Jangan Membedakan

Setiap kali jalan-jalan ke mall atau sedang menunggu keberangkatan di ruang tunggu bandara, aku sering melihat sebuah keluarga yang membawa turut serta pengasuh anaknya dengan pakaian khusus dan berbeda dengan keluarga tersebut. Pengasuh itu mengenakan pakaian babysister, menggendong atau mendorong kereta anak mereka atau mengejar-ngejar si anak yang bermain. Pada awalnya aku merasa biasa dengan pemandangan ini, ketika yang aku lihat adalah keluarga warga asing. Akan tetapi aku menjadi merasa aneh ketika kemarin di bandara melihat keluarga pribumi yang membawa pengasuh anaknya mengenakan pakaian babysister. Pengasuh itu mendorong kereta anak serta menyuapi si anak makan sementara ibu si anak yang berpakaian jilbab modis asyik bermain gadget 10″ nya.

Aku pikir semua orang tahu kalau seseorang berpakaian seperti itu adalah seorang pengasuh baik untuk anak ataupun orang tua, secara otomatis di tempat umum itu semua orang tahu bahwa gadis pendorong kereta anak itu adalah hanya pengasuh dan bukan bagian keluarga. Mungkin keluarga itu sengaja mempertegas setatus pengasuhnya itu adalah bukan bagian keluarganya dan hanya seseorang yang dia gaji untuk mengasuh anaknya. Atau mungkin keluarga itu ingin dilihat sebagai keluarga modern yang setara dengan keluarga asing dengan memberikan pakaian standart babysister kepada pengasuhnya. Kemudian aku berfikir lagi, apakah pengasuh itu di rumahpun memakai pakaian seperti itu? jika ya, maka sungguh malang nasipnya yang setiap hari-harinya hanya mengenakan pakaian yang sama walaupun mungkin warnanya berbeda-beda.

Nasip manusia memang berbeda-beda, beruntung sekali seseorang yang mempunyai nasip yang bagus, mempunyai banyak uang dan tercapai semua keinginannya. Namun sangat disayangkan jika orang yang bernasip bagus itu kemudian mempertegas statusnya yang berbeda dengan seseorang  bernasip kurang bagus yang kebetulan bekerja kepadanya. Membedakan tempat tidurnya, makananya, pakaianya dan lebih disayangkan lagi jika dia mempertegas ke khalayak umum bahwa “akulah majikan dan dia adalah pembantuku” dengan memberikan pakaian yang berbeda. Bahkan aku pernah melihat sebuah keluarga mekan bersama di sebuah resto fashfood, namun si pengasuh bayi hanya makan nasi bungkus dari rumah dan menjauh dari para tuannya makan. Pastinya sungguh sangat menyakitkan.

Rupanya saat ini manusia memang sudah berusaha mempetak-petakkan status seseorang yang jaman dahulu kala disebut “kasta”. Kebetulan aku adalah orang yang sangat tertarik dengan pameran perumahan, setiap kali mengunjungi pameran perumahan dari group-group besar dan melihat berbagai type rumah, selalu di sana tercantim jumlah kamarnya 2+1, 3+1, 4+1. +1 ini adalah kamar khusus yang ukurannya sangat kecil berukuran 2×1 m2, sebuah kamar yang didesign sangat sempit dan tidak muat ranjang dan tanpa instalasi AC seperti kamar lainnya. Sebuah kamar yang dikhususkan untuk pembantu pemilik rumah itu kelak. Sungguh menyedihkan, benda mati seperti rumahpun sudah membeda-bedakan setatus penghuninya.

Kemudian aku menjadi ingat ketika SMA dulu pernah ikut seorang nenek kaya. Walaupun sambil sekolah, sebenarnya aku bisa dikategorikan sebagai pembantu. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, mencuci, menyeterika, menjemur padi, mencari rumput dan menggembala kambing. Namun aku tidak pernah merasa menjadi pembantu karena nenek itu tidak pernah membeda-bedakan dengan dirinya, kami makan bersama di meja yang sama, kamar tidurkupun sama luasnya dengannya. Kepada kerabat, aku diperkenalkan sebagai anak bungsunya, anak-anak dan cucu-cucunya pun menganggapku sebagai adik serta paman mereka. Ketika aku kuliah di Semarang, nenek itupun menitipkanku kepada anaknya yang menjadi pejabat di Perum Gas mangkang walaupun akhirnya aku memilih kos karena terlalu jauh dari kampusku di Tembalang.

