Kandas

Setelah ospek kampus, latsar mil dan penataran P4 aku pulang ke desaku. Aku harus pulang karena selain uang sakuku habis aku juga harus bertemu Hasnah. Hasnah hendak berangkat ke Kediri untuk masuk pesantren yang sudah barang tentu nantinya kami tidak akan sering bertemu lagi. Aku datang ke rumah Hasnah sehari sebelum keberangkatannya, hari itu aku mengajaknya pergi ke taman satwa Jurug kota Solo. Karena kami trauma pernah terjatuh dari motor pada waktu kelas 2 SMA dan mengakibatkan kaki Hasnah terkilir maka kami pergi dengan naik bus. Sama seperti dari kelas 1 SMA walaupun kami bersetatus pacaran, kami tetap menjaga jarak dan tidak pernah bersentuhan kulit. Bukan muhrim, berdosa jika lakilaki dan perempuan saling bersentuhan kulit. Kami duduk di bangku yang terpisah, sepanjang perjalanan Hasnah selalu memandangiku geli karena kepalaku yang botak licin gara-gara latsar militer di Rindam IV Diponegoro Magelang.

Sesampainya di taman Jurug kami hanya berjalan-jalan, terkadang duduk di tepian sungai bengawan solo sambil berbincang-bincang.

“Tidak terasa ya…sudah 3 tahun kita bersama dan akhirnya kita benar-benar akan berpisah…..” kataku kepadanya sambil melempari air dengan batu kecil.

“Iya mas….tapi setiap semester kita kan masih bisa bertemu” jawabnya menghiburku. “Ini buat mas…hasnah yang menyulamnya…” kata hasnah sambil mengulurkan sebuah saputangan warna ungu muda bersulamkan namaku dan namanya. Aku menerimanya dan aku pandangi tulisan di sapu tangan itu lalu kulipat dan aku masukan kedalam kantung bajuku.

“Maaf ya….tidak bisa kasih apa-apa…” kataku kepadanya, diapun mengangguk sambil tersenyum manis.

“Di kampus banyak teman perempuan ya mas….? cantik-cantik ya….?” godanya kepadaku.

“Halah….masmu ini kan salah ambil jurusan…teknik mesin isinya laki-laki semua” jawabku datar.

Haripun semakin siang dan sudah masuk sholat dzuhur, kamipun bergegas menuju mushola yang ada di sekitar taman. Tidak ada pembatas pada tempat wudlu, kami berwudlu bersamaan hanya saja aku lebih cepat karena dia harus membuka jilbabnya. Aku terdiam memandanginya berwudlu, selama ini aku belum pernah melihat rambut, lengan dan betisnya. Kulitnya begitu putih bersih , rambutnya ikal dan wajahnya yang bulat terlihat begitu sangat cantik dengan bekas basuhan air wudlu. Hasnah menyadari kalau aku memperhatikannya, “Mas…..!!!” dia menegurku sambil melempar sedikit air ke mukaku tanda kalau dia keberatan aku perhatikan.

“Kamu cantik sekali….” godaku. Hasnah semakin terlihat cantik dengan pipinya yang merona karena pujianku. Kamipun sholat dzuhur berjamaah, aku sangat bahagia mengimaminya dan berharap kelak akan seperti ini selamanya.

Setelah puas berjalan-jalan di taman, kamipun bergegas pulang dan sampai di rumah Hasnah selepas ashar. Setelah sholat ashar kami kembali berbincang-bincang di depan rumah. Ibu hasnah hanya berbasa-basi menyapaku lalu kembali ke dalam seolah memberi kesempatan kepada kami berdua.

“Bener ya…..kamu tungguin saya…3 tahun saja koq…” pintaku kepadanya.

“Iya-iya mas….Hasnah kan perempuan setia….” jawab hasnah sambil mengangkat dagunya.

“Maaf….besok tidak bisa mengantar…saya harus balik ke Semarang….senin hari pertama kuliah….jangan lupa, sampai di pesantren kirim surat “ pintaku kepadanya. “Ini alamat kosan saya” tambahku.

“Iya-iya mas…Hasnah tahu kok….nanti Hasnah cantumkan juga telpon asrama” jawab Hasnah dengan gemas.

Karena hari telah sore akupun berpamitan kepada Hasnah dan ibunya “hati hati ya mas….yang rajin kuliahnya….” kata Hasnah sambil melambaikan tangannya.

