Mandiri Setelah Pensiun

Saya hanyalah seorang pekerja lapangan yang mengandalkan gaji bulanan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. 15 tahun yang lalu aku mempunyai target agar aku mengalami kebebasan finansial di usia 35 tahun dan Alhamdulillah target itu terpenuhi walaupun sangat mepet dengan menuju ke 36 tahun usiaku. Yang dimaksud bebas bukan berarti seperti promosi MLM bahwa aku tinggal ongkang-ongkang kaki dan uang bekerja sendiri untukku. Bukan….aku tetap bekerja, aku hanya berinfestasi sederhana berupa logam mulia dan properti untuk biaya pendidikan anak-anakku kelak. Tahun 2015 ini aku benar-benar mendapatkan gaji yang utuh dan aku sudah tidak mensuplai lagi tabungan pendidikan anak-anak dan cicilan semua rumah  sudah selesai. Melalui sewa Rumah-rumah yang telah aku plot untuk masing-masing anak itulah yang akan mengisi tabungan anak-anak selanjutnya.

Mimpiku sangat sederhana, aku hanya ingin hidup sederhana, bahagia dan tanpa beban dihari tua serta tidak membebani anak-anak. Aku tipe orang yang mencontek sisten orde baru yaitu suka mengeksekusi mimpi dengan program jangka panjang. eksekusi mimpiku hanya terbagi 2 program jangka panjang yaitu program kebebasan finansial dan program pensiun. Jika program yang pertama sudah tereksekusi maka tinggalah program yang kedua. Aku menetapkan usia pensiunku adalah umur 45 tahun dan menikmati pensiun di desa dengan membuat rumah mandiri pangan dan energi. Sebenarnya aroma pensiun sudah aku nikmati mulai tahun ini yaitu dengan gajiku yang utuh, aku bisa berkeliaran melancong bersama keluarga walaupun hanya 2 kali dalam sebulan. Aku benar-benar merasa nyaman dengan apa yang aku capai saat ini.

Aku menetapkan tempat pensiun adalah di kampung istri yaitu Kuningan, Jawa barat. Oleh karena itu, beberapa tahun yang lalu aku membeli sebidang sawah yang berada di pinggir sungai berbatu dengan airnya yang jernih dan berpemandangan gunung Ceremai yang agung. Untuk sementara sawah aku titipkan kepada mertua untuk dikelola. Dalam perencanaanku, di tanah itulah aku akan membangun rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah yang menghadap sungai dan gunung ceremai serta berada di tengah tengah dari tanah itu. Tanah paling belakang akan aku tanami rumput gajah dan di depannya adalah kandang sapi berkapasitas 3 ekor. Sapi mempunyai kotoran yang lumayan banyak, oleh karena itu aku akan membuat penampungannya berupa degister dan memanfatkan gas metannya untuk keperluan memasak dan apabila cukup akan aku pergunakan untuk bahan bakar gas generator berkapasitas 900-1300 Watt. Selanjutnya lumpur cair bekas kotoran yang keluar dari degister akan aku keringkan dan dipergunakan untuk pupuk.

Contoh rumah yang akan ku bangun kelak

(Rumah warga di sekitar pantai di dekat tempatku kerja ) Contoh rumah yang akan ku bangun kelak

Sebagai pembatas antara rumah dan kandang sapi serta penjemuran pupuk kotoran sapi, aku akan menanam pohon bambu dan buah buahan tepat di belakang rumah. Pola tanam pohon berbentuk barikade, yang paling belakang adalah barisan pohon bambu yang akan menghalangi bau dari kotoran sapi, kemudian pohon pisang lalu barisan terakhir adalah buah pasar seperti jambu, mangga, belimbing dan jeruk. Di samping kiri rumah akan aku buat kolam ikan patin dan di sebelah kanan rumah adalah kolam ikan lele (ikan yang paling mudah memeliharanya 😀 ). Karena aku adalah penggila buah nenas dan pepaya, maka di sekeliling kolam akan aku tanami buah nenas dan pepaya. Pada halaman depan rumah akan aku bagi dua juga. Samping kiri adalah untuk tanaman sayur mayur seperti kangkung darat, kacang panjang, cabe, terong dan tomat. Samping kanan adalah taman bunga dan garasi mobil.

