Merelakan Kekasih

Hari demi hari mbah umar merawat mbah sri istrinya yang menderita penyakit stroke sejak 10 tahun yang lalu dengan penuh kasih. Setiap hari mbah umar memandikan, mendandani, menyuapi makan serta menemaninya bercerita dalam keseharian. Tidak terasa kakek dengan 13 cucu ini menjalani hidup seperti ini, terlebih semenjak mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman 2 tahun yang lalu dengan alasan tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Sebenarnya anak-anaknya terutama si sulung dan si tengah waktu itu keberatan dengan keputusan mbah umar dan istrinya untuk kembali ke kampung, namun karena mereka bersikeras maka anak-anaknya hanya bisa merelakan. “Kami sudah tua dan waktu kami tinggal sedikit lagi….jika kami di panggilNYa kami ingin di rumah kami sendiri” begitulah kata-kata mbah umar kepada anak-anaknya.

Beruntung, sebulan setelah kepulangan mbah umar, anak ke duanya yang perempuan mendapatkan pekerjaan di kota yang tidak jauh dari kampung mbah umar. Yang akhirnya anak perempuannya menyusul tinggal di kampung itu sehingga tetap ada anaknya yang membantu mbah umar merawat istrinya. Anaknya yang tengahpun selalu menyempatkan untuk menjenguk mereka 2 atau 3 bulan sekali. Dua tahun sudah mereka tinggal di kampung dan setiap kali hari raya seluruh anak-anaknya berkumpul mengunjungi mereka. Sungguh sangat ramai rumah itu, dahulu mereka hanya berdua kemudian menjadi 26 orang. Bahagia tentu rasanya mbah umar dan mbah sri melihat ke-24 anak, menantu dan cucunya berkumpul di rumahnya.

Setelah sekian lama mereka tinggal di kampung, kondisi mbah sri semakin memburuk, namun mereka tetap tabah menjalaninya. Hari itu , kamis 15 may 2014 tidak seperti biasanya, mbah sri terlihat lebih sehat dan cerah. Kebetulan malam harinya diadakan selamatan dan pembacaan surah yasien untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal. Mbah sri ikut dalam acara selamatan dan dan berinteraksi dengan tamu yang hadir, ikut tertawa lepas ketika para tamu sedang bergurau. Setelah larut malam dan para tamu sudah pulang semuanya barulah mbah sri masuk kamar untuk istirahat. Seperti biasa saat subuh, mbah sri dimandikan oleh mbah umar dibantu anak perempuannya kemudian didandani. Sebelum berangkat kerja, anak perempuannya menyuapinya sarapan bubur yang sangat lembut. Dengan mencium tangannya, anak perempuannya berpamitan untuk berangkat kerja. Waktu itu mbah sri tersenyum dan memandangi anak perempuannya sampai anaknya hilang dari pandangannya.

Setelah berjemur di halaman, jam 07.30 saatnya mbah sri minum jus yang sudah disiapkan oleh anak perempuannya dan mbah umarlah yang menyuapi jus itu. Setelah satu gelas jus habis, tiba-tiba mbah sri memuntahkan kembali jus yang sudah diminumnya. Badannya melemah, lalu mbah umar membaringkanya di ranjang. Mbah umar menelphon anak perempuannya agar ijin dari kerjanya dan berencana membawa mbah sri ke rumah sakit. Tidak lama kemudian anak perempuannya datang dan langsung mencari mobil untuk membawa mbah sri ke rumah sakit. Sembari menunggu mobil datang, mbah umar membaca Al-quran untuk istri tercintanya. Setelah beberapa saat mbah umar membaca Al-qur’an, mbah sri menarik napas sangat dalam lalu melepaskannya berlahan-lahan dan saat itulah napas terakhirnya. Jum’at 16 may 2014 pukul 09;00.

Mbah umar berhenti membaca Al-qur’an, dia terdiam, mulutnya bergetar dan matanya berkaca-kaca. “Innalillahi wa ina ilaihi rojiun……kamu sudah berangkat uti(panggilan mbah putri)…” dengan terbata-bata mbah umar mengucapkannya seraya memegang tangan kekasihnya yang sudah mulai dingin. Begitupun anak perempuannya yang hanya bisa termangu melihatnya. Mbah umar berusaha tegar dan tabah, lalu dia menata hatinya lalu berusaha dengan setenang mungkin dia raih hpnya dan menghubungi anak-anaknya. “kamu jangan panik, yang ikhlas dan kasih tahu adik-adikmu agar pulang hari ini….ibumu sudah tiada…” begitu mbah umar menyampaikan berita duka itu kepada anak sulungnya.

