Mengenalkan Budaya Kepada Anak

Ketika aku kecil dulu, aku sering mendengarkan dongeng dari kakek tentang kisah-kisah wayang atau ketoprak ataupun cerita anak seperti si kancil. Dahulu adanya masih radio dan sangat sedikit yang mempunyai televisi, kakek sering mengajak aku begadang mendengarkan siaran radio pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Dari cerita wayang itu, kakek selalu memberikan penjelasan makna yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan. Setiap malam minggu kakek mengajak aku menonton ketoprak ataupun lidruk di televisi milik tetangga yang kaya. Ketika di TVRI waktu itu ada acara sendra tari atau wayang orang kakek pun juga mengajak aku untuk menontonnya. Ketika ada kerabat atau tetangga yang mempunyai hajat dan hiburannya adalah wayang kulit, aku selalu diajaknya menonton sampai pagi.

Maka wajarlah ketika aku kecil dulu sangat menyukai wayang, ketoprak, ludruk dan tari-tarian. Kepada wayang, aku sampai hapal hampir setiap lakon dari mahabarata sampai ramayana serta cerita wahyu apapun aku mampu menceritakannya waktu itu. Cerita ketoprak yang dulu mengambil cerita dari kerajaan-kerajaan di jawa membuat nilai pelajaran sejarahku bagus ketika SMP. Di SMP aku mengikuti kegiatan extrakurikuler seni gamelan dan sempat membuatku pandai bermain gamelan kecuali kendang. Bagiku, sangat indah sekali kesenian dan budaya jawa yang kebetulan aku memang besar di Jawa dan tidak mengenal kesenian atau budaya yang berasal dari luar jawa. Namun ketika aku SMA aku berubah haluan dari dunia seni ke dunia eksakta, aku menjadi tidak pernah sama sekali melihat pagelaran-pagelaran seni yang aku cintai dulu.

Sekarang, aku merasa menjadi pemutus budaya. Kakek aku yang berusaha keras menumbuhkan cinta budaya ternyata pupus oleh perkembangan jaman. Aku samasekali tidak pernah menceritakan kepada anak-anakku tentang kisah wayang, ketoprak ataupun ludruk. Ditambah acara-acara anak di berbagai stasiun televisi yang hanya menayangkan tokoh-tokoh asing membuat anak-anak lebih mengenal Ben-10 ataupun Ultraman dibanding tokoh-tokoh heroik pandawa lima, mereka lebih mengenal cerita putri salju dan pangerannya dibanding kisah joko tarup ataupun anglingdarma. Banyak sekali cerita-cerita lokal yang anak-anak tidak ketahui. Anak-anak juga tidak mengenal permainan-permainan kas negeri ini, mereka bermain mainan yang sudah jadi produk luar dan tidak pernah tahu membuat permainan sendiri. Sekali lagi salahku adalah tidak mengenalkan kepada anak-anak cara membuat permainan tradisional yang sebenarnya lebih asyik dimainkan.

Rasa bersalah itu selalu mengusikku ketika melihat anak-anak sangat minim sekali pengetahuannya tentang seni dan budaya. Ditambah sesekali melihat tayangan senetron televisi yang berlatar belakang cerita rakyat tapi ngawur alur ceritanya. Saya pikir akan terjadi penyesatan cerita yang pastinya akan mengubur dalam-dalam cerita sebenarnya. Lalu aku berfikir bagaimana caranya mengenalkan budaya lokal kapada anak-anakku. Pertama-tama aku kenali karakter anak, yang mana anak-anaku sangat gemar nonton vidio ultraman, powerrangger atau kartun ben-10. Tontonan anak-anak ini nuansanya berantem sehingga aku berfikir seni apa yang yang menontonkan sebuah pertarungan? aku kemudian berselancar ke Youtube dengan kata kunci wayang orang. Dari sekian banyaknya yang ditampilkan, aku menemukan tontonan berjudul bambang cakil, kisah bertarungnya srikandi dan buto cakil. Kemudian aku memanggil anak-anakku untuk ikut menyaksikannya, alhasil anakku yang kecil sangat menyukainya, dia bertanya “ultraman apa ini pak?” langsung saja aku jawab dengan spontan “Ultraman Jawa”.

