Aku menerimanya yang luar biasa

Aku dan dia memang tidak saling kenal sebelumnya, karena diperkenalkan oleh temanku maka aku mengenalnya dan saat itu juga aku meminta  dia untuk bersedia menjadi istriku.Diapun menjawab bersedia dan mempersilakanku datang ke rumah orang tuanya untuk melamarnya. Sungguh konyol memang, akupun datang kerumah orang tuanya dua minggu kemudian seorang diri dan melamarnya. Setelah melakukan pembicaraan yang panjang akhirnya orang tuanya pun menerima lamaranku dan sekaligus menentukan hari pernikahan dua minggu kemudian dan menikahlah kami pada hari itu. Kamipun menjadi sepasang makhluk yang hidup bersama namun tidak saling kenal sebelumnya dan mulai saat itulah kami berusaha untuk saling mengenal.

Pada awalnya aku berniat untuk menerimanya apa adanya, entah apapun sifat aslinya nanti akan aku terima. Dalam berjalannya waktu akhirnya kamipun saling mengenal satu sama lain dan cinta itupun tumbuh. Namun aku tidak bisa menerimanya apa adanya, tetapi aku merasa dia begitu spesial dan luar biasa. Dalam waktu yang tidak lama, dia mampu mengenali sifat-sifatku dan bagaimana caranya memperlakukan sebagai suaminya. Semua yang dia perbuat selalu membuat diriku senang dan bangga bisa bersanding dengannya. Pengabdiannya begitu tulus, bicaranya selalu menyenangkan dan menenangkan hati. Sehingga akupun berusaha untuk selalu membalas pada setiap kebaikan dan kelembutannya kepadaku.

Ketulusannya dalam pengabdian tidak berubah manakala aku dalam kondisi terpuruk yaitu terkena PHK dan menjadi pengangguran selama dua tahun. Dia selalu menghiburku dan memberiku semangat agar tetap kuat dalam sulitnya ekonomi. Selalu setia dan menungguku pulang dari berjualan asongan sepanjang hari di bus kota dan terminal. Selalu memijat tubuhku dan menemaniku melepas lelah setiap malam-malamnya. Setiap ba’da shubuh, dia selalu membantuku menyiapkan dagangan yang akan aku bawa berjualan kemudia barulah dia menyiapkan sarapan agar fisiku kuat dalam meraih rezeki berlari dan naik turun bus kota. Terkadang diapun memberiku bekal nasi bungkus untuk makan siangnya agar aku tidak kelaparan dalam berjualan. Ada kalanya berjualan tidak selalu lancar, karena lelah namun hasil tidak sesuai harapan membuatku marah dan dongkol terbawa sampai di depannya. Namun lagi-lagi dia mampu meredam emosiku dengan senyumnya dan belaian lembut tangannya di kepalaku.

IMG_20140413_113416Begitupun ketika aku sudah mendapatkan kerja, dan akupun harus merantau ke tanah seberang. Dia tetap menemaniku walaupun kami tidak punya kenalan ataupun keluarga di kota itu. aku bekerja sebagai orang lapangan yang harus meninggalkannya selama tiga sampai lima hari setiap minggunya, namun dia tidak pernah khawatir bahkan mengeluh tentang itu. Bersama anak-anaknya dia tetap setia menunggu kepulanganku.

Ketika kami baru tinggal  tiga bulan di kota itu, ada sesuatu yang mempesonaku. Yaitu dia sudah mampu mempunyai teman yang banyak dari majlis taklim di daerah itu dan bahkan mereka akrab seperti saudara. Bukan hanya itu, ibu ibu tetangga kontrakan yang dulunya tidak pernah ikut pengajian menjadi ikut pengajian dan merubah pakaian kesehariannya menjadi pakaian muslimah dan berjilbab. Dia begitu luwes dalam bergaul dan mampu mewarnai suasana lingkungan sekitarnya.

Pada awal aku bekerja, aku tidak diterima dengan baik di lingkungan kerjaku, karena kebanyakan mereka adalah karyawan lokal. Namun dia mempunyai solusinya yaitu dengan sering mengajaku bersilaturahmi kerumah-rumah rekan-rekan kerjaku, akhirnya akupun bisa bekerja dengan lingkungan yang nyaman dan akrab dengan teman. Lagi-lagi aku sangat terpesona kepadanya, dia bukanlah orang yang berpendidika formal namun bisa bergaul dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi. Ketika ada pertemuan keluarga tempat aku bekerja, diapun begitu akrab dengan para istri-istri rekan-rekan kerjaku. Bukan hanya itu, dia juga akrab dengan istri beberapa atasanku dan anehnya dia begitu akrab dengan istri GM ku yang notabennya adalah non muslim dan mungkin karena itulah aku dikenal oleh bos besar lalu di amanahi sebuah project.

Dia memang sangat luar biasa di mataku, 15 tahun sudah aku hidup bersamanya dan sudah dikaruniai 5 orang anak namun belum pernah dia membuatku marah dan kesal. Walaupun terkadang aku terbawa emosi ketika sedang ada permasalahan di tempat kerja, namun dia tidak pernah terpengaruh ataupun terpancing oleh emosiku bahkan dengan kelembutannya dia mampu meredam emosiku. Terkadang aku sengaja mencari gara-gara agar kami bisa bertengkar seperti layaknya sinetron, akan tetapi sepertinya dia tahu dan sebelum aku memulainya dia sudah memelukku dan merebahkan kepalanya di dadaku smabil memandangiku dengan senyumannya yang indah. Ah….dia memang luar biasa dan aku akan menerimanya dengan luar biasa pula…..

#Edi Padmono

Advertisements

19 thoughts on “Aku menerimanya yang luar biasa

  1. Terharu … barakallah .. semoga keluarga Mas Edi samara. Senang sekali membaca tulisan ini, sungguh penghargaan yang tulus dari seorang suami kepada istrinya. Alangkah bahagianya istri mas Edi bila membaca ini … sudahkah ia membacanya?

    Oya salam saya untuknya, Terima kasih atas tulisan inspiratifnya …

  2. Cerita yang luar biasa mas Edi.
    Seperti itulah cara menjadi istri sholekhah. Saya juga terus berusaha menjadi pribadi seperti itu. Yg selalu menerima kekurangan dan kelebihan suami. Tak putus asa ketika berada di bawah. mengorbankan blog kesayangan dan banyak teman demi menegakkan kembali periuk dapur yang terguling 3 tahun lalu. Semoga bisa menjadi keluarga samawa seperti mas Edi dan istri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s