Ujian dan Kesetiaan

Setelah beberapa bulan menikah Marni pun hamil, mereka sekeluarga sangat bahagia dengan kabar itu terlebih si shanti yang berharap adiknya kelak adalah perempuan. Namun mereka harus berhemat karena masa jabatan suami Marni sebagai kepala desa tinggal dua tahun, suaminya harus mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan baru atau mencalonkan diri menjadi kepala desa lagi. Beruntung rumah mereka di sebuah perumahan sederhana di pinggiran kota telah jadi dan bisa dihuni walaupun jaringan listrik belum masuk, memang setiap perumahan di kota itu memerlukan waktu dua sampai tiga tahun untuk mengantri pemasangan jaringan listrik. Pindahlah marni sekeluarga ke rumah barunya dengan penerangan genset yang mereka hidupkan hanya malam hari dan kalau ada kebutuhan menghidupkan pompa air atau menyeterika pakaian. Rumah yang besar di tengah kota mereka kontrakan, dengan demikian mereka dapat tambahan tabungan dan operasional keluarga menurun.

Bisa dibayangkan tingal dikota yang dilewati garis katulistiwa tentunya sangat panas tanpa listrik, apalagi bagi orang yang sedang hamil tentulah akan sangat terasa.  Walaupun sedang hamil Marni tetap melakukan pekerjaan rumahnya sendiri tanpa seorang PRT termasuk mengantar jemput anak tirinya Shanti sekolah dengan mengendong Eci, Shanti yang sudah SMP sedikit banyak sudah membantunya seperti mengepel sepulang sekolah dan menyeterika. Walaupun hanya ibu tiri, Marni dan anak-anaknya sangat akur dan bahagia sehingga kepala desa itu tenang bekerja ataupun pergi ke luar kota. Setelah sembilan bulan lahirlah bayi Marni yang ternyata tidak sesuai harapan Shanti yaitu bayi laki-laki lagi, bayi itu lahir dua minggu setelah kelahiran puteriku Ghina sehingga Shanti tidak terlalu kecewa karena rumah kami memang berdekatan. Bayi Marni diberi nama Rafid, yang ternyata bayi itu membawa keberuntungan tersendiri yaitu hari itu juga listrik sudah menyala di perumahan itu.

Hidup tidaklah selalu datar dan pastilah akan ada ujian. Kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, Permasalahan sengketa lahan HTI (hutan tanaman industri) di desa dibawah kepemimpinan suami Marni dengan perusahaan kertas besar di kota itu mencuat kembali dan suami Marnipun ikut deperkarakan ke pengadilan atas pembagian lahan HTI itu kemasyarakat oleh kepala desa sebelumnya sementara waktu itu dia baru menjadi staff desa. Putusan pengadilan pun memenangkan perusahaan kertas tersebut, kelompok suami Marni divonis bersalah dan diganjar hukuman penjara, suami Marni mendapat hukuman paling ringan yaitu 2 tahun penjara. Nasip yang sangat tragis dan menyedihkan apalagi ketika suami Marni dijemput kerumah oleh aparat untuk dibawa ke penjara, jangankan keluarganya kami yang hanya sebagai tetangganya sangat sedih dan ikut menangis melepasnya. Marni hanya bisa menangis sambil memeluk ketiga anaknya ketika suaminya berpesan kepadanya “mama…tolong jaga anak-anak papa” kemudian berlalu menaiki kendaraan penjara dengan tangan terborgol.

