Janda juga Manusia

Minggu lalu ketika saya makan malam bersama beberapa bos dan teman-teman, ada satu perbincangan yang hangat yaitu membahas bahwa ketika mereka bersepeda santai melawati kampung mereka mampir di rumah seorang janda muda. Masing-masing dari mereka begitu antusias memperbincangkan janda muda ini. Dari kronologis kematian suaminya sampai peluang-peluang mereka untuk bisa masuk ke dalam kehidupan si janda dibahas dalam perbincangan mereka. Dari perbincangan itu saya bisa menyimpulkan bahwa mereka sangat memandang rendah si janda yang malang itu.

Jika berbicara mengenai penderitaan seorang janda, saya adalah seseorang yang mungkin paling memahami penderitaan mereka. Bagaimana tidak, saya sudah hidup bersama seorang janda dari umur lima tahun. Sejak usia tiga tahun saya diasuh oleh bibi (adik ibu) yang dikarenakan bertahun tahun menikah tidak dikaruniai seorang anak. Bibi berharap saya mampu menjadi pancingan (istilah orang jawa) agar mendapatkan keturunan. Dua tahun sudah mengasuh saya namun bibi juga belum mendapatkan seorang anak. Alhasil bibi diceraikan oleh suaminya dan suaminya memilih menikahi perempuan lain yang dianggapnya tidak mandul. Mulai saat itulah saya diasuh oleh seorang janda, menemaninya dalam setiap getirnya kehidupan. Bibi sebenarnya pernah sekali menikah lagi namun berujung pada perceraian juga karena hal yang serupa yaitu karena dia adalah perempuan yang mandul. Lalu bibi menikah lagi dengan seorang duda namun sayang suaminya tidak berumur panjang dan bibi akhirnya menjanda sampai sekarang.

Hidup bersama seorang janda tentu saya sangat memahami begitu miringnya pandangan masyarakat terhadap perempuan bernasip malang ini. Bagi kaum perempuan, janda dianggap sebagai wanita penggoda suami-suami mereka. Dan bagi kaum laki-laki, seorang janda adalah wanita murahan yang bisa dengan mudah digoda dan dijadikan selingkuhan. Adik ibu ini setelah menjanda harus mencari nafkah dengan membuka warung nasi di pagi hari dan membatik di sore harinya. Pada saat berjualan nasi inilah dia selalu digoda dan dirayu-rayu oleh laki-laki hidung belang. Pernah suatu hari saya menyaksikan kekurangajaran seorang laki-laki yang menggoda bibi, saya marah dan tidak terima melihat bibi diperlakukan seperti itu, kemudian saya mengambil sebuah batu kemudian saya lemparkan ke kepala laki-laki itu sehingga kepalanya berdarah. Tidak jarang juga bibi sering mendapatkan serangan-serangan fisik dari ibu-ibu yang selalu mencurigainya sebagai wanita simpanan suami mereka. Menghadapi semua tuduhan dan perilaku miring masyarakat bibi hanya bisa bersabar dan menangis dan sayalah saksi dari derasnya air matanya pada setiap malam-malamnya.

Begitupun ketika saya dewasa dan berkeluarga, sayapun harus menyaksikan penderitaan mbak Asih istri dari saudara angkatku yang menjanda dikarenakan suaminya meninggal dunia karena radang paru-paru akut. Mbak asih harus berjuang membesarkan kedua anaknya seorang diri disamping harus melawan gunjingan-gunjingan miring warga tentang setatusnya yang janda. Serba salah memang nasip seorang janda, ketika memulai berusaha dan mencari pinjaman selalu digosipkan menggoda suami orang dan ketika dia sudah bisa mandiri mengelola usahanya dan cenderung mapan, masyarakat menggosipkannya sebagai perempuan simpanan dan sebagainya. Begitupun ketika saya bersama istri mengunjunginya dan menginap maka masyarakat kasak-kusuk membicarakannya, padahal masyarakat itu juga tahu bahwa saya pernah tinggal dirumah itu dan diasuh oleh suaminya ketika SMA.

Kemudian tahun 2011 lalu bertambah satu lagi seorang janda dalam kehidupan kami. Adalah kakak sepupu istri yang ditinggal suaminya menghadap sang khaliq karena sakit komplikasi yang tidak terobati. Dia harus tetap menjalankan kehidupannya, membiayai anaknya sekolah dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Saya dan istri memang dekat dengannya, karena dulu istri dan kakak sepupunya ini satu kontrakan ketika masih lajang. Sedikit banyak saya dan istri membantu meringankan kehidupannya.  Awalnya biasa saja, namun ketika hal itu berkelanjutan masyarakatpun mengartikan lain dan membicarakan yang tidak tidak terhadap keakraban kami. Begitulah kondisi masyarakat kita yang masih menganggap rendah setatus janda seseorang. Jika dia ramah dikatakan menggoda dan jika dia diam dikatakan sok jaim cari perhatian.

Bagi saya pribadi, seorang janda adalah manusia hebat yang tidak terukur oleh apapun. Bagaimana tidak, dia harus mengurus diri dan anak-anaknya seorang diri, seperti aisah sahabatku yang yang menjanda dengan lima anaknya yang harus dia biayai hidup dan sekolahnya. Para janda itu harus mempertahankan diri dari segala gangguan dan hinaan masyarakat umum yang tidak sesuai dengan fakta kehidupannya. Menjadi janda bukanlah pilihan namun hanyalah sekedar menjalankan takdir yang harus dia emban. Sebenarnya ada yang benar-benar aneh di dalam masyarakat kita kenapa kebanyakan mereka memandang miring setatus janda seseorang, padahal perpisahan suami istri yang mengakibatkan seseorang bersetatus menjadi duda atau janda hanyalah soal waktu. Bukankan hidup ini hanyalah antrian panjang yang waktunya pasti akan kita lalui. Dan seharusnya kita berfikir jika kita yang mengalaminya lebih dulu bersetatus duda atau janda apakah kita mampu bertahan menjalani kehidupan seperti mereka mereka itu.

#Edi Padmono

Advertisements

8 thoughts on “Janda juga Manusia

  1. pandangan demikian mungkin ada yang memulai bahwa dahulunya ada janda yang bertindak kurang baik, sehingga tertanam di masyarakat bahwa semua janda demikian. mirip dengan pandangan ibu tiri.

    wallaahu a’lam

  2. Bagi saya janda lebih mulia ketimbang wanita biasa. Ayah saya meninggal ketika saya duduk di klas 1 SMA sementara adik saya klas 1 SMP, sejak saat itu ibu berjuang demi kami dan sampai detik ini ibu tetap menjanda, cintanya kepada alm. Ayah begitu suci tak dpt digantikan oleh lelaki manapun

  3. Saya kurang setuju jika masyarakat digebyah uyah dianggap berpandangan miring terhadap para janda. Kalaupun ada itu hanya beberapa kasus saja. Mungkin itu juga terjadi krn ada bbrp yang bersikap kurang adil memperhatikan hanya pada janda2 muda padahal banyak juga janda2 sepuh yg hidup berkekurangan. Saya fikir janda2 yang berusia lanjut berlebih-lebih lagi kesusahannya jika, ada tetangga saya sudah janda berusia tak lagi kuda dengan tanggungan anak sekaligus cucu-cucunya juga.Apakah kita sudah punya kepedulian yg sama thp mereka ? Semoga saja.

  4. Ah, saya juga pernah menulis tema ini di kompasiana, memang memprihatinkan stereotip negatif orang2 pada status ini padahal semua kembali ke pribadi masing2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s