Kisah Cinta Marni

Seorang gadis kecil berkulit gelap merantau ke kota setelah lulus dari madrasah stanawiah di kampungnya, kehidupan keluarganya yang kurang mampu di perkampungan transmigran yang masih jauh dari kemajuan membuatnya harus membunuh cita-citanya dan mencari kerja di kota. Marni namanya, anak keturunan jawa tapi lahir di sumatra, tubuhnya yang kurus dan perawakannya yang mungil tidak mengurangi kelincahannya dalam bekerja seperti membonceng berkilo-kilo getah karet dengan motor butut orang tuanya karena memang sejak kecil dia sudah ikut menderes, mengumpul dan menjual karet ke koperasi. Kehidupannya di pelosok kampung trans yang bernuansa jawa-melayu membuatnya sedikit religius walaupun hari-harinya penuh keringat membantu orang tuanya, dia rajin sembahyang dan mengaji di surau yang kecil dan terbuat dari papan kayu di kampungnya, yang memang anak-anak dan orang dewasa di kampung itu terbiasa akan hal itu.

Hampir setiap anak di kampung itu selepas madrasah stanawiah, mereka merantau ke kota untuk mencari kerja dan kebetulan banyak orang kota yang mencari tenaga kerja di kampung itu, ada yang depekerjakan sebagai PRT, penjaga toko, pelayan restoran atau OB di sebuah mall. Dan Marni dijemput oleh keluarga seorang kepala desa untuk dijadikan PRT nya yang kebetulan istri kepala desa itu hamil muda yang ke dua sehingga tidak ada yang mengantar jemput putri pertamanya sekolah. Bekerjalah Marni di rumah kepala desa itu, dia mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti belanja, memasak, mencuci, menyeterika, membersihkan rumah dan tentunya mengantar jemput Shanti putri pertama sang kepala desa. Istri kepala desa itu hamilnya sangat payah dan mabuk berat sehingga Marni benar-benar harus extra keras bekerja di rumah itu, belum lagi di tambah harus mengajari Sinta mengaji dan membantu mengerjakan PR sekolahnya.

Setelah sembilan bulan lahirlah anak kedua sang kepala desa, seorang anak laki-laki yang di beri nama Eci, malang memang nasip Eci hanya mendapatkan ASi selama satu bulan, ibunya sakit keras dan dirawat di rumah sakit sehingga tidak bisa menyusuinya. Marnilah yang mengurus Eci yang malang ini dan bertambahlah kesibukan si Marni, namun dia sudah terbiasa dengan bayi dan anak-anak sehingga dia sangat pandai mengurus bayi malang itu. Setelah sekian lama ibu si bayi dirawat di rumah sakit sakitnya tidak membaik malah semakin parah dan akhirnya kepala desa itu memutuskannya untuk dirawat di rumah, di rumah Marni jualah yang mengurus istri kepala desa itu dari mandi, membersihkan kotoranya, meriasnya serta menyuapi makan. Hari berganti hari dan bulanpun berlalu, setelah enam bulan menderita sakit yang tidak bertemu obatnya dan pada suatu hari sakitnya semakin parah istri kepala desa ini berbisik kepada suaminya di depan anak-anaknya “biarkan Marni yang mengurus papa, shanti dan Eci” lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan suami dan kedua anaknya.

Setelah ibunya meninggal Shanti jadi murung dan sedih tidak ada tempat dia bermanja dan mengadu, entah karena apa tiba-tiba dia mendekati Marni dan mengatakan sambil berlutut memohon “Mama… biarkan Shanti memanggilmu mama ya biar Shanti punya mama lagi”. Marni dan Shanti memang sangat akrab kerena memang hari-harinya selalu bersama bahkan tidurnyapun satu kamar karena shanti masih takut tidur sendiri apalagi kegemarannya yang sama-sama menyanyi lagu malaysia membuat mereka semakin akrab, tapi Marni tetaplah Marni seorang gadis kampung yang bodoh sehingga dia hanya cengengesan menanggapi permintaan Shanti. Sebenarnya kepala desa itu tidak pernah menyampaikan pesan istrinya kepada siapapun namun entah kenapa keluarganya selalu membujuknya untuk menikahi Marni, alasannya sederhana karena Marnilah yang sudah dekat dan terbukti baik mengurus kedua anaknya terutama Eci yang masih bayi.

Gengsi dan malu tentunya jika seorang kepala desa harus menikahi seorang PRT nya sendiri, akan tetapi dengan melihat Marni yang begitu baik dan cermat mengurusi kedua anaknya apalagi anak pertamanya Shanti sudah memanggilnya mama dan si kecilpun sudah memulai belajar bicara dan memanggilnya mama pula, hati kepala desa itu mulai tergerak dan simpatik kepada Marni. Hingga akhirnya setelah genap dua tahun usia Eci, pada suatu malam dia memanggil Marni dan kedua anaknya untuk berbicara “Marni hari ini kamu bapak pecat dan besok bapak antar kamu pulang kampung” Terkejutlah Marni dan juga Shanti mendengar kata-kata itu “Apa salah saya pak” kata Marni sambil menangis dan memeluk Eci yang sudah terlelap tidur, “Iya pah….. apa salah mama…?biarkan mama di sini pah….” Shanti pun juga menangis dan merengek mengiba kepada papanya, kalian semua salah dan ini adalah hukumannya, sekarang siapkan baju kalian untuk besok kita berangkat mengantar Marni ke kampungnya” kata kepala desa itu denga angkuh.

Esok harinya menjelang mahrib sampailah kepala desa dan anaknya beserta Marni di rumah kayu orang tua Marni yang tentunya sangat kaget karena tidak ada kabar sebelumnya. Setelah beramah tamah mereka pun sholat Mahrib dan kemudian makan seadanya, Marni masuk ke dalam bilik untuk menidurkan Eci dan disusul oleh Shanti yang sangat takut kehilangan seseorang yang telah dia panggil mama ini. Setelah berbicara panjang lebar sang kepala desa pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada orang tua Marni “begini pak, maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk meminta Marni dari bapak untuk menjadi mamanya Shanti dan Eci, saya ingin menikahinya” kata kepala desa itu denga tegasnya. Bagai disambar petir seluruh penghuni rumah kayu itu terkejut termasuk Shanti yang langsung memeluk Marni dengan bahagia. Orang tua marni tidak percaya akan keseriusan maksud sang kepala desa akan tetapi setelah menjelaskan panjang lebar termasuk menceritakan wasiat mendiang  istrinya dan juga dukungan Shanti akhirnya orang tua Marni mengabulkan permintaan kepala desa itu yang kemudian menikahkannya satu bulan kemudian.

Begitulah perjalanan hidup Marni seorang gadis perkampungan trans yang gelap kulitnya, tidak cantik dan tidak berpendidikan yang kemudian menjelma menjadi seorang ibu kepala desa. Kini keluaraga kepala desa itu kembali lengkap dengan hadirnya Marni sebagai istri syah papa Shanti dan Eci.

Bersambung ke sini

#Edi Padmono : Kisah sahabat

Advertisements

14 thoughts on “Kisah Cinta Marni

  1. Pingback: Ujian dan Kesetiaan | Menuju Madani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s