Bertemu Sahabat Lama

Akhir bulan Desember 2014 aku mendapat tugas dari tempat kerjaan untuk sertifikasi operasi produksi migas laut dan darat di PUSDIKLAT MIGAS Cepu kabupaten Blora, Jawa tengah. Sebenarnya aku merasa kesal karena sertifikasi itu memerlukan waktu satu munggu dan mengambil hari liburku, walaupun setatusnya adalah overtime tapi aku lebih suka berkumpul  dengan keluarga dibanding dengan overtime. Namun apalah daya hamba hanyalah seorang anak buah yang harus nurut sama bos. Akhirnya aku terbang ke Surabaya dengan pesawat kebanggaan bangsa ini. Sesampainya di Surabaya aku kebingungan karena tidak tahu jalan, akhirnya aku menunggu teman lainya yang kebetulan berdomisili di kota Surabaya dan Madura. Setelah bertemu mereka, kami langsung menuju stasiun kereta Pasar turi dan kami naik kereta api exekutif menuju kota Cepu (Sttt….jangan bilang-bilang ya….baru pertama saya naik kereta exekutif….. 😀 ).

Kebetulan ada seorang temanku SMA yang sedang tugas belajar di STEM Cepu, namanya Surahman seorang PNS kabupaten Sragen. Seperti halnya saya, surahman juga banyak mengalami liku-liku kehidupan. Setelah lulus SMA Surahman mendaftarkan diri untuk bekerja sebagai TKI ke hongkong, lama dia menunggu panggilan kerja selama beberapa tahun. Malang sungguh malang karena terpotong oleh krisis moneter 1997 dan agen TKI nya kabur maka batalah surahman menjadi seorang TKI padahal sudah banyak mengeluarkan uang. Akhirnya Surahman bekerja serabutan sebagai kuli bangunan di kota Solo dan sekitarnya. Pada tahun 1999 pemkab Sragen membuka lowongan sebagai tenaga honorer, diapun masuk sebagai tenaga honorer dept PU. Bertahun-tahun Surahman mengabdi akhirnya nasip baik mengikutinya, pada tahun 2009 dia diangkat sebagai PNS. Karena kementrian ESDM sangat kekurangan tenaga Inspektor maka temanku ini tahun 2012 oleh pihak pemda disekolahkan lagi di STEM Cepu untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Setelah sampai di kota Cepu aku langsung check in di hotel dan tentunya menghubungi teman yang sudah tidak pernah bertemu semenjak lulus SMA. Kamipun bertemu dan banyak bercerita tentang perjalanan hidup kami masing-masing. Berbeda dengan diriku, Surahman masih seperti dulu, kurus dan tidak ganteng….. 😀 .

Dari cerita-cerita itu Surahman memberitahuku bahwa ada salah satu teman SMA yang tinggal di seputaran Cepu menuju arah Purwodadi kira-kira perjalanan 2 jam. Namanya Subadi seorang guru pada sebuah MI  di kabupaten grobogan. Temanku yang satu ini lebih melas lagi nasipnya, bodi bulet seperti bola, miskin dan sangat jauh dari kata pintar tapi sangat gigih untuk sekolah. Pada saat lulus SMP dia harus bekerja selama setahun agar bisa meneruskan ke SMA tahun berikutnya. Jadilah dia seangkatan denganku dan Surahman padahal umurnya sudah tua…. 😀 . Ketika SMA Subadi hanya berjalan kaki sehingga dia harus berangkat ba’da subuh untuk ke sekolah karena jaraknya yang cukup jauh. Ketika tiba waktu ulangan semester Subadi selalu tidak mendapatkan nomor ujian karena dia selalu menunggak uang SPP sebanyak jumlah bulan dalam satu semester (benar-benar miskin kan…?). Lulus SMA Subadi merantau ke jakarta dan sempat menjadi penghuni TPS bantar gebang, Bekasi. Kemauannya untuk merubah nasib sangat tinggi, sambil kerja serabutan dia kuliah D3 kemudian S1 pendidikan agama Islam. Subadi pun kembali ke daerah asal dan mengajar di MI. Tidak sampai di situ saja, dia meneruskan kuliah lagi dan menyabet gelar MAg.

