Mangendalikan Keinginan

Pada suatu hari ada seorang ibu-ibu datang ke rumah, dia adalah ibu dari teman anakku yang duduk di bangku kelas V SD. Setelah cerita panjang lebar, lalu dia menyampaikan maksudnya bahwa dia ingin meminjam uang kepada istri ku sebesar 7 juta rupiah, dia beralasan ayahnya sedang dirawat di rumah sakit dan harus operasi dengan biaya 40 juta rupiah. Dia berjanji akan mengembalikan bulan depan karena dia akan mendapat arisan RT. Istriku tentu saja kaget mendengarnya, karena istriku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak mempunyai penghasilan selain pemberian suaminya. Lalu istriku menjawab bahwa dia tidak bisa membantu karena memang istriku tidak memegang banyak uang selain uang belanja dan uang saku anak-anak.

Kemudian ibu-ibu ini mengiba kepada istriku dan memohon agar menyampaikan maksudnya itu kepadaku, kemudian setelah aku pulang dari masjid istriku pun menyampaikannya kepadaku. Terus terang akupun kaget karena uang yang dipinjam itu tidak sedikit (menurutku) dan setahuku arisan Rt kalau di tempatku tidak lebih dari 3 juta rupiah, kemudian saya berfikir nilai sebesar itu kenapa bukan suaminya yang mencari pinjaman karena suaminyalah yang bekerja dan lebih bertanggungjawab. Kemudian aku memberi tahu ke istri agar disampaikan kepada ibu itu bahwa suaminya yang harus datang meminjam kepadaku (memang terlalu lebay tapi ini adalah berdasar logika ku yang menurutku benar alurnya).

Istriku pun menyampaikan kepada ibu itu namun ibu itu malah marah-marah kepada istriku “kalau tidak mau kasih pinjam ya sudah bu, ga usah melibatkan suamiku” kata ibu itu, karena maksud baiknya berujung kemarahan maka istrikupun pergi meninggalkan ibu itu. Dua bulan kemudian suami ibu itu datang kerumah diantar oleh salah satu teman istriku, kedatangannya sama dengan dia mendatangi beberapa teman dekat istrinya yaitu bermaksud menanyakan apakah istrinya mempunyai sangkutan hutang atau tidak. Suami ibu itu bercerita bahwa dia telah memulangkan istrinya ke orang tuanya untuk menghukumnya karena sudah dua kali dia terbebani hutang istrinya tanpa sepengetahuan dia dan kali ini tidak tanggung-tanggung beban hutang nya kepada rentenir sebesar 300 juta rupiah, ibu itu ternyata orang yang hobi jajan dan mengkoleksi baju dan tas sehingga hampir setiap hari dia membelinya, karena uang yang diberikan suaminya tidak cukup maka dia meminjamnya dari rentenir.

Ibu itu adalah salah satu diantara orang yang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan, keinginan itu adalah nafsu yang mana jika manusia sudah dikendalikannya maka sudah barang tentu kehidupannya akan tidak sehat secara material dan moral. Contoh diatas adalah contoh kecil seseorang telah melanggar norma-norma agama untuk memenuhi keinginan nafsunya yang tidak bermanfaat sedikitpun dengannya, ibu itu muslimah dan tahu kalau berbohong ke suami itu dosa dan hutang berbunga itu riba, namun godaan nafsunya lebih kuat dibanding dengan harus memikirkan dosa yang dia tanggung. Bukankah seorang istri itu harus bisa menjaga harta suami? selalu menerima dengan apa yang diberikan oleh suami, dan seorang istri harus meminta izin kepada suami jika menginginkan sesuatu walaupun si istri ini mempunyai penghasilan sendiri karena suamilah yang bertanggungjawab penuh dalam keluarga.

Antara pria dan wanita sama saja dalam hal keinginan, namun pastilah keinginan wanita itu lebih banyak dan terkadang memang tidak di sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, banyak wanita yang suka membeli barang hanya untuk status dan kebanggaan, misalnya dia akan malu jika memakai baju yang sama untuk hari-hari berikutnya maka dia membeli yang baru, begitu pula dengan tas dan juga sepatu atau sandal. Sebenarnya tidak ada yang komen terhadap penampilannya yang memakai pakaian atau asesoris yang sama, jadi tidak masalah bukan? akan tetapi ketika dia tampil dengan yang serba baru pastilah dia akan mendapat sebuah komentar “wah bagus ya” dan kemudian yang memberi komentar pastilah tidak memperdulikan lagi, jadi apa yang dia banggakan dengan pujian yang sekedarnya itu?

(Image from the SLS blogspot)

Bagi wanita biasa ia akan mengeksekusi keinginannya itu dengan caranya sendiri yaitu dengan menyisihkan atau memotong uang belanja atau berhutang kepada teman-temannya, namun apabila wanita itu spesial yang tentu mempunyai pesona yang luar biasa maka ia akan menekan suaminya untuk memenuhi segala keinginanya. Seorang suami yang menikahi istrinya hanya berlatar nafsu cinta buta dan keindahan dunia pastilah selalu memenuhi keinginan istrinya itu dan seorang suami yang banyak harta tentu dia akan dengan mudah memenuhi keinginan istrinya, akan tetapi jika ternyata si suami itu tidak bisa memenuhi keinginan istrinya maka sudah barang tentu ia akan menghalalkan segala cara untuk bisa memenuhinya, termasuk korupsi dan lain sebagainya.

