Cinta dan Tanggung Jawab

Pada setiap pagi menjelang subuh mbah Umar mengambil air ke dalam panci yang kemudian ia panaskan dengan kompornya, sembari menunggu air itu mendidih, ia mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sudah termakan usia. Setelah ia selesai mandi dan sholat subuh, disiapkannya satu ember besar air yang kemudian ia campur dengan air yang telah ia panaskan sampai mendidih agar air di dalam ember itu hangat-hangat kuku. Setelah ia mencoba dengan tangannya dan yakin air itu tidak terlalu panas ataupun dingin, ia lalu bergegas ke kamarnya untuk membangunkan kekasihnya “bangun waktunya mandi” dengan lembut ia membangunkan mbah Sri yang sudah amat lemah karena sakit stroke yang ia derita sejak 10 tahun yang lalu “aaaaaaaa” begitulah jawaban mbah Sri pertanda mengiyakan ajakan suaminya. Kemudian mbah Umar mendudukan istri di ranjangnya dan memberinya segelas air putih untuk diminum.

Setelah mbah Sri selesai minum dan bersitirahat sejenak, mbah Umar mengangkat tubuh istrinya kemudian ia dudukkan di kursi roda yang ia siapkan di samping ranjang, kemudian didorongnya mbah Sri menuju kamar mandi yang berada di sudut belakang rumahnya. Sesampainya di depan kamar mandi mbah Umar menggendongnya kemudian ia dudukan di closed duduk. Mbah Umar melepas satu persatu pakaian mbah Sri beserta pampersnya, lalu ia siram tubuhnya dengan lembut dengan air hangat yang sudah ia siapkan. Ia menyabuni tubuh dan mencuci rambut mbah Sri sampai bersih, ia selalu memeriksa duburnya apakah ada kotoran atau tidak. Setelah selesai, mbah Umar mengeringkan tubuh istrinya dengan handuk kemudian memakaikannya pampers lalu memakaikan baju. Kembali, ia menggendong istrinya ke kursi rodanya kemudian ia dorong menuju ranjangnya.

Setelah matahari terbit dan mulai terasa hangat, mbah Umar membawa istrinya kedepan rumah untuk berjemur sembari menyuapinya sarapan bubur yang sangat lembut sekali. Kemudian ia dorong kursi roda keliling-keliling komplek untuk sekedar melihat-lihat pemandangan agar istrinya tidak terlalu jenuh di rumah. Begitulah kerja mbah Umar setiap harinya, menjadi perawat mbah Sri istrinya, memandikan, membersihkan kotorannya, menyuapi makan dan minum serta menemani tidur. Ia begitu mencintai istrinya, cinta yang tak berujung yang menuntut sebuah tanggungjawab yang tidak terbatas pula. Walaupun ia dibantu oleh anak dan menantunya, namun tetaplah ia yang paling aktif mengurus mbah Sri apalagi ketika anaknya sedang berada di luar kota. Lelah juga mungkin ia rasakan, namun karena cintanya yang tulus untuk hidup susah, senang, sehat ataupun sakit selalu ingin bersama hingga terpisahkan oleh ajal.

Ketika masih muda, mbah Umar dan mbah Sri adalah suami istri yang tegar, rajin bekerja dan selalu berusaha mensejahterakan ke-6 anaknya. Dalam kehidupan yang pas-pasan mereka saling bahu membahu dalam setiap pekerjaan, mereka adalah petani pengarap bagi hasil dengan pemilik sawah. Mencangkul atau membajak sawah, menanam dan menyiangi padi serta memanennya selalu mereka lakukan bersama-sama. Selain bertani mereka juga sebagai pedagang musiman tergantung masa panen, baik gabah, kacang tanah ataupun gaplek/singkong kering. Mbah Sri muda walaupun bertubuh kecil mempunyai fisik lebih kuat dari suaminya, ia mampu membawa berkarung karung gabah dalam sepedannya sementara suaminya hanya mendorongnya. Demi cinta kasihnya kepada ke-6 anaknyalah pasangan sederhana ini membanting tulang siang malam, merawat dan menjaga tanamannya, menyusuri pasar ke pasar dengan sepeda kebonya. Demi masa depan anaknya yang lebih baik. Namun sayang, ketika anak-anaknya sudah sukses menjadi orang yang mapan mereka tidak bisa merasakannya karena sudah sakit terlebih dahulu.

Kisah di atas hanyalah salah satu dari sekian banyaknya kisah cinta yang ada di sekitar kita. Cinta yang tulus yang menumbuhkan rasa tanggung jawab yang tak terbatas. Cinta memang menuntut sebuah tanggung jawab, tanggung jawab untuk menghidupi, membimbing dan merawat orang yang dicinta. Cinta tidak memperdulikan cantik atau buruk, pahit atau manis, semua dijalani penuh kebahagiaan. Dan juga cinta orang tua kepada anaknya yang tidak pernah menuntut balasan. Sanggupkah kita mencintai dengan tulus seperti di atas? cinta yang membuat kita mau menerima segala resiko yang ada, senang, susah, sehat ataupun sakit. sanggupkah kita mencintai pasangan kita walaupun ia tidak secakap dulu, tidak segagah dulu, tidak sekaya dulu dan apakah kita tetap sanggup mencintai pasangan kita yang sudah lumpuh…? Dan apakah kita sanggup mencintai anak-anak kita sepenuh hati dengan tidak pernah meminta balasan…?

Itulah cinta yang sesungguhnya, cinta yang akan selalu membawa kebahagiaan sampai tua dan renta. Cinta bukan nafsu yang hanya menginginkan kecantikan atau kehidupan yang manis saja. Cinta dan nafsu adalah dua hal yang mirip namun berbeda sehingga banyak orang yang tertipu oleh buaian nafsu yang mengatas namakan cinta. Nafsu hadir secara spontan atau tiba-tiba begitu dua makhluk yang berbeda bertemu, tetapi cinta memerlukan proses searah berjalannya waktu. Dan pasti cinta menemukan muaranya tersendiri.

2014 - 1Ilustrasi dari Google+

#Edi Padmono

Advertisements

7 thoughts on “Cinta dan Tanggung Jawab

  1. saya benar-benar terharu membaca kisah mbah Umar dan Mbah Sri, bagaimana mbah Umar bisa menjaga dan memelihara cinta dan kasih sayangnya kepada istrinya mbah Sri, yang terkena stroke…dari pasangan muda hingga lanjut usia..cinta kasih mereka tetap langgeng…benar-benar kisah yang sangat memotivasi…ditengah kisah-kisah cinta yang hanya temporer saja yang banyaj terjadi di negri ini……..keep happy blogging always….salam dari Makassar 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s