Mimpi yang Sirna

“Maukah kamu  menungguku Hasnah?” begitulah pertanyaanku kepadamu ketika kita baru lulus SMA waktu itu.

“Hasnah akan menunggumu mas, disini, di rumah ini, dan janganlah pernah meragukan cintaku mas” kamu menjawabnya dengan serius dan tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.

Akhirnya kita pun terpisah oleh ruang dan waktu mengejar mimpi kita masing-masing, aku meneruskan kuliah untuk meraih cita-cita dan kamu pergi ke pondok pesantren untuk memperdalam ilmu agama. Hubungan cinta jarak jauhpun kita jalani, hanya dengan sepucuk surat atau dengan suara kecil di telphon sebuah wartel kita berkomunikasi untuk bercerita-cerita dan melepas rindu.

Tahun pertama kita masih bisa saling bertemu walaupun hanya sekali ketika liburan semester, dalam pertemuan itu kita melambungkan impian indah bahwa kita kelak akan hidup bersama, dengan perpaduan science dan agama kita akan membesarkan anak-anak kita.

Tahun kedua aku begitu sibuk kuliah dan bekerja, krisis moneter yang melanda negeri ini membuat ekonomi keluargaku terpuruk yang mengharuskanku bekerja untuk tetap bertahan kuliah. Kitapun hannya berkomunikasi dengan surat dan komunikasi telphonpun aku tinggalkan karena begitu mahalnya.

Setelah sekian lama kita tidak bertemu, di akhir semester pertama tahun ketiga kamu datang menjengukku di kosan. Aku sangat kaget bercampur senang bisa bertemu denganmu, kamu begitu cantik dengan balutan baju gamis walaupun badanmu agak kurusan. Matamu tertuju pada gambar rancang bangun buatanku, tanganmu meraba setiap lekuk goresan penaku pada kertas A0 itu.

“Ini tugas akhirnya ya mas?” kamu bertanya dengan lirih kepadaku.

“Ya….dan itu berarti 5 bulan lagi masmu ini akan wisuda dan kamu tahu Hasnah? aku sudah lulus ujian kerja di perusahaan besar di Jakarta, aku akan langsung bekerja setelah wisuda nanti.” jawabku dengan tegas dan penuh semangat. “Awal tahun depan aku sudah bisa melamarmu dan kita akan menikah” tambahku.

Kamu malah tertunduk mendengar omonganku seolah-olah ada sesuatu yang kamu pikirkan, tanganmu berpindah membolak-balik kertas makalah tugas akhirku, pikiranmu seperti kosong.

“Sayang banget ya mas” tiba-tiba kamu berbicara dengan sangat pelan.

“Kenapa Hasnah? kamu kesini mau mau menyampaikan sesuatu?” sahutku yang heran atas sikapmu.

“Ah nggak koq mas, Hasnah hanya ingin tahu kabarmu yang sebenarnya mas, apakah mas benar-benar baik-baik saja dan Hasnah senang mas, bisa mengunjungimu hari ini” jawabmu sambil menunjukan senyum yang asing bagiku, “Mas, bisakah kerumah Hasnah minggu depan?” pintamu kepadaku.

“Ya sudah nanti kalau tidak ada kerja lembur mas ke rumah Hasnah, senyumnya yang betul dong….!” jawabku sambil menghiburmu.

Hari itu aku mengantarmu ke terminal bus, kamu melambaikan tanganmu sampai bus hilang di tikungan jalan.

Aku tidak dapat ke rumahmu pada minggu yang aku janjikan, pekerjaan yang menumpuk dan aku harus bekerja lembur. Sebulan kemudian kamu mengirimkan surat yang aneh “Mas aku mohon datanglah ke rumahku tanggal 12 April 1998” hanya itu yang kamu tulis di dalamnya.

Akupun memaksakan diri datang hari itu, dan ternyata kamu sedang bersanding di pelaminan dengan seorang laki-laki 20 tahun lebih tua denganmu, aku menjabat tanganmu, matamu berkaca-kaca seolah berkata “Maafkan aku mas, terpaksa menyakiti hatimu”

“Tulisan ini diikutsertakan dalam “Birthday Giveaway “When I See You Again” di blog: http://itshoesand.wordpress.com

Advertisements

27 thoughts on “Mimpi yang Sirna

  1. Hiks..hiks.. Tenda biru nya Desi Ratnasari … cerita sederhana yang bikin merinding …. bagus tapi kurang panjang ceritanya, point to point aza … diasah terus bakat menulisnya tapi jangan kisah sendiri mulu, angkat cerita dari dunia khayalan … “Long distance in love just make me crying”

  2. Pingback: List Flash Fiction #BirthdayGiveaway [12/12/13] | Take A Walk

  3. Halo, salam kenal sebelumnya. 🙂
    Ceritanya bagus, cuma mungkin lebih diperhatikan lagi tanda bacanya. Buat flashfiction memang gampang2 susah, tetap semangat ya! Keep writing!
    Terima kasih sudah berpartisipasi.

  4. Oo…oalaaah…
    Sih di eling-eling wae to riwayat jaman semono?..
    Cinta sejati yg bikin sakit ati..hix..hix..
    Salut Mas Bro..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s