Adik Punya Adik

Ketika anak ke-4 ku lahir, aku berfikir dia adalah anak bungsuku. Dia begitu berbeda dengan saudara-saudaranya, kulitnya yang putih mengikuti ibunya, begitu ganteng (menurutku) dan begitu energik. Seperti anak-anakku yang lain, aku mengurusnya sendiri ketika selama istri mesih belum sehat pasca melahirkan. Dari memandikannya, membersihkan kotorannya serta mencuci popoknya semua aku lakukan bahkan sampai memasak. Saat berada di dalam kandungan anak ke-4 ku ini juga paling berbeda dengan yang lainnya. dia begitu aktif berputar-putar dan menendang di dalam perut sampai-sampai dubur ibunya keluar seperti orang abayen. Ketika waktunya lahir dia begitu setia menunggu bapaknya pulang dari rantau dan begitu lahir dia berkalung tali pusar sebanyak 3 lilitan. Dia lahir pada hari yang sama dengan hari lahir bapaknya.

Mas AdekAdik ZuhdiAnak ke-4 ku ini tumbuh dengan baik, sehat dan sangat lincah. Dia berjalan sebelum usia satu tahun, penguasaan komunikasi juga sangat bagus sehingga membuat para tetangga gemes sekaligus heran karena baru berusia satu tahun sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka berikan. Namanya Muhamad ha’asyim mahfud adzakhi, dan kami memanggilnya adik Dzakhi. Aku memang dekat dengan semua anak-anakku, namun dengan Dzakhi sangat berbeda yaitu lebih dekat daripada yang lainnya. Mungkin benar kata orang, anak yang hari lahirnya sama dengan orang tuanya maka ia akan sangat dekat. Aku selalu bermain kejar-kejaran dengannya setiap hari jika aku berada di rumah. Diantara anak-anakku hanya Dzakhilah yang ketika mau tidur minta dibacakan cerita oleh bapaknya dan bukan oleh ibunya.

Karena kakak-kakaknya memanggilnya adik, maka diapun merasa senang jika dipanggil adik dan bukan namanya. adik Dzakhi tumbuh seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya ia berumur 24 bulan dan disapih oleh ibunya. Tidak ada kesulitan dalam menyapihnya, hanya mengoleskan minyak angin di puting ibunya dan dia rasa pahit sehingga ia tidak mau menyusu lagi. Tidak disangka 1 bulan setelah adik Dzakhi di sapih ibunya terlambat bulan dan setelah dicek ternyata positif hamil. Sebenarnya kami kaget dan bingung menerima bonus dari Allah ini, bukan karena jumlahnya melainkan karena jaraknya yang terlalu dekat dan kami pikir adik Dzakhi adalah anak bungsu kami. Kepada yang sudah besar kami bisa menjelaskan dengan gampang kalau mereka akan punya adik lagi, akan tetapi dengan Dzakhi yang masih umur 2 tahun kami kesulitan menjelaskannya.

Kondisi kehamilan ke-5 ini hampir sama dengan kehamilan yang ke-2 dulu yang mana jaraknya terlalu dekat dengan kakaknya, bedanya adalah anak pertama dulu menginginkan teman dan adik Dzakhi ini sudah banyak temannya dan dimanja oleh kakak-kakaknya. Kami terbayang pada tetangga yang mempunyai anak begitu dekat jaraknya, kakaknya selalu berbuat ulah dan nakal terhadap adiknya, terkadang adiknya ditendang, dipencet matanya dan ditimpa badannya dengan tubuhnya. Kami jelaskan secara pelan-pelan kepada Dzakhi bahwa ia akan punya adik dan ia nanti akan dipanggil “mas”. Awalnya Dzakhi menolaknya, namun karena kami terus membahasnya akhirnya ia mengiyakan juga. Kami berusaha merubah panggilan Dzakhi dari adik menjadi mas tapi tidak bisa, ia lebih suka dipanggil adik. Setelah sembilan bulan, lahirlah anak kami yang ke-5 dan dalam proses persalinan Dzakhi ditinggal di rumah bersama kakak-kakaknya. Pada saat itulah Dzakhi mulai dewasa sendiri dan dengan senang hati menerima kabar bahwa adiknya telah lahir. Bersama kakak-kakaknya Dzakhi menjenguk ibu dan adiknya, ia begitu senang, ia pegang dan cium tangan adiknya yang mungil.

Kekhawatiran kami ternyata salah, Dzakhi tidak nakal terhadap adiknya. Dzakhi sering bermain sendiri dan sekali-kali mendatangi adiknya untuk sekedar memegang tangan atau mencium pipinya. Ketika ibunya sibuk di dapur, Dzakhilah yang menjaga adiknya dan ketika adiknya menangis ia langsung berlari memanggil ibunya. Walaupun masih kecil, ternyata Dzakhi adalah tipe orang yang menepati janji yaitu ia mau tidur sendiri setelah adiknya lahir. Satu hal yang masih jadi kendala adalah masalah panggilan Dzakhi yang tidak mau melepaskan panggilan adik. akhirnya kami sepakati bahwa panggilan Dzakhi adalah mas adik dan ia pun menyetujuinya. Sungguh aneh memang adik punya adik dan lebih anehnya antara mas adik dan adik bayi mempunyai hari lahir yang sama yaitu “minggu legi”. Begitulah cerita bagaimana kami menyambut anak ke-5 kami dengan penuh kekhawatiran yang ternyata setelah berjalan sama sekali tidak ada masalah. Memang benar bahwa semua sudah ada yang mengaturnya sehingga kita hanya sekedar menjalaninya dan tidak perlu untuk merasa khawatir.

#Edi Padmono

Advertisements

12 thoughts on “Adik Punya Adik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s