Perbedaan Bukan Perpecahan

Aku lahir dan besar di sebuah kampung yang kurang agamis, namun semua warga kampungku adalah pemeluk agama Islam. Mungkin hampir sama dengan kehidupan di kampung-kampung lainnya bahwa mereka lebih mementingkan bekerja di sawah dibandingkan dengan beribadah. Di kampungku ada sebuah masjid yang hanya ramai ketika hari Jum’at yang kebetulan masjid itu dipergunakan untuk ibadah sholat Jum’at bagi warga tiga kampung di sekitarnya. Dan di dekat rumahku juga ada mushola dan kebetulan bapakkulah imamnya. Aku beruntung, sebagai anak seorang imam mushola aku memiliki pengetahuan agama yang lebih daripada teman sebayaku. Walaupun bapak dan guru mengajiku selalu mengajarkan tentang agama Islam namun beliau juga selalu berpesan agar selalu menghargai dan tidak membenci orang yang beragama selain Islam.

Kebetulan adik kandung kakekku beserta keluarganya adalah penganut agama Khatolik dan sepupu ibu juga seorang pendeta Kristen. Sesekali keluarga yang berbeda agama itu saling berkunjung dan aku melihat bahwa sama sekali tidak ada pembahasan tentang agama di sana melainkan hanya jalinan silaturahmi keluarga saja. Entah itu semua sudah prinsip atau bukan aku tidak tahu, ketika masing masing merayakan hari raya keagamaan di antara mereka tidak ada yang saling mengucapkan selamat ataupun sejenisnya, dan juga mereka juga tidak saling berkunjung pada hari raya itu. Akan tetapi hubungan mereka sangat baik. dari sanalah aku belajar toleransi kepada orang yang beragama selain agamaku. Walaupun aku selalu diajarkan untuk fanatik terhadap agamaku tetapi aku tidak pernah membenci ataupun mengganggu orang yang beragama lain.

Pada saat aku kuliah di semarang, aku indekost di rumah seorang mualaf dan kebetulan aku satu kamar dengan seorang Khatolik. Teman-teman satu kostku ada yang beragama Kristen dan juga ada yang beragama hindu karena dia dari pulau Bali. Kepada teman sekamarku yang Khatolik aku selalu meminta untuk kamar selalu bersih karena aku suka melakukan sholat di kamar dan diapun mengerti serta tidak memprotesnya bahkan kami selalu bergantian membersihkan kamar dari menyapu sampai mengepel. Di meja belajar kami ada dua buah kitab suci yaitu Al’quran milikku dan Injil milik teman Khatolikku. Terkadang aku suka membaca isi dari kitab Injil itu dan semenjak itulah aku sedikit banyak tahu tentang isi dari kitab injil. walaupun demikian keyakinanku juga tidak berubah dan aku tetap berIslam sampai sekarang.

Ketika hari Jum’at aku dan teman Khatolikku sama-sama pergi untuk beribadah, aku ke masjid untuk sholat jum’at dan temanku ke gereja untuk kebaktian hari jum’at. Ketika bulan puasa, teman Khatolikku juga sangat menghormatiku dan begitu toleran. Dia tidak makan dan minum sembarangan di depanku bahkan terkadang dia hanya makan bareng denganku di warung ketika sahur dan buka puasa seolah olah dia juga berpuasa bedanya dia sembunyi-sembunyi minum di siang harinya agar tidak terlihat olehku. Ketika menjelang hari raya iedul fitri kamipun diliburkan oleh pihak kampus dan kami pulang ke kampung kami masing-masing. Ketika kami kembali ke kostan setelah libur, kami biasa-biasa saja tidak ada ucapan selamat atau sebagainya dan akupun juga tidak mengharap tentang hal itu. Begitupun ketika hari raya Natal, diapun juga tidak pernah meminta sebuah ucapan selamat dariku dan hubungan kami tetap baik. Tiga tahun aku tidur sekamar dengan teman Khatolikku ini. Sekalipun kami tidak pernah ada pertengkaran ataupun perdebatan masalah keyakinan kami.

Saat ini setiap menjelang Natal dan tahun baru sangat ramai di dunia maya tentang tentang ucapan selamat natal dan toleransi. Bagiku ini adalah berlebihan dan cenderung menyakiti hati kaum kristen dan Khatolik karena dunia maya itu begitu terbuka dan bisa dibaca siapa saja termasuk umat Kristen dan Khatolik. Aku pikir semua juga sudah tahu tentang prinsip-prinsip ini dan tidak perlu dibahas di dunia maya yang justru akan memperburuk hubungan antar agama. terlebih apakah umat yang merayakan hari raya itu meminta diberi selamat….? Apakah umat itu pernah memaksa untuk memakai atribut hari raya mereka…..?memang betul di mall-mall ada atribut atribut perayaan bahkan karyawan mereka megenakan atribut itu tapi apa iya ada paksaan…..?karena adik saya yang bekerja di mall ketika perayaan ini datang tidak pernah memakai atribut itu juga tidak dipermasalahkan oleh managementnya…..

Jika ingin berdakwah dan memahamkan umat tentang sebuah aqidah maka berdakwahlah dengan santun dan baik. Lakukanlah di sebuah majelis atau lembaga yang benar bukan di dunia maya. Sehingga sasaranya mengena dan tepat sasaran serta tidak menyakiti hati orang yang beragama lain. Hidup ini begitu indah jika kita saling menghormati dan tidak saling memprovokasi. Keyakinan bisa saja berbeda tetapi bukan berarti perbedaan itu sumber perpecahan.

#Edi Padmono

Advertisements

5 thoughts on “Perbedaan Bukan Perpecahan

  1. Setuju dg yg ditulis oleh mas Edi karena saya pernah bersekolah di sekolah katholik dan tentu saja memiliki banyak teman katholik tapi kami saling menghormati dan menghargai. Keluarga suamipun ada yg berbeda keyakinan dgn kami tetapi kami tetap saling menghargai keyakinan masing2 dan tidak pernah saling mengusik. Saling menjaga dan menghargai perbedaan itu indah.

  2. Wah.. kalo semua berpandangan seperti mas Edi ini, pastilah hidup ini akan damai, karena tidak ada yang saling mengusik apa lagi ada pula yang suka sok tau atau menilai tentang baik buruk keyakinan orang lain.Ini sangat berbahaya bagi kerukunan hidup antar umat beragama di negeri panca sila ini. Lebih baik menghayati keyakinan masing-masing dengan baik dan mengamalkannya dengan baik pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s