Berita meninggalnya mbah sri langsung menyebar ke seluruh kampung dan rumah tua itu menjadi sangat ramai oleh pentakziah. Akhirnya setelah pak modin(kaur kesra desa) datang, dengan dipimpinya dimandikanlah jenasah mbah sri oleh mbah umar dan anak perempuannya yang dibantu oleh 2 ibu-ibu warga kampung. Dengan sangat khidmat dan hati-hati, mbah umar membasuh bagian tubuh mbah sri sesuai instruksi pak modin yang berada di luar tirai. Di wudhukan, di basuh seluruh tubuhnya beberapa kali dan diakhiri dibasuh dengan air yang bercampur wewangian. Kemudian dikafaninya tubuh kekasihnya dan disholatkan oleh seluruh pentakziah yang hadir. Berhubung anak-anaknya yang berada di perantauan kemungkinan baru sampai tengah malam, maka warga dan mbah umar memutuskan untuk menunda pemakaman hingga besok paginya.

Jam 15;00 anaknya yang tengah bersama cucunya datang, mbah umar menyambut dan memeluk anak dan cucu laki-lakinya. “Jangan sedih….yang ikhlas ya…sudah menjadi takdir ibumu hanya sampai disini….”ucap mbah umar kepada anaknya dengan nada berusaha tegar. Kata-kata yang sama ketika anak-anak dan cucu-cucunya yang lain berdatangan. Jam 23;00 anak dan cucu sudah berkumpul. Dengan dipimpin si sulung, mereka menyolatkan ibu/nenek tercinta. Kemudian mereka beristirahat bergantian sambil menunggu pagi tiba. Kecuali mbah umar, dia tetap setia menjaga jenazah kekasihnya yang sudah terbungkus kain kafan. Di hadapan orang mbah umar bisa berbohong menutupi kesedihannya, namun ketika dia seorang diri yang terjaga….semuanya terungkap betapa sedihnya dia akan berpisah dengan kekasihnya. Sepanjang malam, dengan suara parau dan terkadang terbata-bata dia membaca Al-Qur’an.

Pagi hari telah tiba, jenazahpun siap dimakamkan, mbah umar memeluknya sebelum jenazah mbah sri dimasukkan kedalam keranda. Keranda dipikul oleh ke-4 anak laki-lakinya menuju pemakaman yang berjarak kurang lebih 3 km dari rumah itu. Bersama anak, cucu, kerabat dan seluruh warga, mbah umar mengikutinya dari belakang. Sesampainya di pemakaman, dengan disaksikan oleh mbah umar, ke-4 anak laki-lakinyalah yang mengangkat dan meletakkan jenazah ke dalam liang lahat kemudian berlahan menutupnya dengan tanah. Sedikit demi sedikit lalu jenazah itu benar-benar hilang dari pandangan mata. Tidak terasa air mata mbah umar berlinang deras di pipinya yang tirus. Pemakamanpun selesai dan semua orang kembali kerumahnya masing-masing. Sore harinya, mbah umar mengajak anak-anak laki-lakinya untuk kembali ke pemakaman untuk merapihkan kuburan mbah sri.

Lima puluh tahun sudah mbah umar dan mbah sri hidup bersama, mereka saling mencintai dan menyayangi. Dengan cinta mereka mengarungi pahit getirnya kehidupan. Dengan cinta mereka membesarkan anak-anak mereka. Cinta mereka begitu kuat sehingga mampu merubah sebuah kemiskinan menjadi kebahagiaan, merubah air mata menjadi tawa, merubah anak-anaknya yang hanya seorang anak kampung yang terbelakang menjadi orang yang bermartabat dan mapan. Cinta mbah umar yang begitu kuat yang mampu membuat mbah umar begitu tabah dan sabar merawat kekasihnya yang lumpuh hampir selama 10 tahun. “Namun sayang…..cinta mbah umar tidak terlalu kuat untuk menyelamatkan kekasihnya dari kematian…..” Itulah takdir cinta mereka yang harus terpisahkan oleh ajal.

#Edi Padmono

Advertisements

2 thoughts on “Merelakan Kekasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s