Titip cintaku

Hari raya Iedul adha tahun 2003 adalah pertama kali aku membawa istri dan anak sulungku pulang kampung setelah sekian lama aku menghilang semenjak menikah di tahun 1999. Karena kehidupanku yang begitu sulit sehingga aku merahasiakan keberadaanku kepada orang tua dan saudara-saudaraku selama bertahun-tahun. Pada saat aku mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang tetap barulah aku memberi tahu mereka bahwa selama ini aku baik-baik saja. Kepulanganku disambut gembira namun penuh tangis oleh kedua orang tuaku, mereka bergantian menggendong, memeluk dan mencium anakku. Anakku adalah cucu ketiga mereka, namun mereka tidak pernah menyaksikan bagaimana kodisi dari awal kehamilan sampai kelahirannya. Kemudian akupun bercerita bagaimana kehidupanku sesungguhnya selama menjadi pengangguran dan sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan kemudian hijrah ke kota Pekanbaru.

Di rumah orang tuaku, kami menempati biliku yang tidak banyak perubahan dari masa kecilku. Jika dulu bilik terbuat dari anyaman bambu, saat itu sudah berganti dengan lembaran triplek dan bercat putih. Malam itu entah kenapa kami tidak bisa tidur sehingga kami mengobrol berdua di ranjang bambu yang terasa keras karena hanya beralaskan tikar pandan. Dalam perbincangan istriku memohon kepadaku agar diperkenalkan dengan “HASNAH”, seseorang yang dengan penuh keterpaksaan meninggalkanku.

“Untuk apa…? dia itu masa lalu papa dan mama adalah masa kini dan masa depan papa” jawabku mengelak.

“Yah…pengen bersilaturahmi saja, setidaknya memberi kabar kepadanya bahwa papa sekarang sudah menikah dan bahagia”, jawab istriku. “Bukankah segera menikah dan bahagia adalah permintaannya…? sekarang saatnya untuk menunjukan kepadanya agar dia tidak ada beban lagi” imbuh istriku dengan penuh semangat.

“Baiklah besok papa ajak mama ke sana”, jawabku.

Pagi harinya dengan terpaksa aku membawa istri dan anakku pergi ke tempat tinggal Hasnah, hatiku sangat tidak enak dan berdebar-debar. Sepanjang perjalanan aku hanya diam memikirkan tentang apa yang harus aku ucapkan ketika bertemu dengannya nanti. Tibalah kami di halaman rumah Hasnah, rumah yang dulu adalah milik orang tuanya kini terbagi menjadi dua secara terpisah, sebelah kiri rumah orang tuanya dan sebelah kanan adalah rumah hasnah. Aku pura-pura tidak tahu dan memilih mengetuk pintu rumah orang tuanya.

“Assalamualaikum……..” aku meneriakan salam sambil mengetuk pintu.

“Waalaikum salam……” sambut ibu Hasnah dari dalam sepertinya arah dapur. Pintupun perlahan dibuka, kami melemparkan senyum kepada ibu hasnah. Ibu hasnah terdiam memandangi kami sembari mengingat-ingat siapa gerangan tamunya ini, maklum sudah 6 tahun tidak bertemu dan aku menjadi orang yang berkacamata minus sementara istriku sama sekali bukanlah orang yang dia kenal.

“Ini…..mas….mas….Edi….ya……? ya ampun…..gimana kabarnya….? trus ini istri dan anaknya mas……? Alhamdulillah…alhamdulillah mas Edi sudah dapat jodoh…..” ibu hasnah memberondong pertanyaan yang tidak penting untuk dijawab sambil mencium dan memeluk istri mantan calon menantunya dulu. Kamipun dipersilakan masuk dan duduk di sofa, kemudian ibu Hasnah berlari ke rumah sebelah sambil berteriak

“Hasnah…….ada tamu dari jauh…….”. Hatiku makin berdetak kencang, kakiku gemetaran dan perasaanku sangat kacau. Bagaimanapun juga wanita itu pernah bersemayam di hatiku selama 6 tahun dan masih tinggal di sisi hatiku yang paling dalam. Hasnah, wanita yang karena ketidakmampuanku tidak terselamatkan dari sebuah pernikahan yang menyedihkan, menikah dengan pria tua yang terpaut 25 tahun dengan alasan balas budi. Dari pintu samping munculah Hasnah bersama ketiga anaknya dan melangkah kearah kami. Hasnah menyalami istri dan anakku namun kepadaku hanya mengucapkan salam sama seperti dulu. Selama kami menjalin hubungan, aku dan hasnah memang belum bersentuhan kulit sedikitpun, kami hanya berjalan bersama dengan jarak 1 meter ataupun berboncengan sepeda.

