Aku Bebas di Usia 35 Tahun

Setiap manusia tentu mempunyai mimpi ataupun cita-cita, dan dalam mencapai semua itu tentu juga berbeda-beda cara untuk masing-masing individu. Di dalam perjalanan hidup tentu mimpi ataupun cita-cita tersebut akan mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan jaman.Dan mimpi ataupun cita-cita itu tentu tidak terlepas dari lingungan sekitar dan orang-orang yang dikagumi. Begitupun aku, aku ingin menjadi orang hebat seperti orang tuaku namun tidak ingin bernasip sama dengannya. Bagiku orang tuaku adalah orang yang hebat karena dalam keterbatasan ekonomi namun masih peduli dan mau serta sanggup menyekolahkan ke-6 anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi walaupun hanya Diploma 3. Hidup orang tuaku dihabiskan untuk bekerja keras, hutang sana sini untuk sekolah anak-anaknya sampai beliau berumur lanjut.

Hidupku harus lebih baik dari orang tuaku dan aku juga tidak ingin bernasip sama dengan orang tuaku, itulah prinsip yang aku pegang sejak kecil. Ketika aku bersandar di dinding bambu rumah hayalanku menerawang jauh kedepan rumah seperti apa kelak yang ingin aku miliki. Begitupun ketika melihat begitu lelahnya orang tuaku pulang dari sawah hatikupun bergejolak bahwa aku tidak mau bekerja kasar seperti orang tuaku. Dan ketika kakak-kakakku pulang minta uang bayaran kuliah ataupun yang lainnya orang tuaku pontang-panting kesana-kemari mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, dalam hatiku aku berucap bahwa aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk hal-hal seperti orang tuaku.

Untuk itu semua aku membuat sebuah perencanaan hidup yang aku desain ketika masih SMA kemudian aku mulai mengembangkan desain itu ketika di bangku kuliah dan kemudian aku canangkan program-program dalam perencanaan itu setelah menikah. Desainku itu sebenarnya sangat sederhana yaitu jika orang tuaku hanya mampu membuat sebuah rumah berdinding bambu maka aku ingin rumahku adalah rumah permanen dan layak huni, jika orang tuaku mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjang D3 maka aku harus mampu menyekolahkan anak-anakku minimal sampai ke jenjang S2 dan jika orang tuaku harus menghabiskan hidupnya untuk biaya-biaya itu maka aku ingin hidup bebas di usia 35 tahun. Program yang sederhana tapi sebenarnya sangat rumit dan berat dalam pelaksanaannya.

Aku lulus D3 usia 19 tahun dan langsung menikah di usia 20 tahun saat itulah program-programku harus siap berjalan karena waktuku hanya 15 tahun untuk pencapaiannya.Bersama istri aku mengatur sedemikian rupa gaji yang aku peroleh, kami membuat beberapa pos tabungan dan ketika semua pos itu sudah terisi barulah sisanya cukup atau tidak cukup harus cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Pada awal pernikahan ternyata aku mengalami keterpurukan ekonomi, aku menjadi pengangguran dan harus berjualan asongan selama 2 tahun. Aku hampir putus asa dan merasa akan menemui kegagalan dalam menjalankan program-program perencanaanku. Namun aku sangat beruntung memiliki seorang motivator yang handal dan penuh kasih sayang yaitu istri tercinta. Aku menjadi tidak putus asa dan sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan lagi.

Setelah mendapatkan pekerjaan maka aku berlari sangat kencang mengejar ketertinggalanku selama 2 tahun dan aku mengambil jalan sangat extrim. Jika orang lain menghindari “besar pasak daripada tiang” maka aku justru sebaliknya, aku membuat pengeluaranku jauh lebih besar dari gajiku. Akan tetapi bukan berarti aku berhura-hura melainkan aku menghabiskan seluruh gajiku untuk mengisi pos-pos tabunganku diantaranya adalah tabungan pendidikan anak dan tabungan untuk pembelian rumah. Bagaimana untuk kebutuhan sehari-hari…? Inilah kondisi yang sengaja aku ciptakan, tidak ada uang untuk sekedar makan makan dan sewa kontrakan. Teori pribadiku berhasil bahwa manusia jika dalam kondisi kekurangan dan kepepet maka akan menggunakan seluruh kekuatan dan kemampuannya untuk mempertahankan diri dan keluarganya. Akhirnya selain bekerja di perusahaan aku freelance sebagai guru privat, mekanik panggilan sampai sampai waktu istirahatku setiap hari hanya 2 – 3 jam saja.