Gerakan bertarung yang indah dan diiringi gamelan membuat anakku yang kecil menyukainya dan meminta untuk medownloadnya. Akupun mendownload beberapa vidio wayang orang di smartphoneku, dan anakku yang kecil selalu menontonnya. Saking sering adiknya menonton wayang orang, akhirnya mas dan kakaknya juga ikut menonton dan jadi ketularan suka. Apalagi anak perempuanku yang memang suka tarian dan nyanyian barby yang akhirnya dia juga menyukai tarian dan gending yang ada pada wayang orang. Sampai akhirnya anak perempuanku memilih kegiatan exschool menari. Mas-masnya yang sudah sangat mahir berselancar di youtube, mereka sering membuka vidio-vidio tari-tarian wayang orang disela-sela mereka main game atau PS. Lega rasanya hati ini melihat anak-anakku akhirnya mengerti dan suka budaya lokal yang pastinya lebih exsotic dibanding hiburan-hiburan yang ditayangkan televisi kita. Aku berharap kelak mereka juga memeperkenalkannya kepada anak-anak mereka.

Tidak cukup sampai disitu saja, aku juga ingin mengenalkan lagu-lagu yang bagus kepada anak-anakku. Dalam pengamatanku, lagu-lagu saat ini sangat lebay dan tidak mendidik, terlebih lagu dangdut yang syarat akan muatan pornografi dalam lirik ataupunย  penampilan penyanyinya. Aku kemudian mendownload lagu-lagu kasidah, melayu dan solawatan yang kemudian aku pertontonkan kepada mereka. Tapi sayang ternyata mereka tidak suka dengan lagu-lagu sehingga mereka tidak tertarik dengan lagu kosidah ataupun melayu. Namun masih mending, mereka menyukai tembang sholawatan yang kebetulan juga diajarkan di masjid sehingga kini mereka hapal beberapa tembang sholawat. Hati ini senang melihat anak-anak mulai menyukai budaya lokal dan tembang-tembang sholawat, mereka tidak terlanjur terbawa pada budaya modern yang sangat rentan pada nilai-nilai moral dan agama. Kini hutangku kepada anak-anak tinggalah mengajari mereka cara membuat permainan tradisional yang dulu sering aku mainkan bersama teman-temanku. Anak-anak sebenarnya sudah tidak sabar untuk belajar tentang hal ini, akan tetapi waktu dan bahan baku yang tidak ada menjadi kendalanya.

# Edi Padmono

Advertisements

12 thoughts on “Mengenalkan Budaya Kepada Anak

  1. ya …
    memang kita perlu mengenalkan budaya lokal pada anak-anak
    saya harus angkat topi pada sebuah stasiun yang mengangkat world of wayang dengan baik dan disesuaikan dengan kekinian

    salam saya Mas Edi
    nh18
    (ayah dari Yudhistira, Bimo dan Harjuno) ๐Ÿ™‚

    (5/2 : delapan belas)

  2. Jadi teringat, saat masih kecil saya masih didongengin sama bapa saat akan berangkat tidur. Rasanya sering banget bapa melakukan itu. Saat itu thn 70-an saat tv belum sedahsyat seperti sekarang penetrasinya kpd masyarakat.

    Thn 90-an ketika saya sudah berkeluarga, saya masih sempat mendongeng kpd anak-anak saat sebelum tidur. Tapi tidak sesering bapa dulu mendongeng untuk saya.

    Nah, entahlah bagi keluarga-keluarga muda sekarang. Apakah mereka masih sempat mendongeng untuk anaknya?

    Salam,

  3. Jgn kan anakmu mas aku aja ga Ngerti blas soal pewayangan, no cerita ke nadia pun bingung. Aku cm ajaran lagu anak2 jman dlu aja, trs cerita sahabat2 Rasulullah. Aku tak meguru wayang2an pdmu pie ๐Ÿ˜›

  4. Di samping pengetahuan tentang budaya, kemampuan berbahasa daerah juga menjadi kekhawatiran saya saat ini, Mas.. Meski saya dan istri selalu berbahasa Minang di rumah, tapi anak-anak tidak satupun yang bisa melafalkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s