Program Hemat dan Menabung

Berbicara masalah irit atau hemat, mungkin awalnya karena kami serba kepepet sehingga kami menghemat setiap pengeluaran. Kala itu saya adalah seorang suami pengangguran, hanya berpenghasilan Rp 15,000.- per hari sebagai pedagang asongan. Kala itu kami betul-betul harus mengencangkan ikat pinggang dalam menjalani hidup, kami harus tetap makan setiap hari dan juga harus bisa menabung karena istri waktu itu sedang hamil. Uang Rp 10,000.- untuk makan sehari berdua itupun menurut kami sudah enak karena sudah dapat beras 1liter, ikan bandeng atau tahu/tempe serta sayur bayam atau kangkung. Sisa uang yang sebesar Rp 5000.- kami tabung untuk keperluan bersalin nantinya atau untuk menutupi belanja harian jikalau aku tidak bisa jualan. Waktu itu kami sangat teliti dengan pengeluaran kami, satu rupiahpun selalu ada catatannya.

Kehidupan kamipun akhirnya berubah setelah anak kami yang pertama lahir yang mana aku  mendapatkan  pekerjaan tetap. Karena sudah terbiasa bertahun tahun dengan pengiritan, hidup hemat tetap kami jalankan karena kami mempunyai cita-cita untuk memiliki rumah secepatnya. Kami menganut faham mencari nafkah satu arah yaitu hanya suami yang bekerja dan istri benar-benar menjadi ibu rumah tangga. Penghasilan yang aku dapatkan dari bekerja langsung aku serahkan semuanya kepada istri, kemudian istri membuat rencana pengeluaran dalam satu bulan dan selalu meminta approval dari saya. Oleh Istri, gaji yang aku serahkan kepadanya langsung dibagi empat pos :

1. 40 % untuk kebutuhan sehari-hari (sembako dan belanja harian).

2. 20 % dana kebutuhan takterduga

3. 30 % tabungan

4. 10 % Dana sosial (infaq dan sodaqoh)

Pada waktu pertama kali bekerja, aku menerima gaji secara cash karena gajiku memang masih kecil. Dan oleh istri, pos-pos uang itu dibuatkan kantong-kantong yang terbuat dari kain bekas. Terkusus untuk dana tabungan, istri akan menyimpannya ke bank setelah uang mencapai 1 juta. Dana kebutuhan takterduga kami gunakan jikalau ada keperluan mendadak seperti kalau ada saudara minta bantuan atau keluarga sakit, dan jika dalam 3 bulan tidak ada penggunaan dana takterduga tersebut, maka untuk bulan berikutnya dana itu kami alihkan ke dana tabungan. Setelah 2 tahun aku bekerja tepatnya tahun 2004, tabungan kami sudah cukup untuk DP sebuah rumah sangat sederhana sekali, sebuah rumah secound type 21 yang sudah full renov dengan luas tanah 60 m2 di daerah Tangerang. Karena kami posisinya di Pekanbaru, kami tetap mengontrak rumah petak dan rumah kami di Tangerang kami kontrakkan. Uang hasil kontrakan rumah cukup untuk membayar angsuran rumah itu sendiri sehingga tidak mengganggu keuangan kami.

Penghasilanku bulum bertambah, akan tetapi tahun itu mertuaku sudah tidak produktif dan orang tuaku juga sakit parah. Istriku adalah anak tertua dari 8 bersaudara yang harus mengambil alih biaya sekolah ke 5 adik-adiknya, pun demikian dengan saya yang harus patungan dengan saudara sulung saya untuk mengkuliahkan adik dan membiayai berobat ibu. Selain itu anakku yang keduapun lahir, akhirnya pos keuangan kami dirubah :

1. 40 % untuk kebutuhan sehari-hari.

2. 40 % untuk membantu keluarga.

3. 10 % tabungan.

4. 10 % dana sosial.

Selama 2004 sampai 2006, kami betul-betul menghemat keuangan kami. Selama itu pula kami tidak pernah membawa kedua anak kami bermain ke tempat wisata atau sekedar bermain dan makan di mall. Bukan pelit kepada mereka, tapi memang kondisi keluarga kami masih lebih membutuhkan. Pertengahan tahun 2006, adik ipar sudah lulus  SMA dan mendapatkan kerja tingal 4 adiknya yang sekolah SMP dan SD. Kedua adik kandungku pun juga sudah lulus kuliah sehingga 40% penghasilanku  untuk membantu keluarga berkurang menjadi 20% dan 20% sisanya kami masukkan ke pos tabungan.