Setahun kemudian Aku bisa membeli rumah dengan fasilitas KPR. Aku mengambil fasilitas kredit yang singkat yaitu hanya 5 tahun sehingga gajiku lagi-lagi habis untuk membayar angsuran rumah setiap bulannya. Seharusnya gajiku masih ada sisanya, tetapi karena aku mengisi buku rekening KPR 1,5 kali angsuran dan tabungan pendidikan anak aku naikan maka habislah gajiku setiap bulannya. Ketika KPR berjalan 3 tahun sisa angsuran yang biasanya saya lebihkan cukup lumayan dan aku pergunakan lagi untuk membeli properti baru yang lama kreditnya juga hanya 5 tahun. Kondisi itu terus menerus aku terapkan sampai tahun ke 13 aku membeli rumah dan menaikan tabungan pendidikan anak-anakku. Tahun 2014 ini adalah genap 35 tahun usiaku, tabungan pendidikan anak-anakku yang selalu aku wujudkan logam mulia secara perhitungan sudah cukup untuk biaya sekolah ke tiga anakku sampai jenjang S2. Bagaimana dengan dua anakku yang terkhir ? rumah-rumah yang aku beli itulah yang kelak untuk biaya sekolah mereka.

Aku memang bukanlah orang kaya raya seperti para koruptor yang menggerogoti uang negara dan para artis yang merusak mental anak bangsa tetapi setidaknya di usiaku yang ke 35 tahun ini, aku merasa sudah menjadi manusia bebas. Tempat tinggal sudah layak, tabungan pendidikan baik berupa emas dan properti sudah cukup dan kini gajiku utuh. Kini aku tinggal membimbing dan membesarkan anak-anak, meningkatkan kualitas nilai ibadah dan mencapai keingginan-keinginan yang selama ini aku pendam yaitu berwisata mengelilingi nusantara dan mancanegara bersama keluarga. Jika selama ini aku tidak pernah berwisata, mulai bulan Oktober 2014 kemarin aku dan keluarga sudah mulai traveling namun yang terdekat dahulu yaitu daerah puncak bogor. Selama 35 tahun aku hidup dan selalu kebingungan ketika ditanya seorang teman tentang keelokan tempat wisata kini aku akan mulai bisa menjawabnya.

Ini caraku bagaimana cara anda mempersiapkan masa depan keluarga anda dan kapan anda akan menjadi manusia bebas….? selamat mengekprolasi diri……

#Edi Padmono

Advertisements

14 thoughts on “Aku Bebas di Usia 35 Tahun

  1. Alhamadulillah. Kerja keras, semangat pantang menyerah dan yakin akan pertolongaNya adalah kuncinya. Nikah di usia muda tak berarti menghalangi kesuksesan ya, Mas? Jazaakallah khairan… 🙂

  2. Sangat menginspirasi dan sangat berani. Apa yang anda lakukan penuh dengan risiko dan penuh dengan pengorbanan. Tapi perlahan anda berhasil mewujudkan. Belum pernah saya dengar ada orang yang berani berkorban sampai sedemikian rupa apa yang anda lakukan. Jujur, saya tertegun saat membacanya, dimana anda sudah punya visi dari muda. Salam hormat dari saya..
    -Fakhrurroji Hasan-

  3. Pengalaman hidup yang menginspirasi. Semoga terus sukses pak, terus sukses dalam memenuhi setiap harapan. Saya masih harus banyak belajar untuk itu semua.

  4. Saya kagum membaca apa yg ditulis pada posting ini.
    Cerita yang menarik, yang biasa hanya saya dapatkan dari buku2 tentang kebebasan finansial.
    Selamat telah terbebas Mas. Saya masih jauh…

    Salam dari saya di Sukabumi,

  5. Yes…thats right..! 🙂 I’m Agree

    Kini aku tinggal membimbing dan membesarkan anak-anak, meningkatkan kualitas nilai ibadah dan mencapai keingginan-keinginan yang selama ini aku pendam yaitu berwisata mengelilingi nusantara dan mancanegara bersama keluarga.

  6. Pingback: Mandiri Setelah Pensiun | Menuju Madani

  7. Sangat menginspirasi.
    Kalau boleh tahu, cara menghitung emas untuk sekolahh anak, apakah pakai future value atau pakai emas setara harga s2 sekarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s