Meremehkan

Setelah lima tahun aku menjalani pekerjaan sebagai seorang mekanik alat berat, tentunya kemampuanku mulai bisa diperhitungkan oleh beberapa customerku. Selain troubleshoot aku juga mahir dalam bongkar pasang komponen yang rusak dan harus diganti ataupun sekedar harus di ripair. Unit alat berat yang biasa aku tangani hanya dua jenis yang mana dari keduanya itu aku sudah hapal jenis-jenis komponennya dari engine, pompa hydrolic, sistem penggerak dan accesoriesnya. Dari berbagai komponen yang ada, aku juga sudah sangat paham bagaimana cara membongkarnya dengan aman jika terjadi kerusakan. Bagaimana tingkat kesulitan dalam membongkar ataupun memasangnya, memerlukan alat bantu atau tidak dan memerlukan teman untuk mengerjakannya atau tidak semuanya sudah dapat aku perhitungkan.

Dari kepiawaianku dalam menganalisa masalah dengan tepat dan kecepatanku dalam bekerja baik dalam kegiatan bongkar pasang serta perbaikannya, maka tidak diragukan lagi banyak customer yang selalu memilihku untuk mengerjakan unit-unit mereka yang rusak. Tidak jarang para customer itu menawarkanku untuk bergabung dengan perusahaannya dengan fasilitas gaji dan benefit yang lumayan wah dibanding dengan apa yang aku dapatkan di perusahaanku saat itu. Tidak jarang juga customer yang melakukan bypass kepadaku ketika unitnya mengalami kerusakan, yaitu memanggilku secara pribadi di hari sabtu atau minggu dan membayar jasa servisnya secara kontan. Pada akhirnya aku menjadi orang yang mendua dalam bekerja, senin sampai juma’at aku bekerja dibawah naungan perusahaan dan ketika sabtu dan minggu aku bekerja secara pribadi. dan disinilah letak kegemilanganku, penghasilanku diluar perusahaan jauh melampaui penghasilanku di perusahaan.

Suatu hari, seperti biasa setiap senin pagi tim servis melakukan meeting untuk pembagian job yang dipimpin oleh supervisor dan manager servis. Semua mekanik termasuk aku mendapatkan job yang kebanyakan job itu berada di luar kota. Aku mendapatkan job yang menurutku sangat ringan dan sepele karena tidak memerlukan troubleshoot yang panjang dan rumit. Aku hanya mengecek keausan roda gigi sistem penggerak unit kemudian membongkarnya dan kemudian membuat dokumentasi untuk waranty claim karena unit tersebut masih dalam masa waranty. Kebetulan hari itu aku tidak kebagian mobil dinas sehingga aku menunggu customer untuk menjemputku untuk pergi ke job site. Setelah administrasi sudah lengkap maka berangkatlah aku bersama customer menuju likasi alat yang rusak.

Sesampainya di job site aku langsung menuju tempatke unit yang rusak itu parkir. Aku ingin pekerjaanku cepat selesai dan cepat kembali karena menurutku pekerjaan ini sangatlah terukur dan aku sering menangani kasus seperti ini. Terlebih unit yang rusak ini typenya lebih kecil dari yang sering aku tangani.Biasanya aku menangani unit yang berkapasitas 200 atau 400 ton sedangkan yang rusak ini adalah berkapasitas 100 ton. Secara logika roda gigi yang ada di system penggerak pastilah lebih kecil dan ringan dibandingkan unit 200 atau 400 ton. Aku mulai mengecek pelumasnya dan ternyata banyak serbuk besi yang bisa dipastikan bahwa roda gigi didalamnya sudah sangat aus. Kemudian aku membuka covernya dan terlihatlah komponen roda gigi yang harus aku angkat untuk diambil dokumentasinya.

Perkiraanku benar adanya, bahwa ruda giginya lebih kecil daripada yang biasa aku bongkar. Karena letak system penggerak itu berada di bawah maka aku harus mengambil posisi jongkok untuk menarik keluar kumpulan roda gigi itu. Sayang seribu sayang, roda gigi yang kelihatannya kecil dan ringan ternyata dia berbentuk tebal dan memanjang sehingga terasa sangat berat dan……prak….aku tidak sanggup menahannya dan jemari tangan kiriku tertimpa kumpulan roda gigi itu. Besi bertemu besi sementara jemariku ada di tengahnya…..bisa terbayangkan….? Karena kejadiannya begitu singkat, aku tidak merasa jika tanganku terluka, dengan tangan kananku aku mengeser benda itu dari tangan kiriku. Saat itulah aku baru tahu bahwa jari manisku tidak dapat digerakkan lagi karena otonya sudah putus terhantam roda gigi. Beruntung semua jari-jariku berada di sela-sela roda gigi sehingga tulangnya aman dan tidak remuk. Saat itulah aku baru menyadari bahwa aku terlalu percaya diri terhadap pekerjaan, dan sesuatu yang aku lupakan adalah unit yang berbeda mempunyai karakteristik yang berbeda pula.

Meremehkan pekerjaan yang sederhana adalah ancaman terbesar pada keselamatan diri sendiri. Dari kejadian itu aku harus mengalami operasi selama 8 jam untuk menyambung otot-ototku yang putus dan harus menjalani rehabilitasi selama tiga bulan. Selama rehabilitasi itulah aku tidak bisa mendapatkan penghasilan seperti biasanya. Kejadian itu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagiku dan tidak akan pernah terlupakan. Bahwa aku tidak akan menganggap remeh sebuah pekerjaan walaupun itu kecil dan sederhana. Mudah-mudahan pengalamanku ini bisa menjadi pelajaran bagi para pembaca.

“Merasa hebat denga hasil yang telah dicapai adalah awal dari kecerobohan”

#Edi Padmono

Advertisements

6 thoughts on “Meremehkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s