Ihlaslah dalam Pengabdian

Beberapa hari yang lalu ketika saya berangkat kerja ke Kaltim, ada seorang teman bercerita bahwa keponakannya yang masih kelas satu SD mogok tidak mau berangkat sekolah. Keponakannya ini tidak mau berangkat sekolah karena di sekolah selalu di hukum oleh gurunya, dia dihukum karena belum bisa membaca. Kemudian saya jadi teringat cerita anak saya yang pertama ketika kelas satu SD, bahwa temannya juga sering dijemur di lapangan upacara gara-gara tidak mengerjakan PR. Saya jadi berfikir ada apa dengan guru-guru itu, bukankan tugas mereka adalah mendidik muridnya? Jika si murid belum bisa atau kurang lancar membanca, guru harus membantu mengajarinya sehingga si murid lancar membaca. Dan jika si murid belum mengerjakan PR mungkin saja dia tidak tahu kalau ada PR namanya juga anak-anak usia 6 tahun.

117533082005parent-child-reading

Terkadang memang aneh dunia pendidikan di negeri ini, bukan menyalahkan kurikulumnya tapi cenderung perilaku para pendidiknya, di dalam kurikulum PAUD ataupun TK jelas-jelas tidak diperbolehkan mengajarkan anak tentang baca tulis dan berhitung akan tetapi mengapa ketika akan masuk SD justru di test untuk baca tulis dan berhitung? Memang pada akhirnya banyak guru-guru TK itu yang mengajarkan membaca, menulis dan berhitung kepada muridnya namun wajar saja ketika menjelang masuk SD si anak belum begitu lancar  dalam hal itu dan seharusnyalah guru-guru SD melanjutkan mengajari membaca, menulis dan berhitung kepada anak-anak itu bukan malah menghukumnya.

Seseorang yang sudah mau terjun menjadi guru, haruslah penuh keihlasan dan sabar dalam melaksanakan pekerjaannya walaupun dia bukanlah lulusan fakultas pendidikan dan bekerja menjadi guru karena tidak mendapat pekerjaan lain. Apalagi jika guru itu di tugaskan di tiga bangku pertama SD yaitu kelas 1, 2 dan 3, guru harus benar-benar sabar dan ihlas dalam mengajar anak-anak yang masih polos yang mungkin agak nakal dan hyperaktif. Pada tahapan ini seorang guru harus benar-benar bisa menjadi orang tua dan teman bagi si murid, memang tidak sebanding antara guru dan jumlah murid tetapi disinilah tantangannya sebagai seorang guru.

Saya masih ingat dengan kesabaran dan keihlasan guru-guru saya dulu, ketika saya masih kelas satu SD, saya adalah anak yang mempunyai kesulitan dalam membaca. Ibu Tatik umul suyati namanya, beliau begitu sabar mengajari saya membaca. Ketika masuk caturwulan ke 3 semua teman-teman saya sudah bisa membaca semua, akan tetapi saya masih juga belum bisa membaca dan ibu Tatik semakin sering mengajari saya membaca bahkan ketika waktu istirahatpun beliau menyempatkan mengajari saya dan seingat saya belum pernah sekalipun ibu Tatik menghukum saya. Dulu pelajaran memang belum sekomplek sekarang sehingga walaupun belum bisa membaca sayapun tetap naik ke kelas dua. Di kelas dua ibu Tatik menitipkan saya ke pak Sarwo yang kemudian melanjutkan mengajari saya membaca, pak sarwo walaupun seorang laki-laki, beliau juga sangat sabar dan ternyata beliau mempunyai trik yang jitu dalam mengajarkan membaca, alhasil di akhir caturwulan satu saya sudah mulai bisa mengeja dan akhirnya lancar membaca.

Guru adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia, dari merekalah seorang manusia bisa membuka cakrawala dunia, bereksperimen, menulis sebuah buku, pengembangan dunia IT dan lain sebagainya. Ketika murid-muridnya menjadi orang yang hebat, sukses dan kaya raya, mereka tidak mendapat sesuatu apapun dari muridnya itu kecuali kebanggaan. Maka pantaslah jika guru itu disebut sebagai seorang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” namun demikian pada setiap diri seseorang, entah diakui atau tidak pasti dia akan selalu ingat terhadap jasa guru-gurunya.

Jadi bagi anda yang tidak pernah bercita-cita untuk menjadi guru namun terpaksa menjadi guru, rubahlah paradigma keterpaksaan itu menjadi sebuah keihlasan yang bertanggungjawab atas sebuah profesi, luruskan niat untuk ibadah, dengan demikian anda akan merasa ringan dalam mengemban tugas untuk mencerdaskan anak bangsa. Bayangkan ketika suatu saat nanti namamu di kenang oleh seorang presiden, ilmuwan,  dokter dan mungkun juga oleh seorang jendral. Tentu seorang guru akan merasa bangga melihat para muridnya yang hebat bukan ? Seseorang tidak akan sukses dan hebat tanpa peran serta seorang guru.

Advertisements

10 thoughts on “Ihlaslah dalam Pengabdian

  1. Semoga yang berprofesi sebagai guru, dapat menajdi orang yang menjadi suri tauladan bagi setiap siswaya untuk tetap dapat di gugu dan ditiru, dalam hal ini sangat tidak mudah untuk ditemukan, namun bukan berarti tidak ada.

    Salam,

  2. ya, begitulah guru-guru di indonesia klo ngajar tapi jika ada seorang anak yang ngga bisa baca, ngga ngerjain tugas malah dihukum yang tidak mendidik dan ini sangat di sayangkan jika diterusin oleh generasi berikutnya.

    salam

  3. Baca ini jadi inget guru SD kelas 1 saya. Beliau yg sabar mengajari saya mulai dari cara memegang pensil yang benar. Ah iya, zaman dulu itu belum lumrah TK. Jadi kelas 1 SD masih sangat asing dgn alat tulis menulis, berbagai huruf dan angka.

    Saya terpesona dgn aktifitas mengajar ini. Walau saya bukan guru, hanya pekerja pabrik, tapi sering juga berbagai ilmu dan pengalaman. Saya biasa sbg trainer di pabrik. Bahagia rasanya kalo apa yg diajarkan itu dapat diimplementasikan di area kerja peserta trainer itu.

    Salam,

  4. Jadi ingat adik saya,,krn dulu waktu kecil sulit sekali diam di kelas,akhirnya sama gurunya diikat kakinya dg bawah bangku,waktu kls 2 SD 😦
    seharusnya anak2 mendapat pendidikan yg fun,bukan hanya sekedar dijajalkan teori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s