Melalui masa-masa sulit dengan sedekah

Jika orang melihat kondisi kami pada saat ini mungkin tidak pernah terbayangkan bahwa kami pernah mengalami masa-masa yang sulit. Masa-masa dimana aku menjadi pengangguran dan menggelandang di jalanan sebagai pedagang asongan di bus kota dan pelabuhan serta tinggal di sebuah kontrakan 3 x 3 M² yang setiap bulan purnama selalu tertimpa banjir setinggi lutut akibat pasangnya air laut. Pernah suatu hari ketika terjadi banjir besar di seputaran Jakarta utara dan kami juga mengalaminya tapi ketika kita sedang asyik membersihkan kontrakan pasca air surut, ada utusan pak RT yang meminta sumbangan untuk korban banjir. Sungguh aneh korban banjir dimintain sumbangan, tetapi istriku adalah orang yang baik dan diambilnya uang tabungannya lalu diberikan kepada utusan pak RT. Penghasilan dari berdagang asongan tidaklah pasti, antara Rp 15.000,- sampai Rp 25.000,- dan istrikulah yang harus pandai-pandai dalam mengatur keuangan.

Walaupun hidup kami sangat susah namun tetap saja ada yang lebih susah dari kami. Ada beberapa kontrakan dengan ukuran yang sama di tempat kami, rata rata mereka juga pedagang asongan, mie ayam keliling dan siomay. Ketika anak kami berusia 3 bulan  yaitu dibulan Agustus 2002, pada suatu malam ada salah satu tetangga yang meminta tolong kepada kami, anak perempuannya bernama Nabila badannya panas, muntah-muntah dan buang-buang air sementara ayahnya sudah 3 hari belum pulang. Akupun membawanya ke klinik dan Nabila dirawat selama 2 hari, ketika waktunya pulang ayah nabila ternyata dari bepergiannya tidak membawa uang, jangankan untuk bayar klinik untuk makan hari itu dan besoknya saja belum ketahuan dari mana. Karena kami juga habis melahirkan anak, kamipun tidak mempunyai tabungan sedikitpun. Akhirnya aku bergegas ke terminal dan mengemis untuk sebuah pinjaman uang kepada teman-teman terminal yang akrab. Alhamdulillah terkumpul Rp 300.000,- dan Nabila bisa dibawa pulang.

anak asuhku Nabila (kiri belakang) sekarang sudah kelasX SMA

anak asuh kami Nabila (kiri belakang) sekarang sudah kelas X SMA

Sedekah dalam keterbatasan kami ternyata langsung mendapat balasan dari-Nya. Satu minggu kemudian aku mendapatkan panggilan interview kerja setelah sekian lama aku menyebar ratusan lamaran ke berbagai perusahaan. Singkat cerita akupun diterima kerja dan September 2002 aku berangkat ka sebuah pertambangan batubara di pedalaman Kaltim sebagai seorang tehnisi alat berat. Tiga bulan kemudian aku pulang dari Kaltim dengan membawa utuh gajiku, dari itulah kami bisa melunasi hutang perawatan Nabila waktu itu dan sekaligus melaksanakan aqiqah anak pertamaku. Semenjak itulah Nabila resmi menjadi anak asuh kami yang pertama.

Maret 2003 aku mendapat mutasi ke kota Pekanbaru, aku membawa istri dan anakku turut serta. Penghasilan di tambang dengan di kantor cabang sangat jauh berbeda. Jika di tambang selain gaji pokok ada tunjangan project dan tunjangan kesukaran per hari, kalau di kantor cabang aku hanya mendapatkan gaji pokok saja. Kembali kami terjun bebas dalam kesusahan ekonomi karena gaji pokokku hanyalah Rp 900.000,- yang harus hidup di kota metropolitan yang mahal. Lagi-lagi kami tidak putus asa dalam menapaki hidup, kami tetap berusaha bertahan dan tawaqal. Walaupun kami tinggal di kota, karena pekerjaanku sebagai tehnisi alat berat maka aku sering keluar kota bahkan pulau meninggalkan anak istri setiap minggunya. Walaupun gajiku tergolong rendah ternyata Allah memberiku beban yang lebih di pundak kami. Ibuku sakit keras dan mertua laki-lakiku sudah tidak bisa berniaga lagi sehingga kami harus membiayai kedua adik kandungku dan juga kelima adik ipar sekolah. Namun berkat ketulusan dan keuletan aku mendapatkan pekerjaan tambahan yang disebut freelance yang penghasilannya lumayan. Singkat cerita pekerjaanku lancar dan hubunganku dengan para pemilik alat berat sangat baik bahkan spesial, mereka sering memberikan uang tambahan jika aku melakukan perbaikan alat-alat berat mereka.

