Rumah dan Anak-Anak

Semenjak aku kecil dulu, aku memang suka dengan anak-anak. Mungkin jika aku lahir dan besar di kota serta anak dari keluarga yang berada aku akan menetapkan dokter anak sebagai cita-citaku. Karena aku orang kampung yang sangat kurang pengetahuan maka kegemaranku mengajak main dan memperhatikan anak-anak hanyalah menjadi kegemaran belaka. Mungkin juga karena aku lama tidak memiliki adik sehingga aku suka dengan anak kecil dan berharap mempunyai adik. Setelah aku mempunyai adik, kecintaanku terhadap anak kecil bukannya hilang tetapi justru bertambah, selain mengasuh adik perempuanku aku juga mengajak bermain anak-anak kecil lainnya. Mungkin wajah dan tanganku ini begitu mempesona seorang anak kecil dan bahkan seorang bayi sekalipun. Terbukti ketika pertama kali aku tinggal di rumah orang pada saat SMA, benyak anak kecil dan bayi disekitar rumah itu termasuk cucu dari pemilik rumah langsung dekat denganku dan tidak takut aku gendong padahal aku adalah orang yang tidak dikenal sebelumnya.

IMG_20141219_080027

Hari hari biasa di rumahku, jika hari libur bisa dua kali lipat

Rumah penuh anak-anak bermain sudah menjadi pemandanganku sejak aku kecil, bahkan ketika aku dan istri masih belum punya momongan dan tinggal di kontrakan 3×3 M. Ketika itu banyak anak-anak yang menemani istri bermain dan belajar menghabiskan waktu setiap harinya. Anak-anak itupun ikut bergembira ketika aku pulang dari berdagang asongan, bahkan mungkin mereka lebih gembira dari istriku karena daganganku pasti bersisa dan merekalah yang menghabiskan sisa daganganku itu. Anak-anak itu hanya manyun ketika hari itu aku jualan korek gas karena tidak mungkin anak-anak itu memakan korek gas…… 😀 . Walaupun hidup kami seperti gelandangan waktu itu, akan tetapi hari-hari kami begitu bahagia dengan hadirnya anak-anak yang bermain di tempatku. Keceriaan mereka seolah-olah menjadi penawar atas sakit dan perihnya kehidupan kami sehari hari. Kehadiran mereka bagaikan embun yang menenangkan jiwa pemandangnya. Bisa berbagi makanan walaupun itu sisa dagangan sangatlah membuat hati ini tentram.

 Ketika aku pindah ke kota Pekanbaru, kondisinyapun tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Banyak anak-anak tetangga yang main di rumahku, padahal kala itu anakku masih dibawah satu tahun sedangkan anak-anak tetangga sudah sekolah TK dan SD. Ramainya rumahku dengan anak anak bertambah ketika anak pertamaku mulai masuk TK. Anak pertamaku itu ternyata juga menjadi magnet buat anak anak untuk bermain ke rumahku. Sepulang sekolah teman-teman anakku bermain ke rumah sampai tengah hari bahkan terkadang sampai dijemput oleh orang tuanya disore harinya. Kami tidak memperlakukan berbeda antara anak kami ataupun teman temannya. Tentang makanan, snack mereka bersama sama memakannya bahkan terkadang sampai ikut makan siang. Kepada mereka kami juga sama-sama mengajarkan disiplin tentang kebersihan dan tolong menolong, tidak boleh berebut mainan, mainan yang sudah selesai harus dirapihkan kembali dan jika habis makan harus mencuci piring sendiri.

Semenjak pindah ke kota Tangerang tahun 2008 lalu, kondisi rumahku juga tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya selalu dan selalu banyak anak-anak. Kini anakku sendiri juga sudah banyak yaitu 5 anak, dengan mereka saja rumah sudah begitu ramai apalagi ditambah dengan anak-anak yang lain. Ketika pagi ketiga anakku sekolah dan tinggalah dua yang tersisa di rumah, akan tetapi teman anakku yang no 4 ini juga banyak sehingga tetap saja rumahku ramai anak-anak apalagi istriku berjualan makanan kecil dan es. Anak-anak itu kami beri ruangan khusus untuk bermain yaitu di lantai dua yang sengaja hanya berisi TV sehingga anak-anak dengan leluasa bermain. Ketika ketiga anakku sudah pulang sekolah, biasanya masing masing membawa temannya, ada satu, dua bahkan kadang ada lima sekaligus. Mereka bermain sampai Ashar dan kemudian bersama-sama berangkat LES privat. Menjelang Maghrib rumahku kembali ramai anak-anak yang menunggu adzan kemudian berangkat ke masjid depan rumah. Ketika hari libur, jika aku dan keluarga tidak berpergian, rumah menjadi dua kali lipat ramainya dari hari-hari biasa terlebih ketika ada anak saudara yang kebetulan berkunjung ke rumahku.

Ada rasa bangga tersendiri ketika melihat anak-anak yang banyak bermain di rumahku yang sederhana. Walaupun banyak, mereka sangat tertib dan tidak pernah berantem satu dengan yang lainnya. Rumah kami sudah seperti tempat penitipan anak yang tidak pernah sepi. Dari sanalah keberkahan rumah kami dan dari sanalah rumah kami terlihat lebih hidup dari rumah-rumah lainnya.

#Edi Padmono

Advertisements

11 thoughts on “Rumah dan Anak-Anak

  1. Hal yang membuat diri kita bahagia dalam hidup ini salah satunya di mana kita berani dan bisa melakukan apa yang orang lain tidak banyak lakukan, etrutama dalam hal berbagi dan memanfaat keahlian serta rumah untuk belajar anak-anak terutama bagi merka yang akan menjadi generasi muda yang berkembang ya Mas. Semoga dapat lahir anak-anak didik dari tangan dingin Mas Edi menjadi orang besar ya mas. he,, he,, he,,

  2. Anak-anak tahu hati-hati yang dengan tulus bisa menerima mereka.
    Subhanallah,Pak Edi dan istri pasti adalah salah satunya.
    Semoga keramaian membawa keberkahan bagi Pak Edi dan keluarga
    Amiiin

  3. Bikin PAUD pak edhi, atau taman bacaan, saya suka anak2 gak ya, tergantung anaknya seperti apa, anak saya satu aja udah geleng2 hehe, subhanallah keren deh sudah 5 pak, barakallah semoga rejeki selalu mengalir untuk keluarga pak edi. aamiin

  4. Anak-anak saya semuanya di pesantren, Mas. Tersebar di 3 kota. Hanya momen lebaran saja mereka bisa kumpul. Kebetulan liburnya tdk sama dg kalender umum. Jadi rumah sering sepi dari orang. Tp insya Allah tetap ramai dengan doa dan dzikir. 🙂

  5. ya ampuuuun… *agakspeechless ;p. Selalu salut ama org yg bisa suka bgt ama anak2 kyk mas :).. krn aku ga gitu suka anak2 jujurnya… ga ngerti jg knpa… makanya kalo temen kntor lg bawa anak mrk, trs temen2 kntor lain pada teriak, “ihhhh lucu bgt..” “deva….ayok sini tante peluk..” “makan apa cayang? tnte bagi ya…” dn kalimat2 membujuk lainnya, aku cuma diam… palingan senyum dikit sih :D.. Ga bisa juga disuruh pura2 gitu -__-

    makanya org bnyk heran knpa aku bisa2nya ga suka anak2… mungkin ini jg alasan ampe skr ankku cm 1..itu juga krn suamiku yg pgn punya anak.. okelah, tp cuma 1, dan ga akan nambah lagi… 🙂 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s