Aku dan hasnah akhirnya berpisah jarak yang lumayan jauh, antara Kediri dan Semarang. Hasnah menepati janjinya dengan mengirimiku surat seminggu setelah perpisahan kami. Hubungan asmara kami hanya melewati surat dan terkadang telpon SLJJ. Dalam surat ataupun telpon itu kami tetap melambungkan impian bahwa kami kelak akan menikah dan mempunyai banyak anak. Aku bekerja dan dia akan mendidik dan mengasuh anak-anak kami dengan ilmu agama yang ia pelajari di pesantren. Pada setiap libur semester kami bertemu untuk saling melepaskan rindu dan bercerita-cerita tentang apa yang kami alami selama berjauhan. Di tengah perjalanan kuliahku, terjadilah krisis ekonomi yang sangat berat, ekonomi menjadi sulit sehingga aku harus bekerja dan berdagang selepas kuliah untuk meringankan beban orang tuaku. Aku menjadi guru privat sepulang kuliah, berjualan nasi kucing dimalam hari dan bekerja di bengkel bubut pada hari sabtu minggu.

Kesulitan ekonomipun dialami oleh keluarga Hasnah, bapaknya yang berdagang pakaian di lampung mengalami banyak kesulitan sehingga akhirnya beliau memutuskan untuk kembali bertani.

“Hasnah baik-baik saja kan?” tanyaku dalam telpon. 

“iya mas…Hasnah baik-baik saja” jawab Hasnah.

“Bagaimana dengan biayanya…?” tanyaku lagi.

“Hasnah dapat biasiswa dari pak kyai kok mas….” jawabnya lagi.

“Oh iya…syukurlah…Hasnah bisa terus belajar di pesantren…” jawabku lega dan bahagia.

Karena aku harus bekerja dan kuliah, waktuku sangat sempit dan tidak bisa menikmati liburan semester. Dua semester sudah aku dan Hasnah tidak pernah bertemu, kami hanya berhubungan melalui surat dan suara kecil di sebuah wartel. Hinga pada awal semester enam aku menelponnya dari sebuah wartel.

Tidak seperti biasanya dia seperti tidak bersemangat menerima telponku dan bertanya aneh kepadaku “kapan ya mas kira-kira Hasnah dilamar…?” .

“Tiga bulan setelah bekerja…saya akan melamarmu” jawabku dengan tegas.

“Mas…..bulan depan Hasnah ke Semarang ya….boleh kan..?” tanya nya lagi.

“Boleh……” jawabku ringan.

Hasnahpun mengunjungiku, dia mengenakan baju gamis warna ungu berpadu dengan putih dan jilbabnya yang warna merah jambu menjulur panjang menutupi separuh tubuhnya. Dia sangat cantik dan anggun sehingga membuatku sangat gugup tapi juga bahagia. Tidak seperti biasanya, Hasnah kini berbeda dan lebih pendiam.

“Mas….sehat sehat saja kan?” dia memulai pembicaraan.

“Yah…..beginilah agak sedikit berantakan…harus menyusun TA, ke warnet, bimbingan sama desen dan kerja….” jawabku beruntun. “Tapi Hasnah tidak usah khawatir…saya bisa kok melaluinya” tambahku.

Hasnah hanya tersenyum, dia kemudian menghampiri kertas A0 yang aku bentangkan di meja, telunjuknya mengikuti setiap lekukan gambar teknik yang aku buat “ini gambar tugas akhirnya ya mas…?” tanyanya kepadaku.

“Iya….tinggal sedikit lagi…kalau lancar Agustus sidang dan Oktober wisuda…” jawabku dengan penuh semangat. “Oh iya…. minggu lalu saya ikut tes di perusahaan dan diterima lo…November sudah bisa bekerja dan sesuai janji, saya akan melamarmu awal tahun depan” tambahku lebih bersemangat.

Hasnah terdiam, dia hanya memandangiku lalu tangannya membolak-balik kertas makalah tugas akhirku. “Begitu ya mas…? sayang banget ya mas…” Hasnah berkata sangat pelan.

Aku sangat terkejut mendengarnya “kenapa…? kok sepertinya Hasnah tidak semangat dan gembira…? apakah ada masalah…? ada yang mau hasnah sampaikan ke saya…? tanyaku beruntun.

Hasnah duduk agak mendekat kepadaku, dia hanya tersenyum hambar dan memandangku dengan dengan matanya yang sayu. “Tidak kok mas…Hasnah senang kalau mas cepat lulus dan kerja, Hasnah hanya ingin tahu kabar mas yang sebenarnya “ jawab hasnah.

“Mas…minggu depan bisa kerumah…? tanyanya sambil memainkan penggaris milikku.

“Emmm…ya nanti saya ijin ke yang punya bengkel” jawabku menyenangkannya.

“Pokoknya tolong ke rumah ya mas…” Hasnah meminta dengan serius. Siang itu aku mengantarkan Hasnah ke halte pemberhentian bus menuju Solo, dengan wajah murung Hasnah naik ke bus dan melambaikan tangannya kepadaku sampai bus hilang di tikungan jalan.