Hidup memang naik turun, awal-awal tahun 2006 aku sedang sepi job dan kami mengalami kekurangan finansial. Suatu hari kondisi rumah sudah kering kerontang, beras dan susu anak-anak habis dan uang di dalam dompetku tinggalah Rp 105.000,- sementara gajian masih dua minggu lagi. Dengan mengendarai mobil kantor aku berencana membeli susu, aku menyempatkan mampir ke SPBU intuk menambah angin roda mobil. Di SPBU aku menyaksikan seorang gadis kecil yang menenteng kotak amal menghampiri setiap mobil yang mengisi bahan bakar. Entah kenapa pemandangan itu sangat menarik bagiku, akupun lama memperhatikan anak itu sampai lama, sekitar 1/2 jam tidak ada satupun pembawa mobil yang mau mengisi kotak yang dibawanya. Akupun tersentuh namun hatiku bimbang mengingat akupun tidak mempunyai uang yang banyak. Aku membuka dompet dan melihat penghuninya yang hanya ada dua lembar Rp 100.000,- dan Rp 5000,-. Aku sangat bingung karena aku harus membeli susu untuk anak-anakku tapi aku juga iba melihat anak itu. Tanpa sadar aku memanggil gadis kecil itu dan sedikit berbincang-bincang dengannya. Dari perbincangan itu aku tahu bahwa gadis itu dari sebuah panti asuhan dan dia juga seorang yatim piatu.

Tanpa berfikir panjang aku memasukan uang sedekah  Rp 100.000,- penghuni dompetku ke dalam kotak gadis itu kemudian aku pulang dan tidak jadi membeli susu. Akupun menceritakan semuanya kepada istri dan meminta maaf karena tidak jadi membeli susu, istrikupun memakluminya. Malam itu malam minggu, ketika kami sedang tidur pulas tiba-tiba ada suara HP padahal sudah larut malam sekitar jam 23.00. Suara di dalam HP itu tidak asing dan dia langsung marah-marah padahal aku tidak tahu apa-apa. Cerita punya cerita ternyata alat beratnya sedang rusak sudah hampir satu bulan dan berbagai suku cadang sudah diganti akan tetapi mesinnya juga belum mau hidup. Orang ini memaksa aku saat itu juga untuk pergi kelapangan untuk memperbaiki alat beratnya, denga berat hati akupun nurut saja dia jemput pikul 01.30 pagi dan langsung meluncur ke TKP. Sampai di TKP pukul 04;00 pagi dan kamipun istirahat sambil menunggu hari terang. Sehabis sarapan aku langsung menghampiri alat berat yang rusak, aku membuka ruang mesin dan entah kenapa mataku tertuju pada sebuah ikatan kabel. Aku membuka ikatan kabel itu dan ternyata ada sebuah dudukan sekring yang tertutup. Aku buka tutup sekring itu dan ternyata sekring 10A putus, lalu aku mencari sekring spare di cabin lalu  menggantinya dan……..GRENGGGGG…. mesin kustarter.