Hari-hari rumah itu diliputi kesedihan terutama Shanti yang sangat terpukul karena berita papanya dimuat di koran waktu itu, namun atas bujukan mamanya dan kami sebagai tetangganya membuatnya mau sekolah lagi seperti biasa. Tanpa penghasilan Marni harus menghidupi sendirian anak-anaknya dan juga harus membayar kredit mobil yang tinggal empat bulan lagi, akhirnya Marni mengambil tabungan dari hasil sewa rumah dan dia lunasi cicilan mobilnya. Habislah uang Marni tapi hidup harus tetap berjalan, setiap hari harus makan dan anaknya harus tetap sekolah. Marnipun memutuskan untuk bekerja serabutan, setiap pagi kedua anaknya dia titipkan kepada kami lalu dia pergi mengantar Shanti kemudian dia bekerja mencuci dan menyeterika pakaian ke rumah-rumah di perumahan sebelah yang agak elit, dia pulang ketika harus menyusui anaknya lalu pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Kami sebagai tetangga tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa membantu mengasuh anaknya, berbagi makanan dan terkadang memberi uang saku Shanti ketika ada pelajaran olah raga.

Selain itu Marni harus intensif memberikan uang rokok dan pulsa kepada penjaga tahanan agar mereka tetap bisa berkomunikasi serta harus mempersiapkan upeti ketika akan membesuk suaminya. Hidup Marni sangat berat menjaga amanah suaminya seorang diri, namun dia lalui dengan tabah dan ikhlas, beruntung anaknya Shanti tidak terlalu menuntut untuk uang saku yang berlebih kepada mamanya. Begitulah Marni dengan terseok-seok menjalani kehidupannya sampai akhirnya ketika masa hukuman suaminya berjalan 21 bulan yang mana bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia suami Marni dibebaskan dan mereka dapat berkumpul kembali di rumahnya yang sudah kosong perabotannya karena dijual untuk menutupi kekurangan setiap harinya. Sepulangnya suami Marni dari penjara, keluarga itu mengadakan syukuran sederhana dan mengumpulkan warga perumahan dan di dalam syukuran itu suami marni berpesan kepada kami semua “janganlah pernah berurusan dengan hukum, karena benar atau salah kalau sudah masuk ranah hukum akan masuk penjara dan penjara itu sangatlah menyeramkan serta perlu uang banyak untuk hidup secara aman di sana “. Dengan pulangnya suami Marni bukan berarti masalah selessai, karena masa jabatan kepala desa suaminya telah habis dan dia jadi pengangguran bekas NAPI pula, lalu mereka memutuskan untuk pulang kampung ke asal suami Marni yang juga jauh dari kota.

Di daerah suami Marni baru saja ada pemekaran daerah dengan dibentuknya kecamata baru dan suami Marni magang sebagai staf honorer di sana, berapalah gaji seorang honorer? mereka melewati hidup dengan sangat berat dengan gaji pas-pasan suaminya harus menghidupi istri dan ketiga anaknya, namun suami marni tidak habis akal , dia bekerja sambil menjadi makelar mobil bekas serta jualan pulsa electric. Beruntung sekali suami Marni adalah lulusan S2 administrasi, setelah 1,5 tahun dia mengabdi sebagai tenaga honorer akhirnya ada ujian pengangkatan staff PNS dan dia lolos pengangkatan itu. Kehidupan keluarga itupun perlahan namun pasti mulai merangkak naik, pelajaran yang telah mereka alami membuat mereka selalu bersyukur dan berhati-hati dalam bekerja, selalu berpikir panjang tentang akibat yang akan terjadi jika melakukan pekerjaan secara tidak benar dan profesional. Tahun 2008 kami berpisah karena kami harus pindah ke Tangerang namun karena kami sudah seperti saudara kami tetap menjalin komunikasi dengan baik terutama masalah peluang bisnis. Kini suami Marni sudah berpindah dari staff kecamatan yang masih pelosok ke staff kodya, mereka pun telah kembali menempati rumah yang mereka tinggalkan dulu dan Shanti sudah kuliah di universitas negeri di kota itu serta kedua adiknya sudah kelas tiga dan satu SD.

32bbe-pembantu-rumah-tangga#Edi Padmono: Kisah Sahabat

Advertisements

8 thoughts on “Ujian dan Kesetiaan

  1. Pingback: Kisah Cinta Marni | Menuju Madani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s