Hari minggu yang ku janjikan pun datang, dengan meminjam motor tetangga aku bergegas berkunjung ke rumah Hasnah. Namun aku terhenti 10 m dari rumahnya, dari kejauhan aku melehat keramaian pesta di rumah itu. Perlahan aku mendekat dan aku membaca pada tiang janur kuning di depannya “Siswanto & Hasnah”. Aku terdiam sejenak, kakiku gemetaran, hatiku sangat hancur, aku ingin berteriak sekeras kerasnya tapi aku tak mampu, aku ingin menangis tetapi tidak mungkin. Akupun menguatkan diri melangkah memasuki pesta itu. Melihat aku datang, ibu hasnah langsung menghampiriku.

“Maafkan kami ya mas…” dengan mata berkaca-kaca ia menyambut dan menepuk pundakku. “Ini…bacalah nanti di rumah” lanjut ibu hasnah sambil mengulurkan sebuah amplop. Aku tersenyum dan menerimanya, lalu aku menghampiri kedua pengantin. Hasnah hanya menunduk, sementara aku menjabat dan memberi selamat kepada suaminya. Hasnah tetap tertunduk ketika aku persis di depannya, lalu perlahan dia mengangkat wajahnya dan kamipun bertatapan sangat lama. Perlahan air matanya mengalir, akupun menengadahkan tanganku ke atas dan berdoa.

“yaa Alloh….berilah keberkahan pada kedua pasangan ini, murahkanlah rejekinya dan karuniailah mereka anak yang sholeh”. Hasnah mengamini doaku dengan suara parau dan tersedu-sedu menangis, sementara suaminya hanya memandangiku penuh keheranan.

 Akupun bergabung dengan para tamu yang kebanyakan adalah teman-teman SMA ku. Karena keakraban semasa SMA, satu persatu dari mereka mempersembahkan sebuah lagu untuk pengantin. Oleh mereka akupun didorong keatas panggung untuk menyanyikan lagu. Aku berusaha tenang dan menyanyikan sebuah lagu

Ku…titipkan…kepadamu….dia yang paaaling ku sayaang….
Engkau tahu….di dalam hatiiku…masih…menyayangimu selalu….
Aku rela kehilangaaaan dia…walau harus menderita….
Karena cinta….tidak selamanya…indah dan berakhir bahagia….

Seujung rambut…seujung kuku…janganlah pernah…kau menyakiti dirinya…..
Biarlah derita….kusimpan dalam dada…asalkan bahagia…selalu bersamanya…

Dari atas panggung aku melihat Hasnah masih menangis dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Aku turun dari panggung dengan diiringi acungan jempol dan riuhnya tepuk tangan teman temanku. Aku berdiri sejenak memandangi kedua mempelai, aku melihat Hasnah yang masih tertunduk dan menangis. Kemudian aku melangkah keluar dari pesta dengan hati yang sangat remuk. Aku memacu motorku dengan kencang dan sangat kencang. Sesampainya di sebuah jembatan yang sepi aku berhenti, aku berdiri menerawang jauh kedasar sungai yang airnya sedang mengering. Aku teriakan suaraku dengan keras kearah dasar sungai. Aku lanjutkan perjalananku, sesampainya di rumah aku duduk dan membuka surat yang diberikan ibu Hasnah kepadaku :

Maafkan Hasnah ya mas yang tidak menepati janji dan membuatmu hatimu terluka, hatiku juga sakit mas menikah dengan orang yang tidak pernah Hasnah cintai dan terpaut 25 tahun denganku. Tapi apalah daya mas, kami semua tidak bisa menolak atas permintaan pak kyai agar Hasnah menikah dengan keponakannya. Cepatlah lulus, menikah dan bahagia mas agar Hasnah bisa terlepas dari rasa bersalah.

Aku termenung dan mataku menerawang ke atap rumah hatiku berkecamuk dan berbicara seorang diri “Enam tahun kamu ku jaga Hasnah, enam tahun aku manghargaimu, enam tahun aku tak pernah menyentuh ataupun memegang tanganmu. Kamu tahu Hasnah? betapa besar sebenarnya hasratku kepadamu, aku selalu ingin menggandengmu ketika kita berjalan bersama, aku ingin merangkul bahumu ketika kita duduk berdua dan aku sangat ingin mencium pipimu. Tidak disangka, takdir selama-lamanya tidak akan pernah mengijinkanku untuk melakukannya. Hasnah…apakah karena aku orang yang miskin sehingga tak pantas untuk meraih cintaku? Tanpamu….untuk apalagi kuliah dan masa depanku….?”.

#Edi Padmono

Advertisements

18 thoughts on “Kandas

  1. wahh mas saya juga mengalami episode ini… memilukan memang tapi mas edi sellau buat saya merinding… terima kasih mas chass smngtnya salut utk mas edi….

  2. Anda emank Top bang… Cinta itu memang terkadang bukanlah dia yang selalu kita kejar… Allah menyiapkan yang lainnya dan itu yang lebih baik… Insyaallah… Hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s