Membimbing Anak Secara Online

Kurikulum mata pelajaran SD saat ini memang tidak segampang jaman kita SD dulu, dulu kelas I sampai III hanya diajarkan membaca, menulis dan menghitung sederhana dan baru kelas IV diperkenalkan dengan perkalian, pembagian serta IPA dan IPS. Jika dibandingkan dengan pelajaran kita dulu mungkin pelajaran SD saat ini sudah setara dengan pelajaran SMP bahkan mungkin SMA. Pada awalnya aku kurang begitu memperhatikan ketika anak ku yang pertama masih kelas I sampai III SD karena ibunya masih bisa mengajarinya dan nilai ulangannya pun selalu diatas 90, akan tetapi ketika anak sudah di kelas IV SD ibunya mulai kewalahan untuk pelajaran Matematika dan IPA, setiap kali ulangan harian anak ku selalu mendapat nilai dibawah rata-rata yaitu antara 50 sampai 65, yang akhirnya mengusik rasa penasaranku “masa iya sih Matematika dan IPA itu sulit bagi anak ku”, kemudian aku melihat buku pelajaran matematika dan IPA anak ku, ternyata sangat mencengangkan ku……… pelajaran yang berat menurutku untuk anak kelas IV SD.

IMG_20131116_195303Pelajaran Matematika kelas IV SD bukan lagi hanya penjumlahan atau perkalian dan pembagian sederhana melainkan sudah komplek dan tidak jarang ada soal cerita yang memerlukan analisa soal sebelumnya untuk menghitungnya dan juga hasil perhitungan yang pecahan pastilah sangat menyulitkan anak jika tidak menguasai teknik perkalian dan pembagian yang bagus. Untuk pelajaran IPA bukan lagi tentang tumbuhan dan hewan saja melainkan sudah masuk ke organ tubuh makhluk hidup yang harus dicermati secara teliti nama dan fungsinya, yang seingat ku pelajaran seperti itu adalah pelajaran Biologi kelas I SMA dan itupun banyak siswa yang kurang mengerti akan pelajaran itu termasuk aku.

Mulai saat itu aku mulai mengambil alih peran dalam mengajari pelajaran anak ku dan istriku lebih konsentrasi pada mengajari anak ku yang nomor dua yang masih mudah dalam pelajarannya. Waktu libur ku yang lumayan lama yaitu selama dua minggu membuat aku lebih leluasa dalam mengajari anak pertama ku dalam pelajaran Matematika dan IPA karena memang dia untuk pelajaran yang lainnya mendapat nilai yang bagus yaitu selalu diatas 90. Pada awalnya aku merasa kesulitan mengajarinya, karena aku pikir anak ku tidaklah jauh dariku yang mampu belajar dengan cepat, ternyata tidak anak ku ini harus dengan cara pelan-pelan dan berulang-ulang untuk memahami pelajaran berhitung namun setelah dia benar-benar memahaminya dia mampu mengerjakan berbagai bentuk soal walaupun ada jebakan kalimat dalam soal cerita.

Dua minggu aku ada di rumah dan dengan leluasa mengajari anak ku setiap malam harinya, lalu bagaimana ketika selama dua minggu aku bekerja di Kaltim? Walaupun jauh dari keluarga namun aku tetap menyempatkan komunikasi dengan anak dan istriku dari ruang kamar apartemenku, karena modernnya tehnologi kami bisa tetap saling bertatap muka dan berbicara secara online. Begitu pula aku dalam hal mengajari anak ku, aku selalu menggunakan media online untuknya, membahas pelajaran yang dia anggap susah, berdiskusi dan test pengerjaan soal lalu mengoreksinya. Kebetulan di rumah menggunakan paket unlimited dari speedy sehingga kita bisa vidio call secara leluasa, dan apabila gambar kurang jelas karena sinyal ponselku kurang bagus maka aku menggunakan media chating untuk mengajari anak ku caranya dengan meminta anak untuk memphoto soal yang dia anggap susah kemudian dikirim melalui chat kepadaku, lalu aku mengerjakan dengan uraian yang panjang kemudian aku photo lagi dan aku kirim melalui chat ke dia baru kemudian aku menjelaskan langkah-langkah uraian itu dalam telphon.