Saya fikir dengan pengaturan seperti itu maka rumah itu benar-benar bisa mandiri pangan dan energi. Bagaimana dengan kebutuhan beras? karena aku tidak pernah belajar tentang bertanam padi maka aku akan membelinya saja di pasar. Beternak sapi, lele dan patin sudah aku jalani waktu aku masih kecil sehingga aku tidak akan kesulitan untuk mempraktekannya kelak. Untuk beternak sapi tentu aku tidak akan sanggup sendiri mengurusnya, maka aku akan membayar tenaga orang untuk membantunya. Untuk tanaman sayur, saat ini aku sedang belajar dan memcoba membuat tanaman sayur di pot-pot di sisa pekarangganku yang sangat sempit. Kalau tanaman buah aku rasa menanamnya tidak terlalu susah asalkan dipupuk dengan baik dan rutin.

Jika kita bekerja pada sebuah perusahaan maka kita akan mendapatkan fasilitas kesehatan dan dana pensiun. Apabila aku mengambil pensiun dini di usia 45 tahun ( pensiun normal usia 58 tahun ), aku akan mendapatkan dana pensiun sesuai masa kerja namun aku akan kehilangan jaminan kesehatanku untuk 13 tahun kedepannya. Untuk itu aku dan istri mulai tahun ini mendaftarkan diri pada jasa asuransi kesehatan berbasis tabungan pensiun dengan kewajiban pembayaran premi selama 10 tahun ke depan. Asuransi itu akan membackup kesehatanku dan istri sampai usia 70 tahun dengan kelas rawat inap maksimal 1juta rupiah per malam. Jika kami meninggal sebelum usia 70 tahun maka ahli waris kami akan mendapat santunan dan seluruh tabungan pensiun akan dicairkan. Dan jika kami sampai usia 70 tahun belum meninggal maka kontrak jaminan kesehatan selesai dan seluruh tabungan pensiun dicairkan.

Itulah sebenarnya fisi hidup saya yang tertuang dalam judul blog ini “Menuju Madani” yaitu menuju sebuah kehidupan yang mandiri dan tidak menjadi beban atas orang lain termasuk keluarga bahkan pemerintah sekalipun. Aku berharap akan tetap bisa bertahan hidup dengan penghasilanku sendiri tanpa harus membebani anak-anak apalagi pemerintah. Aku bisa membiayai kesehatan kami berdua sampai tua tanpa harus mengiba kepada anak-anak dan jaminan kesehatan dari pemerintah. Aku menyadari bahwa masa depan akan lebih sulit lagi, untuk itu biarlah anak-anak menjalaninya dengan ringan tanpa kami sebagai beban dipunggungnya

Postingan ini diikutsertakan dalam #evrinaspGiveaway: Wujudkan Impian Mu”

#Edi Padmono

Advertisements

16 thoughts on “Mandiri Setelah Pensiun

  1. Luar biasa Pak Edi Padmono, buah dari perencanaan yang matang dan eksekusi dari rencana tersebut. Sekarang tinggal menikmati buahnya saja dan mengembangkannya lagi. Terimakasih telah berbagi cerita. Mudah2an saya juga bisa

    • Dalam hidup itu diperlukan tahapan mimpi-perencanaan-eksekusi, katanya sih life never flat ada kalanya pada eksekusi mengalami kendala ataupun kegagalan jika demikian perlu ditinjau kembali apakah mimpinya realistis sesuai porsi atau tidak dan perencanaanya sudah mendetail atau belum.

  2. rumahnya homey banget dehh… ademmm….
    satu sisi aku juga lebih suka tinggal di desa, karena desa mengajarkanku kesederhanaan. tapi si sisi lain aku juga ga suka tinggal di desa. selain karena sulitnya berbagai akses, kehidupan di desa juga tidak sekondusif di kota. dan yang paling ga tahan di desa itu gosipnya itu looh..

  3. Pingback: Daftar Peserta #evrinaspGiveaway | Evrina Budiastuti

  4. aku salut… Ini tipe orang tua yg aku respect… berfikir, bahwa anak2 ga semestinya hrs menanggung beban ortunya… Banyak org yg aku tanya, knpa sih mw punya anak? Jwbn rk, “kan enak fan, ada yg ngurus kita di masa tua”

    Helloooo…kalo lo mw ada yg ngerawat di masa tua, bayar aja pengasuh jompo -__-

    suka baca pemikiranmu Mas 😉 TOP!! moga aku bisa seperti ini jg 😉 G nyusahin anak saat tua nanti

  5. sip menyiapkan masa senja yang mandiri dan tentram memang harus sejak dini supaya ketika waktunya tiba nanti kita tidak kaget. semoga dilancarkan ya mimpinya. aamiin. terimakasih atas partisipasinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s