Keberuntunganku Adalah Menikahinya

Tahun ini adalah genap 15 tahun usia pernikahan kami, tepatnya adalah 19 November kemarin. Dalam usia yang ke 15 tahun ini, aku akan mencoba mengulas tentang perilaku istri kepadaku dan keluarga. Mungkin yang membaca tulisan ini akan menyangka aku terlalu lebay dan hanya menonjolkan yang baik-baik saja, tetapi di sinilah sebenarnya letak keberuntunganku karena menikahinya, yaitu selama 15 tahun hidup bersama aku memang belum pernah menjumpai keburukannya. Bahkan untuk sekedar buang gas aku belum pernah tahu kapan dia melakukannya. Mungkin karena aku begitu mencintainya dan bahagia hidup bersamanya, sehingga aku tidak pernah bisa melihat sisi keburukannya. Bagiku, dia adalah wanita yang selalu mempesona hatiku dari waktu ke waktu dan juga bangga dengan memilikinya.

Dia adalah seorang yang ikhlas dalam menjalani kehidupan, selalu berani untuk menerima apa yang telah ditakdirkan kepadanya. Salah satu takdir itu adalah aku yang tidak pernah dia kenal sebelumnya namun dengan singkat tanpa basa basi memintanya untuk menjadikanya seorang istri. Dia ikhlas dan berani menerima lamaranku walaupun dia tidak pernah tahu asal usul keluargaku dan bagaimana sejatinya sifat sifatku. Lalu dengan keikhlasan dan keberaniannya dia meninggalkan rumah orang tuanya dan mengikutiku yang tidak tentu arah dan tujuan serta tanpa mengetahui kehidupan seperti apa yang akan aku berikan kepadanya. Diapun ikhlas ketika aku hanya mampu menyewakan sebuah bangunan kecil yang kumuh dan berukuran 3 x 3 meter yang sebenarnya tidak layak untuknya.

IMG_20140413_113416

Sebagai seorang istri, dia adalah seorang yang sabar. Sebuah kebiasaannya adalah menunggu kepulanganku di teras sampai aku benar-benar datang sehingga dialah yang menyambutku pertama kali dengan mencium tanganku. Dulu ketika aku masih jadi pengangguran dan hanya berdagang asongan yang tidak tentu jam pulangnya, dia selalu menunggu aku pulang di teras kontrakan dari ba’da Ashar dan jika sudah masuk mahrib aku juga belum pulang maka dia masuk kontrakan untuk sholat Mahrib lalu setelah itu dia kembali menungguku di depan kontrakan. Dia memang tidak pernah bertanya kapan aku pulang tapi dia hanyalah menghapal kapan biasanya aku pulang. Sampai saat ini kebiasaanya menunggu di depan rumah juga masih dia terapkan, namun sekarang karena jadwalku sudah pasti diapun juga menuggunya beberapa menit menjelang kedatanganku. Selain menunggu, dia juga menyiapkan makan, minum hangat dan handuk untuk mandi. Ketika aku berada di luar kota, dia selalu meluangkan waktunya untuk menerima telponku da sela sela kesibukannya mengurus rumah tangga seorang diri.

Di dalam mengurus rumah tangga terutama anak-anak dia juga sangat sabar. Mengurus lima orang anak yang kebetulan masih kecil-kecil dan anak ke-4 / 5 masih balita tentu sangat merepotkan terlebih kami tidak mempunyai ART dan aku sendiri lebih banyak di luar kota. Bisa dibayangkan seperti apa kondisi rumah yang seperti kapal pecah jika anak-anak bermain dan dialah yang merapihkan setiap saat walaupun berantakanlagi dan lagi. Selain anak sendiri, dia juga harus direpotkan oleh anak tetangga yang maen ke rumah karena kebetulan rumahku adalah rumah yang nyaman untuk mereka bermain. Dalam mengurus anak-anak, dia awali hidupnya dari jam 04:00 pagi dengan membangunkan anak anak agar mandi dan berangkat ke masjid untuk sholat shubuh. Lalu dia mempersiapkan sarapan dan bekal anak-anak sekolah. Lalu dilanjutkan memandikan kedua balita dan barulah mengerjakan kegiatan rumah tangga yang lain sampai akhirnya dia tutup kegiatannya hari itu jam 10.00 malam setelah selesai merapihkan cucian yang kering untuk di seterika esok harinya.

Saya fikir vidio klip bang Rhoma tentang istri sholehah adalah legenda saja dan sulit dijumpai di dunia nyata. Akan tetapi lagi-lagi aku begitu beruntung yang mendapatkannya. Dia begitu patuh dan berbakti kepadaku, dia selalu menyambutku dan mencium tanganku. Walaupun aku tidak peduli tentang makanan, dia selalu menanyakan kepadaku tentang ingin masakan apa hari itu dan pasti dibuatkan dan dihidangkan secara terpisah hanya untuk diriku dan dia tidak akan membaginya kepada anak-anak sebelum mendapat izin dariku. dan ketika aku ada dirumah dia tidak akan makan jika tidak bersama-sama denganku, dialah yang menyajikan semuanya lalu kami makan bersama-sama. Ketika kami sudah dalam kondisi santai dan menonton TV, dia sempatkan tangannya yang lembut memijat kakiku walaupun sebenarnya dia lebih capek dibanding denganku. Begitupun ketika kami akan beristirahat malam, dia selalu memijat tubuhku sampai terkadang aku tertidur.

Dia memang sangat patuh dan menghormatiku. Ketika dia hendak bepergian entah itu pengajian ke masjid, arisan sekolah ataupun berobat ke rumah sakit, dia selalu memberitahu dan ijin kepadaku. Dia juga sangat percaya kepadaku, dia selalu percaya bahwa aku tidak akan macam-macam di luar kota. Berkenaan dengan keuangan, dari dulu sampai sekarang dia selalu membuat perincian pemakaian uang yang aku berikan kepadanya. Selain kepadaku, dia juga sangat berbakti kepada mertuanya dan bahkan dialah yang mengajariku tentang cara merawat orang tua yang sedang sakit parah. Dialah satu satunya menantu yang mau membersihkan kotoran, memandikan dan mendandani ibu. Begitupun kepada bapak mertua, dia begitu menghormati dan baik merawatnya. Menyediakan secangkir kopi setiap pagi dan petang, menghidangkan makanan untuknya. Untuk urusan makan, mengurus bapak bukanlah hal yang mudah karena bapak tidak doyan dengan yang amis amis bahkan ayam goreng harus digoreng sangat kering. Namun Istriku tetap saja mampu menghidangkan masakan yang menyenangkan untuk bapak mertuanya.

“Aku memang laki-laki yang beruntung telah menikahinya, wanita yang dulu aku pilih seperti dalam permainan dadu. Seperti dirinya, dirikupun tidak pernah tahu sifat sejatinya dia sebelumnya.”

Tulisan ini diikutkan Giveaway Istri yang Baik

#Edi Padmono

Advertisements

11 thoughts on “Keberuntunganku Adalah Menikahinya

  1. Subhanallah mas Edi beruntung sekali semoga istrinya terus sholehah mas Edi…selamat ya mas untuk ulyah nikahnya….saya kapan yah?? hehe mantap sya terikat sekali ini ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s