Aku selesai sertifikasi hari Jum’at, dan kebetulan Surahman tidak ada kuliah selepas sholat jum’at. Aku mengajak Surahman untuk mengunjungi Subadi dan diapun mengiyakannya. Kamipun berangkat ke rumah Subadi denga sebuah motor, karena aku sudah lama tidak membonceng motor aku selalu menegur surahman jika dia memacu motornya dengan kencang. Selain takut aku tidak ingin terjadi apa-apa dalam perjalanan karena aku ke Cepu dalam setatus perjalanan dinas yang tentunya akan diinvestigasi habis-habisan oleh perusahaan jika terjadi kecelakaan. Alhasil 3 jam kami sampai di 5 km sebelum rumah Subadi. Kami berhenti karena terhalang hujan yang sangat lebat. Kami dijemput oleh Subadi dengan mobil kijangnya. Karena kami membawa motor surahman dipinjami jas hujan dan aku membonceng mobil Subadi. Maklum aku selalu istimewa dimata teman-temanku ini, pintar, imut dan sholeh tentunya….. 😀 . Bersama istri dan anak Subadi, kami makan malam di sebuah warung pecel lele dan bercerita-cerita tentang masa lalu dan kehidupan kami masing-masing.

Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 22:00, aku tidak mungkin menginap karena aku akan balik ke Surabaya lalu ke Balikpapan esok harinya. Karena hujan sudah reda kami pun berpamitan pulang, kamipun memacu motor kami menuju kota Cepu. Dasar nasip….di tengah perjalanan ternyata hujan turun lagi dengan sangat lebat pula. “Lanjut aja man…tidak apa-apa basah…” pintaku kepada Surahman. Kamipun melaju sangat pelan karena jarak pandang yang sangat dekat, sesekali aku menggigil dan air hujan terminum olehku. Kamipun sampai dihotel 4 jam kemudian dalam kondisi seperti kucing kecebur got. “Tadak apa-apa ed buat kenangan…..kamu kan sudah bertahun-tahun tidak mandi hujan….” ledek Surahman kepadaku. Kamipun saling berjabat tangan dan berpelukan untuk sebuah perpisahan. aku melepas pandang kepada Surahman yang mengendarai motornya sampai hilang disebuah tikungan menuju asramanya. Akupun masuk kamar hotel, mandi lalu merapikan pakaian kemudian tidur.

Bertemu dengan sahabat lama itu sesuatu banget, tidak bisa terhitung dengan materi apapun. Aku, Subadi dan Surahman hanyalah orang kampung yang miskin dan terbelakang. Kami berusaha merubah nasib kami dengan tetap berani untuk sekolah walaupun dalam keterbatasan ekonomi orang tua. Untuk sekolah SMA aku harus ikut orang dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Begitupun ketika kuliah, aku harus memberikan les privat sepulang kuliah dan berjualan nasi kucing dimalam hari serta menjadi tukang bubut di bengkel pada hari sabtu-minggu. Subadi dan Surahman pun tidak jauh berbeda denganku, harus mengalami banyak liku-liku untuk mencapai kehidupannya saat ini. Kami bertiga memang tidak setangguh Laskar Pelangi yang mampu menaklukkan Eropa, karena mimpi kami hanya sebatas ini. Setidaknya kehidupan kami sudah jauh mengalami perubahan dan kami berharap masa depan anak-anak kami akan lebih cerah lagi.

“Untukmu Surahman dan Subadi….terimakasih telah menjamuku, sungguh aku sangat bahagia dan bangga bersua dengan kalian berdua”

Subadi MAg---Saya---Surahman calon ST

Subadi MAg—Saya—Surahman calon ST (abaikan warna kulitnya… 😀 warungnya remang remang sih….)

#Edi Padmono

Advertisements

6 thoughts on “Bertemu Sahabat Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s