Melihat kecanggungan kami, istriku mengajak anakku dan anak anak Hasnah bermain di halaman dan tinggalah kami berdua dalam kesunyian. Kami sama-sama diam seribu bahasa, sesekali aku beranikan diri untuk melihat wajah Hasnah. Dia tidak terlalu banyak berubah, masih cantik dan bersih walaupun tinggal di desa dan mempunyai anak 3. Cara berpakaiannyapun juga masih rapi dengan baju gamis warna khasnya yaitu paduan putih dan ungu serta jilbab yang menjulur lebar menutupi separuh tubuhnya.

“Tidak terasa ya mas….sudah 6 tahun…..pasti berat ya mas…?” Hasnah memulai percakapan memecah kesunyian. “Maafkan Hasnah ya mas……” imbuhnya, sementara aku masih diam, aku begitu bingung untuk mengucapkan kata-kata.

“Eemmmmm….kamu bahagia kan….?” aku mulai bertanya kepadanya.

“Dengan menyibukan diri mengurus anak-anak, aku tidak sempat berfikir apakah aku bahagia ataupun tidak mas…..tapi percayalah hari ini aku sangat bahagia karena mas Edi sudah menikah dan berputra…..bebanku sudah hilang mas…..” jawab Hasnah dengan mata yang berkaca-kaca. Melihatnya yang demikian hatiku semakin remuk, ingin rasanya aku memeluk dan mengusap air matanya. Namun aku tahu batasanku dan memilih pergi menuju dapur menemui ibu Hasnah.

Melihat Hasnah yang aku tinggalkan, istriku datang menghampirinya. Sepertinya Hasnah semakin berurai air mata, dari kejahuan aku melihat istriku memeluknya, menyapu air mata dan menggenggam kedua tangannya. Sepintas dua wanita itu terlihat sama, cara berpakaian, warna kesukaan, warna kulit dan tinggi badannya. Walaupun mereka baru saling kenal, mereka tampak begitu akrab layaknya dua sahabat lama. Sementara mereka bercerita-cerita, akupun berusaha menutupi perasaanku dan mengobrol dengan ibu Hasnah, bertanya kabar semuanya termasuk tentang kabar suami Hasnah yang di pesantren. Karena sudah terlalu lama, kamipun berpamitan untuk pulang. Sekali lagi mereka memeluk dan mencium istri dan anakku

“Mas…..orang baik bertemu dengan orang baik….jangan sia-siakan embak ya mas….” kata Hasnah sambil melambaikan tangan dan salam perpisahan. Aku mengangguk dan membalas lambaian tangan mereka kemudian berlalu meninggalkan mereka. Kami berkendara sangat pelan dan berbincang-bincang sepanjang perjalanan pulang.

“Bagaimana ma?” tanyaku kepada istri.

“Emm…cantik…anggun dan mirip Astri ivo…” jawabnya sambil mengedipkan mata menggodaku. “Walaupun baru kenal…mama langsung cocok lo…mbak Hasnah banyak cerita tentang papa…mau tahu engga di bilang apa ke mama….?” Istriku berbicara panjang lebar tidak berhenti-henti sepanjang jalan. Dia menceritakan semua perbincangannya dengan Hasnah bahkan sampai yang terakhir dan mungkin sangat menyakitkan baginya. 

“Mbak…aku dan mas Edi saling mencintai, bahkan sampai kapanpun rasa itu akan terus ada dan tersimpan tapi kami tidaklah beruntung yang harus terpisah oleh takdir. Terimakasih sudah merawat dan membangkitkan semangat hidupnya…..dia memang cintaku tapi dia itu milikmu mbak…maka aku titipkan cintaku kepadamu ya mbak….”

 Begitulah istriku bercerita. Aku menghentikan kedaraanku, aku memandanginya lalu mencium kening dan memeluknya “Maafkan dia ma jika itu terasa sangat menyakitkan….” Istriku melepaskan pelukanku dan memandang mataku dengan sendu “memang sakit pa….tapi mama sudah mempersiapkan diri sebelumnya jadi jangan terlalu khawatir…setidaknya sudah tidak ada beban antara papa dan dia”

#Edi Padmono

Advertisements

27 thoughts on “Titip cintaku

  1. Sebuah sisi kejujuran lain yang baru saja saya pelajari belakangan ini. Apapun yang terjadi, semoga Tuhan memberkati pernikahan mas edi beserta istri. Percayalah istri bapak punya cinta sejati di hatinya mengalahkan siapapun yang bapak kenal di dunia ini. Cinta yang takkan pernah pudar dengan alasan apapun, cinta yang Tuhan karuniakan dalam dekapan pak Edi.

  2. mencoba menempatkan di sisi keuda belah pihak, namun tak mampu menguraikan sebuah kata dalam tulisan untuk memberikan komentar, rasanya masih belum bisa keluar mas. Semoga akan menjadi ladang ibadah dengan segala bentuk dan keikhlasan untuk bisa saling memberi dan menerima segala dari kelebihan yang masing-masing miliki dengan segala kekurangannya, hanya itu mas. he, he, he,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s