Nikah muda siapa takut

Mungkin bagi wanita adalah hal yang lumrah jika melakukan pernikahan dini apalagi bagi yang lulus SMP atau SMA tidak meneruskan pendidikannya dan lebih memilih bekerja. Biasanya para wanita itu merantau ke kota sebagai karyawan pabrik ataupun toko dan setelah beberapa lama mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang mau menikahinya. Bagi para wanita yang meneruskan ke jenjang bangku kuliah ada juga beberapa yang setelah lulus baik setahun atau dua tahun langsung menikah yah rata-rata mereka berumur 22-24 tahun. Tapi bagaimana dengan laki-laki? Sangat jarang kaum laki-laki yang mau melakukan nikah di usia muda terlebih baru selesai sekolah ataupun kuliah. Alasan untuk ingin bebas ataupun  ingin mapan terlebih dahulu tidaklah bisa dipersalahkan. Bahkan alasan melajang untuk membahagiakan atau berbakti kepada orang tua juga sah-sah saja walaupun alasan ini sangat kontemporer dan tidak pernah terbukti.

Akan tetapi aku tampil sebagai laki-laki yang berbeda, berani menikah di usia yang sangat muda yaitu 20 tahun. Kebetulan aku hanyalah lulusan D3 dan lulus diusia  19 tahun. Sebenarnya menikah diusia 20 tahun itu menurutku sudah terlambat dari perencanaanku karena seharusnya aku menikah tepat setelah lulus kuliah. Wanita yang akan aku nikahi ternyata lebih dulu menikah dengan orang lain ketika kami berusia 18 tahun dan aku menjadi orang yang agak kesulitan menemukan calon pengantinku. Walaupun mundur setahun aku bersyukur karena dapat menemukan wanita yang bisa dan mau aku nikahi. Aku adalah type orang yang penuh dengan perencanaan jangka panjang dan menikah ini sudah masuk dalam agendaku sejak aku membuat perencanaan waktu aku masih kelas 2 SMA. Berbekal keaktifanku mengaji belajar tentang Al-quran dan hadist sejak kelas 6 SD pada sebuah organisasi yang mendorongku berani memutuskan untuk menikah usia muda. Di Dalam organisasi itu banyak dipelajari tentang sunah-sunah dalam setiap kehidupan termasuk bagaimana tata cara hidup berumah tangga bahkan sampai kepada taraf poligami.

Aku tidak menawarkan harta pada permulaan pernikahan, tapi aku juga tidak akan menjadi beban dari masing-masing orang tua. Yang aku janjikan hanyalah bahwa aku tidak akan menterlantarkan wanita yang aku nikahi walaupun sesulit apapun kehidupanku serta aku bersedia mengambil alih kewajiban yang dipikul oleh wanitaku. Tidak seperti orang kebanyakan yang setelah menikah masih tinggal di rumah orang tua, kami lansung keluar dari rumah orang tua sehari setelah pesta pernikahan. Membayangkan indahnya kehidupan menikah…? tidak, aku justru membayangkan betapa sulitnya menghidupi dan melindungi keluarga seperti keluarga-keluarga yang aku perhatikan selama ini. Bukanlah sex orientasiku tapi memasuki kehidupan yang sebenarnya adalah tujuanku. Wajar saja jika dikatakan bahwa menikah adalah melaksanakan separuh dien, karena setelah menikah seseorang akan mengalami beberapa perubahan hidup, ujian, interaksi sosial dengan masyarakat, perbedaan pendapat dan lain sebagainya dalam rangka menuju kedewasaan berfikir.

Ujian yang dijanjikan Alloh dalam Al-Qur’an pun datang menghampiri kami. Dengan berbekal ilmu yang kami miliki, kami tetap berdiri dengan kokoh dalam mahligai kebahagiaan. Aku terkena PHK dan mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru sampai tabunganku habis. Aku berjuang sekuat tenaga untuk tetap menghidupi dan melindungi istriku, aku tidak pernah malu melakukan pekerjaan rendahan seperti berjualan asongan atau berjualan mie ayam keliling pada setiap gang perumahan. Walaupun dalam kesusahan aku melarang istri untuk terlibat dalam pencarian nafkah. “Berdoalah agar usaha bapak lancar dan mendapatkan rezeki yang barokah” pintaku kepada istri ketika dia ingin turut membantu. Dengan sedikit uang yang aku dapatkan aku tetap berusaha membuat istriku tetap bisa berteduh dari terik dan hujan walaupun hanya sebuah kontrakan kecil, tetap tercukupi kebutuhan makanannya walaupun hanya sekedar nasi berlauk sayur bayam dan ikan kembung.

Janji-Nya akan sebuah kegembiraan kepada yang sabar dalam menghadapi ujian nyata adanya. setelah bertahun tahun kami mengalami berbagai kesusahan akhirnya aku mendapatkan pekerjaan dan kehidupan kami berangsur-angsur membaik seiring hadirnya buah hati kami. Rezeki yang dikirimkan kepada kami ternyata bukan milik kami sepenuhnya, bapak mertua berhenti berdagang karena fisiknya yang lemah dan ibu kandungku sakit keras. Istriku mempunyai 7 adik dan yang 5 masih sekolah, secara otomatis menjadi tanggung jawab istriku. Sesuai janjiku aku ambil alih tanggung jawab itu dengan memberikan biaya sekolah adik-adik ipar setiap bulan. Aku juga mempunyai 2 adik kandung yang masih kuliah dan SMA, aku juga harus membiayai kuliah dan sekolah adik-adikku. Sebuah keyakinan yang besar dalam hatiku, jika ada sebuah tanggung jawab maka Alloh akan menguatkan punggungku untuk memikulnya. Dan itu benar adanya, semua adik-adik kami bisa selesai sekolah dan bekerja.

