Rapor Merah dan Keceriaan

Beberapa waktu lalu sekitar awal bulan Maret 2014, aku pernah menulis setatus di FB yaitu  “Terimakasih telah membenciku selama hampir dua tahun ini #san efek” yang tentunya menggambarkan suasana hatiku yang sedang bersedih saat itu. Aku sangat jarang sekali menulis setatus yang tidak enak dalam FB dan beruntung setatus FB yang aku tulis tidak ada yang merespon berupa sebuah komentar. Mungkin kebanyakan teman tidak membaca setatusku atau membaca tetapi tidak paham atas kata kunci yang aku tulis, kalaupun ada yang komentar tentunya aku akan sulit untuk menjawabnya.

sedih

Bulan April adalah bulan dimana perusahaan tempat aku bekerja melakukan perubahan basic salary berupa kenaikan inflasi ditambah dengan performance setiap karyawannya. Performance karyawan ini dinilai dalam satu tahun berjalan oleh atasan langsung setiap department dan finalnya adalah penilaian dari Team Manager terminal di mana karyawan tersebut bertugas. Dan bulan Maret adalah saatnya pembagian nilai rapor itu oleh atasan langsung kepada setiap karyawan. Tidak ketinggalan akupun masuk ruang khusus untuk menerima penjelasan nilaiku selama satu tahun berjalan dan prosentase kenaikan gajiku.

Pada saat atasan memanggilku ke ruangan khususnya, langsung si bos menyatakan permintaan maafnya karena nilaiku tahun ini adalah merah dan aku hanya mendapatkan kenaikan gaji sesuai besarnya inflasi saja. Selama lima tahun terakhir ini, bosku ini sangat suka dan percaya akan kinerjaku  sehingga selama ini aku mendapatkan nilai yang bagus dan kenaikan gajikupun selalu diatas rata-rata. Berbeda sekali denga tahun ini, si bos bilang sudah menjelaskan kepada bos besar tentang kinerjaku akan tetapi ternyata si bos besar pernah tersinggung dan dengan terus terang kepada bos saya bahwa ia tidak nyaman berkomunikasi denganku. Maka wajar nilaiku merah, karena si bos besar adalah penentu nilai walaupun tidak obyektif ia tetaplah bos besar.

Ada sebuah kasus yang menyebabkan si bos besar membenciku, suatu ketika si bos besar dan bosku yang satunya mempunyai pekerjaan yang menantang untuk mendatangkan tambahan produksi yang tinggi namun penuh resiko. Pekerjaan itu sudah berkali-kali dimeetingkan dan terjadi perdebatan karena tingginya resiko sehingga sempat kami tolak, namun karena ini ada kaitannya dengan tambahan produksi akhirnya pekerjaan inipun dieksekusi juga dan kebetulan yang sedang bertugas adalah groupku saat itu. Dan akhirnya terjadilah kecelakaan dengan tumpahnya hasil produksi serta terjadi pembakaran pada flaring baik horizontal ataupun verikal secara berlebihan yang sangat membahayakan. Pada saat itu bukan tambahan produksi yang didapat melainkan kerugian.

Akhirnya aku dan groupku pun dipersalahkan dan saat itulah aku tidak terima dan sedikit marah kepada bos besar ini. Bagaimana tidak marah kemungkinan resiko sudah dianalisa dan mereka tetap menjalankan pekerjaan ini namun setelah terjadi masalah mereka berlepas tangan dengan menyalahkan yang melakukan pekerjaan, sesuatu yang tidak adil bukan…? Ternyata dari sanalah si bos besar menandai namaku dan membenciku yang akhirnya berujung pada nilaiku yang merah dan kenaikan gajiku yang terkecil dari yang lainnya.

Sedih tentunya mendapatkan nilai yang buruk atas kesalahan orang lain dan tidak obyektifnya seorang pimpinan, akan tetapi rasa sedih tetaplah harus ditelan sendiri dan akupun harus bekerja secara professional. Kesedihan itupun serta merta hilang dan berganti sebuah keceriaan ketika aku pulang dan bertemu dengan keluarga yang aku cintai terutama si kecil adik Zuhdi yang masih lucu-lucunya dan sangat menyita perhatianku. Hari-hari liburku aku habiskan untuk mengurus adik Zuhdi, dari memandikan hingga menggendong serta mengajaknya bermain. Aku suka mengambil photonya ketika adik Zuhdi nangis ataupun tertawa dan sesekali photo-photo itu aku share di FB seperti beberapa hari yang lalu aku ambil photo adik Zuhdi yang lagi anteng dan aku share di FB.

zuhdi

Sebuah kegembiraan tentunya membawa aura positif terhadap sebuah setatus FB itu terbukti ada beberapa orang yang memberikan jempolnya serta berkomentar di setatusku itu. Salah satu komentatornya adalah sahabatku Heni Kusniati yang hanya mengatakan “tembemnyaaaaaaa……gemeeezzzzzz” yang mengambarkan betapa senangnya ia melihat photo anak ke-5 ku ini. Dari komen heni ini, akupun tahu perasaan heni yang sangat merindukan si buah hati yang sampai hari ini belum datang juga setelah setahun menikah. “Sabar ya Hen….jika sudah saatnya si buah hati akan datang juga, berusaha terus dan selalu bertawaqal kepada Allah”. Itulah dua setattus FB ku yang berlawanan, yaitu sebuah kesedihan yang terobati menjadi sebuah keceriaan.

Giveaway Blogger Dengan Dua Status di BlogCamp.

Blogger Dengan Tiga Status

#Edi Padmono

Advertisements

15 thoughts on “Rapor Merah dan Keceriaan

  1. Anak memang salah satu pelipur hati yg paling indah, semoga rezeky keluarga mas Edi selalu berlimpah, Allah punya jalan yg sangat banyak kalau DIA sudah berkehendak uhdi itu nggemesin banget.

  2. Kalau nggak suka dengan Bos Besar, usahakan jangan memendam dendam di pekerjaan, karena itu nggak baik dan bakal mempengaruhi performa anda. Kalau memang sudah tidak tahan, usahakan keluar dari pekerjaan. Berusaha terus dan selalu bertawaqal kepada Allah

  3. Diperlakukan tidak adil gak mengenakkan. apalagi jika sudah bekerja sebagaimana mestinya. sabar yah, Om. wah, benar kata mbak Heni, dik Zuhdi pipinya tembem, pengen tak cubit. hihii. salam buat keluarga, semoga sehat selalu. dan sukses yah untuk GAnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s