krn terinspirasi dari cerita orang” ya, salut ni nyempatkn diri ntuk tetap blog wlau sda brkeluarga yg super sibuk bda pkerjaan saat bujang ๐Ÿ™‚

  6. salut banget sama bapak satu ini hebat dehh !! alhamdhulilah papa nya Nadia juga suka bantuin aku, terutama yg aku ga bisa ngerjain. indahnya keluarga kalo mau berbagi tugas ya pak ๐Ÿ™‚ (

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s