Nasib baik mengikuti kami sekeluarga, karena sebuah kepercayaan kami mendapat bantuan uang cuma-cuma dari bos customer kami untuk membeli rumah di Pekanbaru, lumayan walaupun kami harus menguras seluruh tabungan kami untuk menambah bantuan itu sebagai DP. Kami membeli rumah sederhana type 36 dengan luas tanah 108 m2 dan kami langsung menempatinya sehingga uang yang biasanya buat bayar kontrakan dipergunakan untuk membayar kredit rumah. Lagi-lagi keuangan kami tetap setabil namun aset bertambah dan tinggal di rumah sendiri, di rumah itulah anak kami bertambah satu lagi.

Akhir tahun 2008, kami pindah ke Tangerang karena promosi dari perusahaan. kami menempati rumah kami sendiri yang selama ini kami kontrakkan dan rumah di Pekanbaru kami sewakan sehingga pendapatan kami tidak ada yang berkurang dari rumah. Kala itu anak kami yang pertama masuk SD, kami selalu membekali dia makanan dan mengajarinya untuk menabung uang jajan yang kami berikan kepadanya. Kami memang melarang anak kami jajan sembarangan di sekolah dengan alasan kesehatan. Alhasil anak pertamaku ini selalu bisa membeli mainan dengan uang tabungannya. Budaya menabungpun diikuti oleh anak keduaku sehingga mereka sering bekerjasama untuk membeli mainan-mainan yang mereka sukai dengan uang tabungan mereka.

Pada tahun 2009 aku mendapat pekerjaan yang bagus dan penghasilanku menjadi lumayan. Kehidupan yang telah mengajariku untuk selalu berhemat dan pandai mengelola keuangan membuat kami tetap hidup sederhana. Karena rumah kami kecil sementara anak kami sudah 3 maka kami memberanikan diri membeli rumah yang lebih besar dan sebuah mobil di awal tahun 2010. Sebagai pekerja tentu cara kredit dengan bank lah yang paling efektif. Walaupun kredit dengan bank, kami selalu melakukannya dengan tempo paling pendek yaitu 3 s/d 5 tahun saja sehingga kami tidak terlalu terbebani oleh bunga bank.

Kami membeli rumah dan mobil secara kredit bersamaan sehingga akhirnya pos keuangan kamipun berubah lagi :

1. 25 % untuk kebutuhan pokok termasuk biaya sekolah anak-anak (prosentase turun tapi nilai rupiahnya naik)

2. 45 % untuk angsuran rumah dan mobil.

3. 10 % tabungan pendidikan anak-anak.

4. 15 % tabungan dan dana kebutuhan tak terduga

5. 5 % dana sosial.

Kehidupan kami menjadi sangat setabil, kami bisa hidup layak, bisa berwisata setiap minggu walaupun hanya sekedar bermain ke mall atau water boom dan juga bisa berbagi dengan yang kurang mampu terutama saudara dan teman-teman pengasong dulu. Semua itu berawal dari kegemaran kami untuk menabung dan berhemat, kami selalu mempertimbangakan setiap pengeluaran sudah sesuai dengan kebutuhan atau hanya sebuah keinginan belaka. Pada awal tahun 2013 cicilan rumah dan mobil kami lunas. Dana 45% untuk angsuran mobil dan rumah kami alihkan ke dana tabungan namun bukan berbentuk uang melainkan logam mulia dan saat itulah kami mengalami financial freedom ( Halah…seperti motivator MLM saja….  😀 ).

Giveaway Irit tapi Bukan Pelit

Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin

#Edi Padmono

Advertisements

15 thoughts on “Program Hemat dan Menabung

  1. Salut Mas dengan konsistensinya dalam hal menabung. Benar-benar ini posting yang menginspirasi terutama bagi keluarga muda yang baru membangun rumah tangga.

    Sukses selalu Mas Edi,

  2. Pingback: Mimpi-Mimpi Sederhanaku | Menuju Madani

  3. Pmbagian prosentase keuangannya bisa dicontek nih, Pak. Salut banget tuh yang bisa nyisihin 40 % untuk keluarga 🙂

    Terima kasih udah ikutan GA Irit tapi bukan Pelit. Sudah tercatat sebagai peserta 🙂

  4. Pingback: Tabungan Pendidikan Tanpa Asuransi | Menuju Madani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s