Menyiapkan Batang Ubi

Batang ubi memiliki ketangguhan hidup yang lebih daripada padi/beras, batang ubi bisa hidup di medan tandus atau rawa sekalipun, namun padi hanya mampu hidup di daerah yang subur serta mendapat perairan yang cukup. Ubi, walaupun ia tidak sanggup menghasilkan buah karena teramat tandusnya suatu tempat namun ia tetap akan menghasilkan manfaat yaitu daunnya untuk dijadikan sayuran. Berbeda dengan beras yang hanya mempunyai manfaat yang sangat terbatas yaitu sebagai makanan pokok manusia, ubi justru mempunyai manfaat yang begitu banyak dan komplek pada kehidupan manusia. Dalam dunia makanan, ubi lebih dapat dibuat dalam berbagai olahan yang mampu menggantikan kebutuhan manusia atas beras, nilai karbohidratnya yang lebih rendah daripada beras membuat ubi lebih sehat dikonsumsi daripada beras. Dalam dunia industri ubi dapat dijadikan sebagai bahan plastik, lem, etanol dan lain sebagainya.

ubiBegitulah ibuku dahulu mengajarkan kepadaku agar aku menjadi sebuah batang ubi yang sanggup bertahan hidup dalam kondisi dan medan yang berat sekalipun. Ibu menuntutku untuk tetap bermanfaat bagi orang lain walaupun diriku sendiri dalam kekurangan. Untuk itu semua ibu mengajarkanku kehidupan yang begitu keras dari aku kecil untuk membentuk mental yang tangguh dan tidak mudah menyerah dalam menjalani hidup. Kebetulan orang tuaku tergolong orang yang tidak mampu, namun semangat untuk bertahan hidup dan menghidupi anak-anaknya sungguh luar biasa. Disaat aku kelas I SD, ibu sudah mengajariku untuk berjualan es lilin di waktu istirahat dan keliling kampung setelah sekolah usai. Ibu mengambil es lilin dari juragan es di kampung sebelah yang keuntungannya murni aku tabung untuk keperluanku sekolah seperti membeli alat tulis ataupun seragam.

Dalam kehidupan sosial, ibu selalu mencontohkan membantu orang yang lemah walaupun dia sendiri adalah orang yang kurang mampu. Adalah mbah jedor, seorang nenek sebatang kara yang selalu dijadikan bahan ejekan oleh tetangga dan anak-anak karena dianggap orang gila. Berbeda dengan para tetangga, ibu justru memperlakukannya dengan sangat hormat, dia memberinya makan ataupun sekedar oleh-oleh dari pasar, memberinya obat ketika sakit dan menimbakan air dari sumur untuk keperluannya mandi. Akupun berusaha mengikuti apa yang dilakukan oleh ibuku dengan melakukan hal yang sama yaitu menimbakan ia air dari sumur, aku sering mendengarkan ia bercerita dan aku sering berantem dengan teman-teman sebayaku karena melindunginya dari ejekan-ejekan yang sangat menyakitkan.

Berawal dari sanalah kami dibentuk untuk menjadi orang yang tangguh dalam menjalani hidup oleh kedua orang tua kami, kebetulan kami saat itu telah memutuskan untuk terus sekolah sampai ke perguruan tinggi. Didalam kesulitan ekonomi keluarga kami, masing-masing dari kami berusaha semampunya membantu orang tua untuk biaya sekolah. Begitu juga denganku, aku tanpa malu berjualan es atau balon keliling dari kampung ke kampung sampai lulus SMP. Aku tidak pernah merasa malu ketika bertemu dengan teman sekolah yang kebetulan membeli daganganku. Ketika aku SMA, aku ikut orang kaya dan bekerja kepadanya dengan imbalan makan dan tempat tinggal sehingga mengurangi pengeluaran orang tuaku untuk hidup dan biaya kos. Aku sangat beruntung diperlakukan sangat baik oleh orang kaya tersebut, selain tempat tinggal yang nyaman dan makanan enak aku juga diberi uang saku untuk sekolah.

Sampailah aku pada masa kuliah dan kebetulan saudara-saudaraku juga kuliah, sesuatu yang mustahil bagi keluarga kami yang miskin namun sanggup mengenyam pendidikan perguruan tinggi walaupun hanya sekedar diploma III. Walaupun sebagai mahasiswa, aku tidak mau berdiam diri membiarkan orang tuaku untuk membanting tulang sendiri untuk membiayai kuliahku. dan kebetulan satu tahun setelah aku kuliah terjadi krisis moneter yang sangat mengkacaukan ekonomi bangsa ini yang tentunya sangat mempengaruhi kehidupan keluargaku. Di sinilah ketangguhan sebuah batang ubi untuk bertahan hidup di ladang tandus mulai diuji. Aku tidak mau putus kuliah, akupun mencari cara agar mendapatkan penghasilan untuk membantu orang tua dan tetap kuliah. Berbagai usaha aku lakukan, dari menjadi loper bakpia ke toko-toko, les privat anak SD/SMP dan jualan angkringan nasi kucing di pinggir jalan.

Setelah lulus akupun bekerja dan menikah dengan seorang gadis pilihanku sendiri, kembali aku diuji dengan PHK yang mana aku harus tetap memberikan nafkah kepada istriku. Dengan begitu mudahnya aku beradaptasi dengan kondisi yang serba kekurangan, aku rela dan tidak malu berdagang asongan untuk mempertahankan hidup sambil mencari pekerjaan baru. Pada akhirnya segala ujian itu berlalu dan kini batang ubi itu telah tumbuh menjadi tanaman yang subur dan buahnya telah bermanfaat banyak untuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Kini saatnya aku membentuk karakter anak-anakku, akupun mencotoh pola yang diajarkan oleh kedua orang tuaku hanya saja aku melakukan modifikasi karena jamannya sudah berbeda. Aku selalu mengajarkan kemandirian kepada anak-anak, kreatif dalam melihat peluang dan disiplin dalam beribadah. Satu contoh, anak-anakku selalu membeli mainan dari uang tabungannya sendiri yang ia kumpulkan dari uang saku, anak-anakku juga kreatif membuat gambar kartun yang sedang tren kemudian dijual kepada teman-temannya dengan harga Rp 2000,- per gambar dan juga suka mempromosikan dagangan ibunya ke guru atau ibu teman-temannya….kreatif bukan?

Jadi…..bagaimanakah para sahabat membentuk karakter anak-anak anda ?

#Edi Padmono

Advertisements

One thought on “Menyiapkan Batang Ubi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s