Cara yang aku terapkan ternyata efektif dan Alhamdulillah anak ku tidak ketinggalan dalam pelajaran Matematika dan IPA, memang nilainya masih di bawah teman-temannya yang mendapat peringkat kelas, namun bagiku nilai 80 dan 85 itu cukuplah bagus dan aku tetap bangga dengan hasil yang dicapai oleh anak ku ini. Karena memang aku sadar IQ anak pertamaku tidak sebagus IQ anak ke duaku, tapi dia memiliki EQ yang hampir setara dengan orang dewasa sehingga wajar terkadang dia mempunyai empati yang berlebihan. Kini sudah hampir dua tahun aku menggunakan media online dalam mengajari belajar anak, majunya tehnologi dan besarnya kuota internet namun harganya murah membuat keluarga kami terasa selalu berkumpul walaupun terpisah oleh jarak dan waktu.

Bagi anda seorang bapak atau ibu yang anaknya sudah berada di kelas IV SD mulailah peduli pada pelajarannya, jangan hanya mempercayakan kepada guru kelasnya atau guru privatnya karena kemampuan berfikir anak kita itu sebenarnya kitalah yang paling tahu, sehebat dan semahal apapun tempat bimbel atau privat tidak akan seefektif dibanding jika kita sebagai orang tuanya yang mengajarinya. Dan hal demikian juga akan mendekatkan kita kepada mereka sehingga kita benar-benar tahu pertumbuhannya.

#Edi Padmono.

Advertisements

16 thoughts on “Membimbing Anak Secara Online

  1. ALhamdulillah … suami saya jg membina anak saya yang sulung sejak kelas 5 SD. Sekarang si sulung kelas 1 SMP, ayahnya masih konsen membina pelajarannya. Kalau saya, lebih ke yang kedua yang masih kelas 1 SD.

  2. memang lebih berat. kemarin ngeliat buku copy-an mengenai materi ulangan kelas satu SD yang dimiliki syaikhan (masih TK B), mungkin untuk persiapan. dan isinya… udah macam2… padahal kelas satu zaman saya dulu nggak begitu πŸ˜€

  3. bersyukurlah dengan teknologi komunikasi yang ada di jaman sekarang ini, jika dimanfaatkan untuk hal yang positif tentulah mempermudah kita untuk tujuan tertentu..
    Apa pelajaran-pelajaran tersebut memang sudah pas porsinya untuk mereka yaa..?

    • Sebanarnya otak anak itu mampu menerima apapun yg diberikan kepadanya, hanya saja jatah bermainnya akan berkurang sementara itulah yg akan mengasah eq dan sq nya.
      Khawatirnya anak akan tumbuh menjadi orang pinter tapi tidak bisa bekerja atau beradaptasi dg lingkungannya kelak.

  4. Sama mas, sekarang saya sudah nggak mudeng matematika & sains seiring anak2 yg membesar, jadi dihandle bapaknya. Apapun acaranya bapaknya, kalau anak2 perlu penjelasan ttg pelajaran tsb, acara bapaknya harus ditunda karena anak2 tidak saya les-kan pelajaran. Semua belajar sendiri dirumah, jam sekolah saya anggap cukup. Selebihnya untk bermain. Alhamdulillah si bungsu dr kelas 1-6 juara 1 terus, bahkan nilai matematikanya 10 di rapor. Si sulung selama SD juga juara 1, stlh SMP 10 besar πŸ˜€

  5. Wah, mantap nih Mas. Dgn teknologi segalanya bisa menjadi mudah, seperti yg Mas Edi ceritakan dlm posting ini.
    Semoga anaknya tetap terbimbing walau sedang dalam jauh dimata.
    Sukses selalu Mas.

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s