Memilih Sekolah Suwasta

Aku adalah orang desa yang mana desaku adalah termasuk desa tertinggal. Sebagai orang desa tentu sangat banyak keterbatasan dalam hal pendidikan. Untuk sekolah SD aku bersekolah di SD negeri impres yang waktu itu masih ada tiga kelas sehingga kami anak-anak SD harus sekolah system shift yaitu kelas 1-3 masuk pagi dan kelas 4-6 masuk siang hari. Tapi aku bersyukur karena setelah kelas 4 SD sekolahku sudah selesai pembangunannya dengan kelas berjumlah 6 kelas sehingga seluruh siswa bisa masuk sekolah dipagi hari. Tidak seperti anak SD sekarang yang selalu berpakaian seragam bagus dan rapi, kami dulu sekolah SD hanya kompak seragamnya hanya pada hari senin yaitu merah putih selebihnya kami berpakaian seragam asal, ada yang merah putih atau pramuka. Kamipun sekolah hanya bertelanjang kaki dan bisa dihitung anak yang memakai sepatu saat sekolah.

Ketika memasuki SMP dan SMA, aku memasuki sekolah negeri yang tergolong favorit di daerahku yaitu SMPN 2 dan SMAN 1. Jaman aku dulu masih jarang sekolah suwasta dan masuk sekolah negeri adalah tolok ukur kepintaran karena harus memiliki nilai rata-rata NEM diatas 7. Selain itu sekolah negeri merupakan sekoalah yang memerlukan biaya murah. Bagi yang bernilai rata-rata 7 kebawah mereka terpaksa harus memasuki sekolah suwasta yang biayanya lumayan dan waktu itu kuwalitas sekolahnya sangat jauh dengan sekolah negeri baik dari segi fasilitas dan prestasi. Untuk sekolah SMP aku harus menempuh jarak 10 Km dengan bersepeda dan berangkat dari rumah pukul 6:00 pagi. Begitupun ketika SMA, jarak rumah dan SMA adalah 30 Km sehingga aku terpaksa harus numpang di rumah orang yang dekat dengan sekolah dan pulang ke rumah 2 minggu sekali.

Lain dulu lain sekarang, lain sekolah di desa dengan sekolah di kota. Jika dulu aku berlomba-lomba untuk masuk sekolah negeri, maka berbeda dengan sekarang ketika aku memilih sekolah untuk anak-anakku. Semenjak era reformasi karena ada berbagai program pemerintah, sekolah negeri baik SD ataupun SMP adalah geratis uang masuk dan SPP. Khususnya SD, banyak orang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke SD negeri karena geratis. Berbeda dengan orang kebanyakan, justru aku tidak memilih sekolah negeri untuk anak-anakku. Aku justru memilih SDIT suwasta yang berbayar yang agak sedikit jauh yaitu sekitar 2 Km dari komplek perumahanku. Ada beberapa hal yang membuat aku memilih  sekolah SDIT suwasta yaitu sekolahnya nyaman dan bersih, pendidikan agamanya yang bagus, jumlah murid sedikit untuk perkelasnya serta tenaga pendidiknya 2 orang untuk kelas 1-3.  

Begitupun dengan sekolah SMP aku tetap memilih sekolah suwasta yaitu SMP islam plus karena aku masih menginginkan pembekalan ilmu agama lebih lanjut untuk anakku. Aku tinggal di kabupaten, sementara sekolah yang favorit untuk SMP adalah di kota madya karena kebijakan Pemda maka anakku tidak mungkin sekolah di kota madya. Sementara sekolah SMP di kabupaten sangat jauh dari harapanku. Selain itu, aku memilih sekolah suwasta karena aku tidak merasa nyaman dengan sekolah geratis yang mengambil dana APBN. Aku merasa tidak berhak untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah walaupun aku adalah warga negara yang syah. Aku berfikir, biarlah subsidi pendidikan yang menggunakan dana APBN di nikmati oleh rakyat yang membutuhkan. Jika aku mengambil hak juga atas itu, sudah barang tentu ada hak rakyat lain yang akan hilang.

Untuk sekolah suwasta akupun tidak sembarangan memilihnya, harus sekolah yang berkualitas dari sisi lingkungan, fasilitas, security dan tentunya prestasi. Sekolah suwasta seperti ini memang berbiaya mahal dan tidak mudah memasukinya, harus mengikuti tes dan kelulusannya harus sesuai dengan standar sekolah. Aku pada awalnya berencana mensekolahkan anak ke SMP boarding dan anak juga setuju, akan tetapi ternyata hatiku sangat lemah dan tidak ingin terlalu cepat berpisah dengan anak. Akhirnya aku memilih SMP islam plus saja yang mana anak tetap pulang ke rumah walaupun sekolahnya sampai sore hari. Dan aku bersyukur anakku sudah mendapatkan sekolah itu, sehingga aku dan anaku sudah tidak khawatir lagi untuk sekolah SMP kedepannya.

#Edi Padmono

Advertisements

9 thoughts on “Memilih Sekolah Suwasta

  1. Karena ingin membiasakan anak dengan agama, anak2 saya sekolah di SD Swasta yg berbasis agama Islam. Harapan kami nanti mereka mau masuk pondok pesantren setelah lulus SD sambil sekolah SMP terdekat.

  2. sama pa…anak saya juga SDIT..waktu saya tanya sama suami kenapa SDIT? kan mahal. Suami terlalu khawatir dengan banyak kasus yg terjadi sama anak2, bullying, pelecehan, dll. Walau dimanapun bisa terjadi..minimal bisa dikurangi

  3. aku juga udah kepikiran dari sekarang loh om.. nanti mau sekolahin anaknya di SDIT, di kecamatan sebelah, karena di kecamatanku ga ada SDIT. soalnya kalo SD biasa disini, duhh lingkungannya ga kondusif..

  4. dri TK ampe Kuliah pun aku jg swasta mas… Sayangnya suami ga sependapat kali ini ttg sekolah anak.. dia pgn anak ntr sekolah di negeri.. Alasannya ya krn deket rumah sih… Jadi terpaksa ngalah -__- Nth kenapa ku emg ga sreg ama sekolah negri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s