Tabungan Pendidikan Tanpa Asuransi

Mulai bulan Januari para orang tua sudah banyak yang sibuk untuk mencari sekolah untuk anak-anaknya, tidak sedikit pula yang mengeluh atas mahalnya pendidikan saat ini. Untuk di kota-kota besar seperti jakarta dan sekitarnya, memang pendidikan terhitung mahal kecuali sekolah negeri. Untuk sekolah suwasta, Masuk SD saja sudah mencapai angka 8 sampai 20 juta rupiah yang tentunya jika semua itu tidak dipersiapkan dari awal memiliki anak pastilah sangat memberatkan, sementara jika pasrah untuk sekolah di SD negeri cenderung kegiatan belajarnya pakai sistem shift dikarenakan jumlah kelas yang tidak mencukupi. Apapun itu, toh anak-anak tetap harus sekolah dan tentunya setiap orang tua pastilah menginginkan pendidikan anaknya yang sebaik mungkin.

Banyak cara para orang tua mempersiapkan uang untuk pendidikan anak-anaknya, ada yang menabung biasa dan ada yang mengikutkan anaknya pada program asuransi. Begitupun saya, saya lebih memilih mempersiapkan biaya pendidikan anak-anak dengan menabung sendiri dan tidak pernah melibatkan asuransi. Pada awalnya saya pernah akan mengikuti program asuransi pendidikan, akan tetapi setelah saya bandingkan dengan menabung sendiri ternyata hasilnya lebih banyak karena program asuransi selama lima tahun di awal kita masih harus berurusan dengan premi asuransi jiwa dan kesehatan, sehingga setelah tahun ke enam barulah betul-betul murni menabung. Memang ada bagusnya mengikuti asuransi pendidikan, ada perlindungan resiko yaitu ketika orang tua meniggal maka premi akan tetap dibayar oleh asuransi, ketika si anak sakit dan dirawat di rumah sakit maka akan mendapat bantuan biaya rawat inap dan ketika si anak meninggal dalam masa kontrak maka kepada orang tua akan dibayarkan total pertanggungan.

Walaupun demikian saya tetap memilih menabung sendiri dibanding dengan mengikuti program asuransi, selain saya belum menemukan jawaban yang pasti tentang hukum asuransi dalam Islam, saya juga seorang pekerja yang aktif yang mana kesehatan anak dan istri saya mendapat tanggungan dari perusahaan sehingga saya tidak khawatir jika anak-anak harus dirawat di rumah sakit. Kembali kepada menabung untuk pendidikan anak-anakku, bahwa pada tulisanku sebelumnya kami membuat pos tersendiri untuk tabungan pendidikan anak-anak sebesar 10% dari pendapatan saya. Walaupun saya menabung sendiri, sedari awal saya tidak pernah menabung dengan bentuk uang melainkan saya selalu menabung dalam bentuk perhiasan atau logam mulia. Pada awal-awal kami punya anak dan gaji saya masih kecil, tabungan pendidikan anak saya yang pertama mendapat jatah Rp 250 000,- namun waktu itu harga emas masih Rp 85.000,-/gram sehingga saya membeli emas 5 gram/ 2 bulan. Pada saat usianya 3 tahun tepatnya ketika adiknya lahir di tahun 2004 anak saya sudah memiliki tabungan sebanyak 90 gram emas yang setara dengan Rp 8 juta saat itu.

Ketika adiknya lahir, dana tabungan anak tentu bertambah namun selalu konsisten pada prosentase dari pendapatan. Kala itu harga emas adalah Rp 95.000,- sehingga saya membeli emas 10 gram / 3 bulan dan kami buatkan kotak masing-masing anak secara adil. Tahun 2007 anak ke-3 saya lahir dan tabungan anak pertama saya menjadi 150 gram emas yang setara dengan Rp 30 juta dan anak kedua saya memiliki tabungan 60 gram emas yang setara dengan Rp12 juta rupiah. Karena anak sudah 3 maka saya meningkatkan tabungan dengan membeli 15 gram emas/ 6 bulan, saya selalu berusaha untuk membagi rata sebesar 5 gram untuk masing masing anak. Pada tahun 2009 dan anak saya yang pertama masuk SDIT yang mana waktu itu membutuhkan biaya sebesar Rp 6 juta sehingga saya hanya cukup menjual 20 gram emas miliknya. Begitulah kami merencanakan biaya pendidikan anak anak kami. Pada saat anak kedua dan ketiga saya masuk SDIT (tahun 2011 dan 2013), kami kebetulan tidak menjual emas milik mereka karena kami kebetulan punya uang untuk itu.

Cara konvensional kami ini mungkin terlihat ketinggalan jaman dan jarang diterapkan oleh kebanyakan para orang tua saat ini. Cara kami ini memang memerlukan disiplin yang tinggi dalam pelaksanaannya dan itulah yang mungkin para orang tua lebih memilih asuransi daripada menabung sendiri. Sampai saat ini kami masih melakukan hal yang sama yaitu menabung untuk pendidikan anak berupa emas/logam mulia yang kami simpan di deposit box pada sebuah bank. Dan kami bersyukur sejak tahun 2010 tabungan anak terus bertambah dan tidak pernah diambil, mudah-mudahan hanya akan kami pergunakan ketika mereka masuk universitas kelak. Saat ini anak saya sudah lima dan harga emas sudah menginjak Rp 500.000,-/gram sehingga saya hanya membeli 5 gram emas/bulan untuk tabungan pendidikan mereka berlima. Ini adalah cara kami dalam merencanakan biaya pendidikan anak-anak kami, karena tabungan pendidikan adalah tabungan jangka panjang sedangkan nilai mata uang akan turu dari tahun ketahun dan kami percaya hanya emas yang nilainya akan selalu tetap setabil dan mampu mengimbangi kebutuhan di masa depan. Jadi bagaimanakah para sahabat merencanakan keuangan untuk anak-anak anda?

gold-bar#Edi Padmono

Advertisements

9 thoughts on “Tabungan Pendidikan Tanpa Asuransi

  1. Kyanya kl aku ga disiplin deh mas, ada duit hawanya traveling aja hehe.. Akhirnya bingung jg kmr mo daftar ini SD nadia 8,5jt mas hiks… Utg asuransi nadia keluar 4jt..Mang setiap msk sekolah dana asuransi akan turun meskipun gq byk lumayan membantu lah 😉

  2. Pingback: Mandiri Setelah Pensiun | Menuju Madani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s