Sebenarnya mengapa harus membeda-bedakan seseorang karena sebuah nasip, apalagi dengan mempertegas setatus seseorang dengan sebuah atribut atau pakaian. Bisa apa seorang majikan tanpa pembantunya? apakah seorang ibu bisa bekerja tenang di kantor jika tidak ada pengasuh anaknya? Apakah seseorang akan menjadi kaya jika setiap hari harus makan diresto karena tidak ada yang memasak dirumah? dan berapa uang yang ia akan keluarkan untuk loundry pakaian jika tidak ada yang mencuci di rumah. Karena orang-orang yang bernasip kurang beruntung yang bekerja sebagai pembantu, pengasuh, pejaga dan lain-lain membuat seseorang itu nyaman meniggalkan rumahnya untuk bekerja menambah materinya.

Walaupun berbeda nasip, semua manusia itu sama saling membutuhkan dan saling ketergantungan. seorang pengusaha membutuhkan karyawan untuk menjalankan bisnisnya, begitu sebaliknya seorang buruh memerlukan pekerjaan dari seorang pengusaha untuk menyambung hidupnya. Demikian juga dengan sebuah keluarga dan PRTnya, mereka saling membutuhkan satu sama lain. Maka perlakukanlah para PRT itu seperti keluarga sendiri, agar mereka bekerja dengan penuh pengabdian, jujur dan bertanggungjawab. Seorang yang kaya raya tidak akan turun derajadnya apabila duduk dan makan bersama PRTnya satu meja. Karena sesungguhnya orang-orang kurang mampu yang hadir di rumah orang-orang mapan adalah hadiah dari Tuhan untuknya. Orang yang baik akan menerima dan menghargai hadiah yang diberikan kepadanya.

32bbe-pembantu-rumah-tangga# Edi Padmono

Advertisements

15 thoughts on “Jangan Membedakan

  1. Betul juga nih Mas. Zaman berubah tetap saja penjelmaan semacam kasta itu tetap berjalan dalam masyarakat kita.
    Dan tentang nenek kaya tempat Mas Edi dahulu bernaung, ah luar biasa. Bahagia banget Mas Edi bertem dgn sosok demikian mulia…

  2. setau saya, menurut cerita seorang teman dan adik saya yang pernah memakai jasa baby sitter, pakaian seragam itu peraturan dari yayasan. Bukan dari majikan. Makanya ada beberapa pakaian baby sitter yang khas atau menggunakan logo yayasan.

    Teman saya beberapa kali meminta baby sitter untuk mengganti dengan pakaian biasa, termasuk ketika jalan-jalan. Tapi, baby sitternya gak pernah mau. Alasannya kalau sampai yayasan tahu, dia pakai baju bebas selama jam kerja, bisa-bisa kena phk sama yayasannya.

    Tapi, kalau makan dipisahkan (walopun hanya dipisahkan meja), saya juga gak setuju. Suka miris kalau melihat keadaan seperti itu

    • Begitu ya chi? saya memang kurang begitu mengerti tentang yayasan penyedia babysister ataupun PRT. Setahu saya yayasan hanyalah penyalur saja yang mana keluarga yang memakai jasa babysister atau PRT dari yayasan harus memberikan fee ke yayasan sekali saja, kemudian semuanya si keluarga itulah yang menentukan semuanya dari gaji dan lain-lainnya.
      Kalau melihat kasus yang terjadi pada sahabat chi, berarti sebuah keluarga itu memberikna uang jasa setiap bulan kepada yayasan dan yayasanlah yang menggaji si babysister atau PRT itu seperti tenaga outsouching pada perusahaan. Kalau benar seperti itu sangat tepat jika mereka memakaikan atribut karena mereka adalah tenaga profesional yang setara dengan perawat di rumah sakit, dan mungkin yayasan juga menanggung semua failitas kesehatan serta benefit yang lainnya.

    • Yah ini adalah pandangan saya secara pribadi, kalau kerja rumahan kenapa harus berseragam. Di sebuah perusahaan itu kenapa diberikan pakaian seragam karena bertujuan untuk persamaan atau identitas perusahaan, la kalau di rumah dengan seragam sementara yang lain berpakaian biasa kan berarti pembedaan.

  3. Sebetulnya ngga jd masalah sih pake seragam itu, asal “tuan dan nyonya” memberikan perlakuan yang baik dan juga memberi hormat sama mereka, khan mereka juga yg menolong tuan dan nyonya… So timbal balik lah.

    Kembali ke seragam, tuan dan nyonya mungkin bisa ngobrol sama pihak yayasan.

    Sejak menikah ngga pernah punya asiaten khusus buat ngasuh anak-anak, ngga bisa bayar hehe dengar2 khan mahal yaaa…:)

    • Sama teh, kami sampai sekarang juga nggak pake asisten-asistenan walaupun anak sudah lima. Kami lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama sekaligus mendidik anak-anak untuk mandiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s