Pandai Bersyukur

Seorang pemuda dengan tekun mengais rizkinya setiap hari dengan menarik becak, karena kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan ia tidak meneruskan sekolah setelah lulus dari bangku SD. Hasil menarik becak tidaklah menentu, apalagi penarik becak di komplek itu lumayan banyak sehingga mereka harus bergiliran ketika ada penumpang yang meminta jasa mereka. Sungguh murah bayaran yang diperoleh dalam sekali mengantar penumpang, hanya Rp 3000,- untuk jarak yang cukup jauh sekitar 2 km. Tidak terlalu banyak yang dia dapatkan setiap hari dari menarik becak, hanya sekitar Rp 20.000,- sampai Rp 40.000,- dan masih dipotong uang sewa becak sebesar Rp 15000,-/hari. Namun pemuda itu tetap selalu bersemangat dan bergembira setiap hari, uang yang dia dapatkan selalu dia berikan kepada ibunya untuk belanja sehari-hari.

Anggota Marinir Babak Belur Digigit Tukang Becak

Selain menarik becak, pemuda ini juga suka mengerjakan apa saja sesuai pekerjaan yang ada di komplek. Terkadang ada warga komplek yang memintanya untuk membersihkan parit, membersihkan taman, membetulkan saluran yang mampet sampai membongkar WC mampet. Pemuda itu melakukannya dengan senang hati tanpa menentukan tarif untuk setiap pekerjaannya. Warga komplek sangat senang dengan kerja pemuda itu, selain ramah dia juga cekatan dan yang terpenting dia adalah orang yang jujur. Sesuatu yang paling menyenangkan dari pemuda itu adalah dia selalu mengucapkan Alhamdulillah setiap menerima pekerjaan dan ketika menerima bayaran.

Sesuai berjalannya waktu, pemuda itupun tumbuh menjadi seorang dewasa yang santun dan ramah. Karena kebaikan dan keramahnya, ada seseorang yang menawarinya pekerjaan tetap sebagai OB di sebuah mall dengan gaji Rp 1.000.000,- . Pemuda itu sangat senang dan bersyukur mendapat pekerjaan dan penghasilan tetap setiap bulannya, dibanding dengan menarik becak dan kerja serabutan di komplek tentu penghasilannya lebih aman menjadi seorang OB di mall. Mungkin sudah karakternya yang baik dan ramah, di mall pun dia suka membantu membawakan belanjaan ibu-ibu ke mobilnya. Tidak sampai satu tahun pemuda itu bekerja di mall, lagi-lagi ada seseorang yang menawarinya pekerjaan baru yaitu sebagai pemandu dan pengawas kolam berenang sejenis water park/boom dengan gaji Rp 1.700.000,- . Selain mendapatkan gaji dia juga mendapatkan makan siang dan uang transport pulang pergi dan juga asuransi kesehatan. Pandainya pemuda itu bersyukur atas apa yang telah dia dapatkan sehingga dia mendapatkan nikmat yang terus bertambah dan bertambah.

Mungkin penghasilan pemuda itu tidaklah sebesar dengan apa yang kita dapatkan, dan memang bukan jumlah penghasilah yang menjadi inti pembahasan dari tulisan ini. Mungkin ada yang mempunyai penghasilan berlipat-lipat dari si pemuda itu, akan tetapi apakah dia mempunyai tingkat kesyukuran yang sebaik pemuda itu? atau malah selalu mengeluh dengan kurang dan kurang. Dengan penghasilan yang pas-pasan pemuda itu mampu menjalani hidupnya denga penuh riang dan bahkan masih sempat menolong orang lain, dan apakah kita mampu melewati hari-hari kita dengan selalu bergembira? dan pernahkah kita masih peduli untuk menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan walaupun hanya sekedar menyeberankan jalan seorang nenek misalnya.

Dalam hidup ini banyak sekali orang yang hidupnya sederhana namun selalu mendapatkan kegembiraan dan bahagia setiap harinya. Selalu bersyukur dengan apa yang sudah mereka dapatkan adalah kunci kebahagiaan mereka, mereka tidak pernah muluk-muluk dan iri hati jika melihat orang lain lebih mapan kehidupannya. Mereka selalu bersemangat bangun pagi untuk menyongsong rizki mereka sehari penuh sampai akhirnya mereka terlelap kembali dan bermimpi indah dalam tidurnya pada sebuah matlas atau tikar pandan di malam hari. Mereka selalu merasa kenyang dan nikmat atas satu bungkus nasi berlaukan ikan teri dan kerupuk serta satu cankir teh manis.

Sebaliknya, banyak juga orang yang sudah dengan kemapannanya, berlimpah harta dan mempunyai jabatan yang bagus selalu dirundung kesusahan setiap waktu. mereka terkadang bermalas-malasan berangkat kerja memenuhi kewajiban atas gaji yang mereka dapatkan, mereka selalu gelisah dalam tidurnya walaupun ranjangngnya sudah empuk karena selalu memikirkan keberhasilan orang lain, merasa tidak enak makan walaupun di meja makannya tersaji beraneka ragam hidangan yang lezat. Mereka tidak nyaman tinggal di rumahnya yang sudah megah hanya karena ada rekannya yang rumahnya lebih megah, selalu merasa kurang atas mobilnya yang tidak sebagus mobil tetangganya. Lebih buruknya lagi, mereka tidak puas serta rendah diri dengan istri yang dia miliki hanya karena istrinya tidak secantik dan seanggun istri tetangga atau rekan-rekannya sehingga dia mencari istri lagi yang lebih cantik yang kemudian menghancurkan kehidupan rumah tangganya sendiri. Mereka itu adalah orang – orang yang tidak pandai atau bahkan tidak pernah bersyukur dengan apa yang sudah mereka dapatkan.

“Bersyukurlah pada setiap lini kehidupan kita, dengan demikian kita akan selalu merasa bahagia. Hidup itu mudah dan sederhana janganlah dipersulit dengan sifat  kufur dan tamak”

———————————————————-0000000—————————————————————-

#Edi Padmono

Advertisements

8 thoughts on “Pandai Bersyukur

  1. Pingback: Homepage

  2. Pingback: Sara Schwartz Gluck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s