Setelah alat berat itu dilakukan tes muter-muter dan mengangkat beban, akupun ditraktir makan udang lobster oleh empunya alat baru kemudian diantarkannya pulang. Sesampainya di rumah toke china itu memanggilku dan aku berharap akan mendapat bayaran yang lumayan. Ternyata dugaanku salah dia memanggilku untuk menanyakan berapa aku menyewa rumah petak, akupun menjawab sambil berbohong “lima ratus sebulan bang” padahal cuma Rp 250.000. Lalu dia bertanya lagi “kenapa lo ga beli btn aja paling angsurannya juga segitu tapi jadi hak milik” dengan enteng aku menjawab “mau sih tapi DPnya yang tidak ada….” Kemudian dia menyuruhku agar besok aku kekantornya. Pagi harinya akupun ke kantornya tapi tidak langsung dilayaninya, setelah menunggu cukup lama akhirnya diapun muncul dan menyodorkan sebuah amplop putih sambil berkata kepadaku “Nih buat lo DP BTN….tapi ingat harus buat DP ya kalau tidak awas lo…..” lalu dia pergi meninggalkanku begitu saja. Sesampainya di kantor aku sembunyi-sembunyi membuka amplop itu dan ternyata isinya membuat dengkulku lemas…“sebuah cek bank BCA sebesar Rp 25.000.000,- bro……” Aku tertegun dan mengingat uang Rp 100.000,- yang aku sedekahkan kepada panti sebelumnya “Alhamdulillah….uangku kembali sebanyak ini” gumamku. Dari uang itu aku membeli rumah sederhana type 36/112 di belakang Universitas riau. Bukan hanya itu saja keberuntunganku, toke itu mengkontrakku freelance sabtu minggu sebesar Rp 5.000.000,- / bulan selama dua tahun.  

Fattah dan hafid bermai di halaman rumah Pekanbaru
Fattah dan hafid bermai di halaman rumah Pekanbaru

 

 

Fattah dan Hafidz bermain di dalam rumah Pekanbaru
Fattah dan Hafidz bermain di dalam rumah Pekanbaru

 

#Edi Padmono

 

Advertisements

37 thoughts on “Melalui masa-masa sulit dengan sedekah

  1. Assalamu’alaikum mas Edi,

    Wah..ini kisah hidup yang sangat menggugah, sedekah memang dahsyat, semoga ini bisa menjadi pengingat saya agar tulus dalam bersedekah, karena harta kita yang sebenarnya adalah yang dikeluarkan di jalan Allah, bukan yang disimpan d bank dsb. terima kasih sudah berbagi kisah ini.

  2. subhanallah pak pak edi semakin membuat saya mantap untuk banyak bersedekah pak terima kasih pak edi atas cerita yang sangat kuat ini bergetar semua jiwa dan hati saya…sungguh kuasa Allah bagi hambanya yang ebrtakawa.. rejeki yg tidak disangka-sangka itu hadir luar biasa…. sellau suka berkunjung ke rumah pak edi yang adem di hati ini….mantap pak

  3. Betul pak Edi, Allah ngga pernah lupa membalas sedekah hambaNya.. balasannya bahkan berlipat kali jauh lebih baik dari apa yg sdh kita sedekahkan. Makasih udah berbagi inspirasi ya pak, salam hormat untuk istri yg setia mendampingi dalam suka duka ^_^

  4. Indahnya sedekah…. saya juga beberapa kali mengalami keajaiban sedekah mas.
    TFS ya… inspiratif isinya. Semoga menggugah kesadaran bersedekah para pembacanya.

  5. aku selalu percaya ama kekuatan sedekah mas :).. drdulu papa slalu ngajarin kita utk sedekah, sedekah sedekah…awalnya dulu aku kurang prcaya… tp kmudian kliatan lgs dr kehidupan kita yg insyaallah ga kekurangan, even berlebih, anakku jarang sakit, beberapa kali terasa kita dilindungi yang di Atas saat sedang dlm kesulitan… dan semua itu aku percaya karena manfaat dari sedekah 🙂

  6. Merunut cerita kisah di dalam artikel ini, saya melihat pada posisi terjepit memang kita dibutuhkan suatu keberanian dalam memilih. Walau pun pada saat itu kita sedang perlu dan berkorban untuk membeli susu anak. Sebuah pilihan untuk beraai melakukan yang terbaik ke untuk sedekah dan ikhlas itulah yang membuat proses pintu langit terbuka cepat dalam menjawab doa kita. Itu mungkin yang dikatakan Logika Tuhan, berbanding tebalik dengan logika manusia, namun inti dari kisah ini adalah sebuah keberanian dan kepasrahan di saat kita butuh ya Mas.

  7. Whoah… tulisannya inspiratif banget Mas..beda jauh sama tulisanku yang ala-ala emak lebay..hehe…

    Bersedekah itu memang membawa berkah yah jika kita lakukan dengan ikhlas.. Tapi memaknai keikhlasan nya itu loh yang berat…

    Semoga aku bisa kaya gitu juga..amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s