Tanteku yang memulainya, aku jadi keterusan

Tanteku adalah seorang janda yang cantik, aku diasuhnya sejak masih balita ketika dia masih bersuami. Karena sudah menikah lama namun belum mendapatkan keturunan adalah alasan mengapa dia mengasuhku. Kata orang jawa sebagai pancingan agar cepat diberikan keturunan. Berbeda dengan ibu kandungku, tanteku berkulit putih seperti kakek sehingga wajar jika waktu gadisnya dia menjadi seorang bunga desa. Tanteku sebenarnya lulusan SPG tetapi tidak pernah mau mengajar melainkan memilih profesi sebagai penyanyi orkes dangdut bersama teman-teman sekolahnya. Sekitar tiga tahun aku diasuhnya, sedangkan tanda tanda kehamilan tidak kunjung datang dan akhirnya suaminya menceraikannya. Saat itu juga kelompok orkes dangdut tempatnya bernaung bubar karena sepinya job. Setelah menjanda dan tidak menyanyi lagi, tanteku akirnya membuka warung nasi di pinggir jalan raya untuk mempertahankan hidup dan tetap mengasuhku.

Jadi janda memang susah dan serba salah dimata masyarakat, banyak yang menggoda dan berbuat kurang ajar serta direndahkan. Tidak jarang tanteku tiba-tiba dilabrak istri orang dan dicakar-cakar serta dijambak rambutnya akibat mereka cemburu kepada tanteku. Karena tidak tahan atas perlakuan orang akhirnya tanteku kembali ke rumah kakek dan kegiatannya hanya membatik kain. Di kampungpun banyak juga gunjingan, karena bapakku adalah seorang pengurus bahkan imam mushola maka gunjingan itu masih bisa diredam. Karena rumah kakek dan rumah orang tuaku dekat, maka aku tinggal didua rumah kadang di rumah orang tua kadang di rumah kakek. Setelah beberapa tahun menjanda, akhirnya tante menikah lagi dengan seorang duda tapi sayang pernikahannya tidak langgeng karena suaminya meninggal dan kembalilah dia menjanda namun lebih terhormat dari setatus janda sebelumnya.

Sebenarnya yang membikin buruk nama tante di mata masyarakat adalah setatusnya yang mantan penyanyi dangdut. Walaupun sudah pensiun lama dan hanya berpenghasilan dari membatik, tetap saja ada yang tidak senonoh jika dia keluar rumah seperti berbelanja kepasar. Pada akhirnya tanteku berkenalan dengan seorang mubalighot sebuah organisasi islam yang baru berkembang di daerahku. Tanteku mengikuti pengajian-pengajian di organisasi itu dan saat itulah tanteku berhijab, selalu berbaju gamis dan berjilbab panjang sampai dada. Tahun 1988 adalah masa yang masih sangat sulit ditemui seorang wanita berjilbab, sehingga beredar rumor baru tentang organisasi sebagai aliran sesat. Begitupun di kampung tanteku dianggap aneh karena selalu menutup seluruh auratnya. Hampir setiap hari tanteku mengikuti pengajian di kampung seberang dengan memboncengkan aku disepedanya, setiap itu juga selalu ada halangan dari masyarakat untuk menggagalkan kami berangkat pengajian.

Aku yang waktu itu masih kelas 6 SD hanya ikut saja dan tidak banyak berfikir tentang gunjingan masyarakat. Organisasi itu memang menyajikan islam secara berbeda dengan yang aku pelajari di mushola sebelumnya. Jika dulu aku hanya belajar cara baca Al-Qur’an dan cara sholat, di sana aku belajar tentang isi Al-Qur’an dan Hadist serta mempelajari sunah-sunah dan sejarah islam. Walaupun banyak halangan dari masyarakat, ketika SMP aku semakin bersemangat mengikuti pengajian di organisasi itu. Dalam organisasi itu diajarkan tentang adab dan hukum bagaimana interaksi dengan lawan jenis, oleh karena itu aku sama sekali tidak bersentuhan kulit denga lawan jenis yang bukan muhrim. Masa-masa itulah aku merasa sangat religius, aku banyak berdzikir dan menghafal surat-surat Al-Quran dan wajar jika pelajaran agamaku lebih unggul dari teman-temanku.

Perbuatan buruk masyarakat yang selalu kami balas dengan kebaikan membuat masyarakat membuka diri dan satu persatu ada yang mengikuti langkah kami. Sampai akhirnya kami bisa mengadakan pengajian sendiri di kampung karena jamaahnya sudah mencukupi. Kamipun membangun sebuah mushola khusus untuk pengajian rutin kelompok kami dan kami juga mendapatkan seorang mubaligh yang khusus ditempatkan di mushola untuk mengisi pengajian. Pada waktu aku kelas 3 SMP, organisasi semakin berkembang di kampung kami. Aku yang awalnya hanya ikut-ikutan tante justru jadi bersemangat untuk belajar Al-qur’an dan Hadist dan sempat menjadi primadona di organisasi. Aku Katam belajar terjemahan dan tafsir Al-Qur’an dan aku diwisuda di organisasi pusat oleh imam serta mendapatkan nama baru “Mahfud Adzakhi” yang artinya cerdas dan terpelihara. Mulai saat itu aku sedah bisa bergantian dengan mubaligh mengisi pengajian, tentunya jika tafsir yang aku sampaikan kurang tepat akan diluruskan oleh mubaligh. Awalnya tanteku yang mengajariku, akhirnya aku yang mengajarinya.Yah….awalnya tantekulah yang memulai masuk organisasi itu, tapi aku malah keterusan menikmati sebagai anggota dalam organisasi itu.

#Edi Padmono

Advertisements

14 thoughts on “Tanteku yang memulainya, aku jadi keterusan

  1. Judulnya mencurigakan, tapi mas edi mengantarkan kita pada pribadi mas Edi yang biasa saya kenal dari tulisannya. Keren mas, tulisan mas Edi bisa jadi inspirasi dan menguatkan bagi tiap orang yang mengalami kasus kasus serupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s