Bagi orang yang bijak tentu akan berfikir beulang-ulang sebelum mengambil sebuah keputusan, termasuk dalam hal pemenuhan keinginan dan kebutuhan, keinginan dan kebutuhan itu bedanya hanya tipis dan jika tidak jeli dalam mencermatinya maka kita akan tegelincir pada keinginan nafsu yang jauh dari kebutuhan kita yang sesungguhnya. Jadi kita harus bisa menimbang “apakah keinginan itu sesuai dengan kebutuhan atau kebutuhan kita tercipta dari sebuah keinginan”

#Edi Padmono.

Advertisements

25 thoughts on “Mangendalikan Keinginan

  1. Keinginan n kebutuhan buat perempuan seringkali susah membedakannya pak, termasuk daku hehehe… Aku termasuk org yg ga memang duit di kasih brp pun juga ttp aja abis hiks…. Tp untung lah ga smp ngutang2 gitu ngeerriiiiiii

    • Sudah tiga kali saya menemukan kasus yang serupa, dan inilah yang terparah. Setiap kali mau membeli barang mereka berhutang kepada rentenir yang harus dia bayar setiap hari. 500 ribu dibayar 50 000 setiap hari selama satu bulan.

  2. Betul juga Mas. Seharusnya memang kebutuhan yg diutamakan kemudian baru keinginan. Itupun harus dikendalikan. Banyak rayuan memang, seperti iklan di berbagai media yg setiap waktu menyerbu.
    Salut dgn tulisan Mas Edi yang detil dan runtut seperti ini…

  3. Na’udzu billah ya Mas semoga saya tidak termasuk istri seperti ini. Saya pun tidak ingin menjadi begini. Tapi memang ada lho jenis istri2 seperti ini bahkan ada sahabat saya juga yang begini. Terpaksa bohong sana sini untuk menutupi hutang yang juga sana sini. Suaminya gak tehu “sepak terjangnya” di luar. kasihan suami saya. Ada juga yang nyaris diceraikan oleh suaminya, kalo gak ingat anak sudah dicerikannya istrinya. Tapi istrinya gak kapok2 terus saja melakukannya padahal suaminya orang mampu sebenarnya cuma keinginan istrinya berlebihan.

    Mudah2an kita dilindungi dari hal2 begini ya mas

  4. semoga saya dijauhkan dari sifat seperti itu.
    kasus seperti ini juga menimpa keluarga kakak saya. alhamdulilah sekarang istrinya ud mulai berubah stlh melewati masa2 tersulit di pernikahan mereka.
    saya juga suka mengoleksi tas dan sepatu. tapi semenjak menikah dan menjadi full housewife, saya mengurangi semuanya. saya belajar utk menjadi manejer keuangan yg handal. jk saya ingin beli barang, saya menyisihkan dari uang jatah bulanan untukku.

    eniwei, mksh ya mas komen di blogku. bkin saya terpacu untuk mandiri dalam traveling berdua ma Athar lagi.. hehehe

    salam kenaal ^.^

  5. Aku setuju dengan tindakan mas, Edi. Bank aja selalu minta suami istri untuk tanda tangan berdua jika berhutang. Hutang harus diketahui suami istri agar diketahui penggunaannya & sama2 bertanggung jawab. Apalagi uang yg ada di istri adalah nafkah dari suami, sudah sewajibnya minta ijin pada pemberi nafkah. Kalau menolak logika itu berarti ada yang tidak beres. Salut deh sama istri mas Edi yang tegas 🙂

  6. Ibuku juga pernah ngalamin nih. Ada orang pinjam uang tanpa sepengetahuan suami. Bedanya, ibuku kasih pinjam. beberapa bulan kemudian beliau malah memfitnah ibuku. Aku yan nggak terima langsung lapor ke suaminya dan suaminya kaget istrinya kayak gitu. jadi curhat nih 😀

  7. Tindakan sikap keras dalam mendidik juga harus di perlukan dalam menghadapi hal seperti ini. Dan bila kembali kepada agama hal seperti ini sudah banyak contoh dan diberitahu, tinggal suami bisa tegas atau tidak. Karena siapapun tidak akan pernah mau memelihara api neraka dalam rumah tangga kali ya Kang. he,, he,, he,,,, jadi jawabannya ya……… (kalau sudah sifat ya susah Kang) he,, he,, he,,,,

    Salam,

  8. waktu masih tinggal di Bandung, pernah ngalamin juga didatangin ibu2 tetangga yang pinjam uang. Mendesak terus, tapi saya nggak boleh datang ke rumahnya. Tenyata ia banyak berhutang jg kpd tetangga lain dan ini semua ia sembunyikan dari suaminya yg katanya pemuka agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s