Mendurhakai Orang Tua

Tidak sedikit orang merasa hebat dikarenakan ia mampu membiayai sekolahnya sendiri dengan kerja keras lalu melupakan jasa-jasa orang tuannya. Mereka tidak memperdulikan lagi orang tuanya karena merasa dirinya berhasil menjadi orang atas jerih payahnya sendiri. Lebih buruknya lagi, ada yang tidak mengakui orang tuanya hanya karena orang tuanya adalah orang kampung yang miskin. Bisa jadi seseorang dengan bekerja keras, sekolah/kuliah sambil bekerja, menarik becak dan sebagainya kemudian menuai keberhasilan pada akhirnya. Akan tetapi apakah benar semua itu hanya jerih payahnya sendiri tanpa melibatkan orang lain termasuk orang tua? manusia tidak bisa hidup sendiri dan dia bukanlah apa-apa tanpa kehadiran orang tua dan lainnya. Bisakah dia hidup tanpa disusui ibunya? bisakah dia merangkak dan berjalan tanpa bimbingan orang tuanya? tidak ada satupun manusia bisa tumbuh dan berkembang tanpa ada keterlibatan orang tua atau orang di sekitarnya. Sungguh teramat sombong jika seseorang merasa keberhasilannya hanyalah dari jerih payahnya sendiri.

Saya pikir kisah anak durhaka kepada orang tua hanyalah sebuah cerita sinetron belaka seperti balada si malin kundang. Diri ini sangat teriris hati melihat dan mendengar ada seorang wanita tua yang selalu menangis karena perlakuan buruk anaknya. Anaknya memang orang yang sukses saat ini, namun sayang ia selalu mengatakan kepada ibunya bahwa selepas  SMA dia berusaha sendiri dengan ikut orang serta menarik becak untuk kuliah sehingga ibunya tidak berhak atas kesuksesannya. Anaknya sering menuduh ibunya membeda-bedakan antara dirinya dengan adiknya, menuduh ibunya lebih sayang kepada adiknya padahal jelas jelas adiknya hanyalah orang kampung yang menemani ibunya hingga menikah yang hanya mengenyam pendidikan SD dan tidak seperti dirinya yang sudah di sekolahkan sampai SMA. Kemudian dia menyerahkan segala kebutuhan dan perawatan ibunya kepada anak-anak adiknya, dia berdalih bahwa anak-anak adiknya lebih berkewajiban mengurus ibunya dibanding dirinya serta anak-anaknya.

Bagi seorang ibu atau orang tua pada umumnya tentu sangat menyakitkan jika diungkit-ungkit kekurangannya dalam membesarkan anaknya, dituduh membeda-bedakan atara anak satu dengan yang lainnya. Semua orang tua tentu menginginkan dapat memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya, akan tetapi tentu kondisilah yang menentukan semuanya kenapa ia tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perguruan tinggi dan kesulitan ekonomi adalah faktor dominan terhadap kondisi tersebut. Namun demikian, bukankah orang tua sudah beruasaha dengan sangat payah untuk menghidupi anak-anaknya, memberikan pakaian untuk menutup tubuhnya walaupun hanya setahuan sekali ia membelikannya, membuat perut anak-anaknya tetap kenyang walaupun perutnya sendiri dilanda kelaparan. Seorang anak tidak bisa menuntut atas kekurangan orang tuanya, tidak bisa memutus garis takdir bahwa dia harus lahir dari seorang yang miskin atau kaya. Kalaupun bisa memilih, semua manusia pastilah memilih dilahirkan dari keluarga yang kaya raya dan berpangkat.

 Walaupun hanya sampai usia balita, seorang anak tidak akan mampu menghitung dan membalas jasa orang tuanya terkhusus ibunya. Jika ibunya mau, dia akan menggugurkan kandungannya ketika usia awal kehamilannya, namun tidak, dia tetap merawat  kehamilannya dengan sangat payah hingga perutnya membesar dan tidak enak dipandang. Kemudian sang ibu mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, mengalirkan darah dan air mata, nafas yang hampir terputus serta 57 del rasa sakit yang mana sesungguhnya manusia hanya sanggup menerima 45 del rasa sakit. Bisa dibayangkan betapa sakitnya seorang ibu melahirkan, 57 del adalah setara sakitnya dengan 7 tulang yang patah secara bersamaan. Kemudian ibu tetap tersenyum melihat seorang bayi yang hampir membunuhnya. Seorang ibu tidak akan pernah membeda-bedakan senyumnya terhadap setiap kelahiran anaknya. Kemudian ibu memberikan darahnya melalui air susu kepada anaknya, sangat sakit dan nyeri ketika pertamakali air susu itu dihisap oleh sang anak. Sungguh tidaklah pantas dan teramat durhaka jika seorang anak merasa bisa hidup atas jerih payahnya sendiri, kemudian meniadakan peran orang tuanya apalagi ibunya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAsoulintifadhah.blogspot.com

#Edi Padmono

Advertisements

9 thoughts on “Mendurhakai Orang Tua

  1. Posting yang membawa perenungan saya akan kasih seorang ibu yang luar biasa tak tergambarkan bahkan dgn kata-kata terindah sekalipun.
    Jadi kangen sama emak. Akhir bulan saya pasti pulang untuk memeluknya dan memohon doanya untuk kehidupan saya kedepannya…
    Makasih posting indahnya Mas Edi…

  2. Subhanallah, jangan sampai kita bersikap sombong dan tak tahu diri pada orangtua kita, kita tak akan pernah jadi seperti ini tanpa orang tua dan orang-orang di sekitar kita.

  3. Pingback: Mendurhakai Orang Tua – Spreading The 'Pearl'

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s