Ridho Orang tua dan Ketabahan Istri

Aku dan istri merantau untuk mencari rezeki halal setelah kami menikah, walaupun kami belum mempunyai apa-apa kami rela bersusah – susah memisahkan diri dari keluarga kami. Hanya berbekal restu dari kedua belah orang tua dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja karena rezeki Allah maha luas. Dengan berprinsip bahwa pernikahan adalah sebuah tanggung jawab maka kami bertekad untuk tidak akan menyusahkan orang-orang tua kami ataupun saudara. Kami tidak pernah mengeluh kepada keluarga walaupun sepahit apapun kehidupan yang kami alami, hanya kepada Allahlah kami mengeluh dan berdoa. Dengan saling mengenali dan memahami perbedaan-perbedaan pola fikir yang berujung bersama mencari pola yang sama, kami memulai mengarungi bahtera rumah tangga.

Sebuah rumah petakan di daerah kumuh di kota Tj priuk kami mengawali kehidupan. Selama belum medapatkan pekerjaan aku bekerja apa saja yang penting pendapatannya halal dan barokah untuk dimakan bersama istri. Istriku selalu setia menunggu dan berdoa untuku, selalu menemaniku bercerita-cerita, menyediakan makan minum untuku dan memijat tubuhku yang kelelahan berusaha mencari nafkah seharian. Kebetulan aku adalah orang yang bermental tangguh dan tidak pemalu, aku rela berdagang asongan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan istriku adalah seorang yang tabah dan tegar dalam menerima kehidupan. Istriku selalu menerima berapapun nafkah yang aku berikan serta tidak pernah menuntut apapun, ia selalu mensyukuri dan bisa mengatur uang pemberianku walaupun sangat sedikit untuk ukuran seseorang yang sudah berumah tangga.

Berkat keuletanku dalam berusaha mencari pekerjaan disela-sela aku mengasong dan ketabahan istriku yang selalu setia menemani, akhirnya aku mendapat pekerjaan tetap setelah kami dikaruniai seorang anak laki-laki. Dengan berat hati aku berangkat merantau ke pertambangan di pedalaman Kalimantan dengan meninggalkan anak dan istriku. Tanpa saudara dan hanya berbekal sedikit uang peninggalanku, istriku dengan tabah mengurus anak kami. Tidak ada kabar berita selama aku merantau, namun dengan menyibukkan mengurus dan bermain dengan anak laki-lakinya ia melewati hari-harinya dan menepis rasa rindu yang ada. Akhirnya kamipun dipertemukan kembali setelah aku bekerja selama tiga bulan. Aku pulang dengan membawa segunung rindu dan tentunya seluruh gajiku selama bekerja.

Setelah lulus masa percobaan dan melewati masa cuti aku mendapat penempatan di kota Pekanbaru. Kami berpamitan kepada orang tua lalu berangkat bertiga pada sebuah kota yang mana tidak ada satupun sanak family ataupun orang yang kami kenal. Di kota itu istriku juga harus tabah dan pandai membawa diri, karena aku selalu pergi keluar kota menjelajah lebatnya hutan Riau. Sebagai karyawan baru dengan gaji yang masih kecil membuat kami masih hidup secara pas-pasan di sebuah kota yang mahal. Walaupun kami masih dalam kesempitan, kami harus diuji dengan bakti kami kepada orang tua. Ibuku sakit keras dan dirawat di ICU rumah sakit yang memerlukan biaya 20 juta rupiah, saudaraku meminta membagi dua biaya perawatan ibu yang sudah pasti membuatku sangat kebingungan. Bagaimana tidak, gajiku hanya 900 ribu darimana mencari uang 10 juta…?

Istriku memang orang yang hebat, ia mampu menenangkan dan meotivasi suaminya. “Tawakal pak….tidak usah merisaukan nasip kita…pikirkanlah nasip orang tuamu dan biarkan Allah yang memikirkan nasip kita…”. Aku akhirnya menyanggupi permintaan saudaraku. Aku yakin pasti akan mendapatkan uang itu, dan memang benar semuanya sudah diatur, ketika ibu hendak keluar dari rumah sakit aku secara tidak sengaja berhasil merepair sebuah alat berat customer yang sudah lama rusak dan menghabiskan biaya 100 jutaan. Saking senangnya si customer, aku ditraktir makan di restoran mewah dan diundang ke kantornya untuk di beri angpau. Sebuang angpau tipis namun alangkah terkejutnya aku, ketika dibuka angpau itu berisi giro 15 juta. Aku tidak mengerti tentang giro, setelah bertanya ke teman-teman akhirnya aku mencairkan giro itu lalu aku transfer uang 10 juta ke saudaraku.

Sakit stroke yang diderita oleh ibuku membuatnya harus mendapatkan perawatan yang lumayan menghabiskan biaya walaupun sudah lewat masa kritisnya. Karena beliau sakit, saudaraku konsentrasi pada biaya perawatan ibu dan aku konsentrasi pada biaya sekolah kedua adikku dan sesekali saudaraku meminta bantuanku ketika ibu dirawat di rumah sakit. Menanggung beban dengan penghasilanku yang pas-pasan membuat kehidupan kami agak kesulitan, ditambah mertua memasrahkan biaya sekolah ke-5 adik ipar kepada kami karena ayah mertua sudah tidak bisa berdagang lagi. Tidak mudah menjalani kesulitan hidup itu jikalau tidak mendapat dukungan istri yang begitu tabah, kami mengulang kehidupan seperti dikala masih menjadi pedagang asongan. “Yang iklas ya kalu membantu orang tua…semua pasti ada balasannya…” begitulah pesan mertua atau orang tuaku ketika menerima kiriman uang dari kami.

Kelihatannya berat jika dibayangkan, akan tetapi setelah dijalani begitu sangat mudah. Berkat ketabahan istri dan doa kedua belah orang tua kami, kami selalu mendapatkan rezeki lebih ketika hendak mengirimi mereka uang untuk biaya sekolah adik-adik kami. Bahkan kami selalu bisa menabung setiap bulannya yang akhirnya kami bisa membeli rumah walaupun sangat sederhana. Kata-kata orang tua itu selalu ada benarnya dan juga selalu mengandung doa. Setelah adik-adik kami selesai sekolah dan mendapatkan pekerjaan, aku mendapatkan promosi dan beberapa bulan kemudian aku mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus dengan penghasilan yang berlipat-lipat dari sebelumnya. Mungkin benar, karena ketabahan istriku yang selalu setia menemaniku dalam setiap kesusahan dan juga rodho serta doa orang tualah yang membuat kehidupan kami menjadi ringan dan menuai kebahagiaan. Kini kehidupan kami begitu ringan dan indah, kami tidak lagi kebingungan ketika ibu anfal dan masuk rumah sakit ataupun ketika ada saudara yang meminta bantuan.

66067-522373_303227009793192_127201918_n#Edi Padmono

Advertisements

2 thoughts on “Ridho Orang tua dan Ketabahan Istri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s