Poligami Sesat

Kemarin ketika saya sedang naik taksi menuju bandara Soekarno-Hatta untuk berangkat kerja ke Kaltim, saya berbincang-bincang dengan pak sopir untuk sekedar mengisi kehampaan dalam berkendara. Melakukan interaksi dialog dengan orang yang berada di dekat saya adalah hoby saya, selain menambah teman juga untuk menambah pengetahuan yang mungkin dipunyai oleh orang lain. Karena asyiknya ngalor ngidul ngobrol sama pak sopir sampailah pada topik problema laki-laki. Pak sopir bercerita bahwa kemarin ia menjemput pelanggan untuk bepergian keluar kota namun sesampainya di bandara pelanggan itu minta diantar pulang lagi karena tiket pesawat yang sudah di persiapkan di dalam tas hilang. Setelah sampai dirumah ternyata tiket itu sengaja diambil oleh istrinya karena alasan cemburu yang mana di kota tujuan tersebut pelanggan pak sopir itu mempunyai istri muda.

Selain menceritakan kasus poligami pelanggannya, pak sopir juga menceritakan bahwa ia juga berpoligami namun tanpa sepengatahuan istri pertamannya. Pak sopir bahkan menyalahkan kepada pelanggannya bahwa permainnannya berpoligami kurang smart sehingga bermasalah dengan istri pertamanya. Dengan bangga pak sopir menceritakan kecerdasannya dalam berbagi cinta tanpa sepengetahuan istri pertamannya. Bahkan setelah mengetahui bahwa saya sering keluar kota, pak sopir itu menyarankan kepada saya untuk mengikuti jejaknya berpoligami. Pada awalnya saya hanya diam mendengarkan cerita tentang hebatnya ia berpoligami namun ketika pak sopir itu menyarankan kepada saya untuk berpoligami maka akhirnya terjadi perdebatan yang asyik di dalam taksi. Satu hal yang menarik adalah bahwa pak sopir membawa-bawa kata-kata sunah  dalam berpoligami ini.

Ketika pak sopir mengutarakan bahwa ia berpoligami adalah sunah, maka saya mempertegas pertanyaan saya apakah ingin menjalankan sunah atau sekedar ingin merasakan wanita lain. Pak sopirpun terdiam dan secara perlahan membenarkan pilihan kedua dari pertanyaan saya namun tetap berpegang pada prinsipnya bahwa ia benar karena merasa mampu menjalankan sunah berpoligami ini. Kemudian saya bertanya seberapa jauh ia menjalankan ibadah wajib sehingga sudah berani menjalankan sunah, apakah sholatnya tidak pernah ketinggalan? apakah puasanya selalu penuh? apakah zakat selalu ia tunaikan? dan jika ia merasa mampu sudahkah ia melakukan ibadah haji? Pak sopir itu terdiam dan membenarkan bahwa ia belum bisa menjalankan ibadah wajib dengan benar apalagi berhaji sama sekali tak terfikirkan olehnya karena ia tahu bahwa begitu mahalnya biaya untuk ibadah yang satu ini. Lalu pembicaraan saya tutup dengan skak mat “Bapak menunaikan hawa nafsu dan bukan menjalankan sunah” kemudian saya turun dari taksi dan bergegas ke ruang check in bandara.

Pada saat ini banyak kita jumpai kasus-kasus poligami sesat seperti kisah pak sopir diatas, tidak sedikit orang mengatasnamakan sunah untuk melegalkan perselingkuhannya. Poligami memang sunah dan bukanlah ajaran sesat jika pelakunya melakukan dengan baik sesuai kaidah yang telah diajarkan dalam agama. Tapi jika itu hanyalah untuk memuaskan hawa nafsu tentunya sudah terlepas dari ajaran sunah. Nafsu memang selalu mencari cara untuk pembenaran tindakan dengan mencari-cari dalil yang mendekatkan sebuah perbuatan yang salah agar terlihat benar. Begitu juga dengan poligami, seseorang mengatakannya melaksanakan sunah padahal telah nyata-nyata terjadi perselingkuhan yang akhirnya menuntut pertanggung jawaban kepada pelaku perselingkuhan itu. Biasanya pelaku perselingkuhan itu kemudian melakukan nikah siri untuk melegalkan perbuatannya tanpa sepengatahuan istri pertamanya dan kalaupun istri pertamanya tahu sudah terlambat.

Poligami diperbolehkan jika seseorang itu mampu dan berlaku adil serta mempunyai pemahaman agama yang bagus. Jika seseorang amalan ibadahnya saja kurang, sudah bisa dipastikan pemahaman agamanya masih sangat kurang. Bagaimana seseorang dianggap mampu dan akan berlaku adil jika mereka melakukan nikah siri dengan cara sembunyi-sembunyi dengan istri pertamanya walaupun tidak ada dalil yang mengatur bahwa berpoligami harus mendapatkan ijin darinya. Apalagi ia menikahi wanita yang lebih muda, lebih cantik yang tentunya lebih menggoda dan hati akan lebih cenderung kepadanya. Terhadap hartapun sudah bisa dipastikan seseorang akan memberikannya lebih kepada istrinya yang lebih ia sayangi dan kebanyakan istri sirinya yang cantik dan menggoda itu. Jika demikian sudah bisa dipastikan orang tersebut melakukan poligami sesat yang hanya dikarenakan dorongan hawa nafsu dan bukan mencontoh pada sunah atau lebih jelasnya legalisasi perselingkuhan.

Bagi para suami yang menginginkan untuk berpoligami sebaiknya mereka memberitahu dan meminta ijin kepada istrinya terlebih dahulu. Jika ternyata si istri tidak memberi ijin jangan memaksakan diri karena itu pertanda si suami belum benar dalam membina dan memahamkan istrinya. Dan jika si istri memberikan ijin untuk berpoligami maka si istri itu adalah wanita terbaik di dunia dengan pemahanan keagamaannya maka  pantaskah para suami menduakannya.

cintaku-kandas-di-genteng-kaliwayang.wordpress.com

#Edi Padmono

Advertisements

7 thoughts on “Poligami Sesat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s