Perjalanan menuju 16 tahun usia pernikahan kami, banyak suka dan duka dalam menjalaninya. Kami tumbuh menjadi manusia dewasa yang mapan dengan financial yang mencukupi untuk kebutuhan hidup dan sekolah anak-anak kami. Usia pernikahan kami setara dengan usia pernikahan orang-orang yang berumur 10 sampai 15 tahun lebih tua dari kami dan kondisi ekonomi kami bisa dikatakan setara bahkan melampauinya. Ada perhitungan matematis sederhana, bahwa anak menyelesaikan S1 adalah usia 22 tahun maka jika seseorang menikah di usia 25-30 tahun bisa dihitung berapa usianya untuk menyelesaikan pendidikan anak-anaknya sementara usia pensiun normal adalah usia 56 tahun. Bagaimana jika dalam pernikahan tidak langsung diberi keturunan dan harus menunggu 1,2 bahkan 5 tahun? lalu bagaimana jika mempunyai anak lebih dari 2 ?

Kepada para jomblower yang sedang mencari cinta, dari penuturaku diatas aku hanya ingin memberikan pesan kepada kalian semua:

1. Tidak usahlah kalian sibuk mencari cinta dengan mencari pasangan yang ganteng, cantik, dan berpendidikan tinggi. Cukup kalian cari seseorang dengan aqidah yang baik lalu menikahlah denganya. Cinta akan tumbuh setelah kalian menikah dan saat itulah pasangan kalian akan berubah menjadi makhluk yang paling ganteng atau paling cantik sedunia walaupun awalnya dia adalah si buruk rupa.

2. Jangalah menunggu mapan baru menikah tapi yakinlah bahwa kemapanan itu hanya akan terwujud ketika kalian sudah menikah. Semakin cepat menikah maka akan semakin cepat mendapatkan ujian dan meraih kemapanan. Manusia lajang walaupun berpenghasilan besar pasti tidak terkontrol keuangannya sementara manusia yang menikah pasti penuh perencanaan dan hati-hati dalam mengelola keuangannya.

3. Jangan takut kekurangan rezeki karena Alloh telah menjamin rezeki setiap mahluk-NYa. Pernahkah kalian melihat orang berduyun-duyun membawa beras ataupun uang pada acara ta’ziah? itulah tanda yang sangat nyata bahwa Alloh maha pemberi rezeki kepada setiap makhluk sekalipun dia sudah wafat.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 3rd Anniversary The Sultonation”

#Edi Padmono

Advertisements

27 thoughts on “Nikah muda siapa takut

  1. tapi aku perhatikan sekarang marak nih orang muda yang berani nikah muda. Syukur alhamdulillah berarti banyak yang mulai terpikir untuk menghindari zina dengan menikah muda

  2. sebenarnya usia bukanlah patokan dalam menikah yaa
    bukan soal tua atau muda tapi kedewasaan dari para pelakunya
    seperti pak edi yang menikah di usia 20 tahun mungkin jauh lebih dewasa dan matang dibandingkan dengan saya yang juga sama-sama menikah di usia 20 tahun
    termasuk dalam hal tanggung jawab
    tapi saya sangat setuju bahwa nikah di usia muda jauh lebih bagus daripada kita cuma nambah-nambah dosa dengan berpacaran apalagi sering berganti-ganti pacar 😀
    nice share pakbro
    salam 🙂

  3. kalau saya sudah memutuskan untuk tidak menikah di masa yang akan datang karena hal-hal yang tidak bisa saya jelaskan. begitu menyesal karena dulu sempat merencanakan di usia 30 an. rencana tinggal rencana….

  4. wah baca hal ini saya ajdi makin bersemangat pak.. masih banyak yang harus saya rapikan ilmui dan perbaiki…. semoga semua segera selesai pak amiin terima kasih pak…

  5. Mudah2an para jomblo belajar benar2 dari tulisan Pak Edi, bahwa menikah muda itu berarti siap untuk bertanggung jawab, tanpa membebani siapa pun. Ini kisah nyata dan alhamdulillah berhasil dijalani oleh penulis ini ^_^

  6. Al-Quran adalah sebaik-baik petunjuk.
    Di dalamnya tak ada istilah nikah muda.
    Nikah, ya nikah saja. Asal sesuai dengan syarat dan rukun nikah.
    Jangan lupa didaftarkan di KUA jika Anda sebagai WNI. 🙂

  7. Suka dengan tulisannya nih Mas…
    Pengalaman diri sendiri yang dikemas menjadi semacam wejangan terutama untuk yang masih single yang menderita semacam “ketakutan” menghadapi kehidupan berkeluarga, seperti dituliskan dalam pesan kpd para jomblower diatas.

    Salam,

  8. nikah muda banyak positifnya. Tapi, orang terdekat juga harus sering mengingatkan. Apalagi yang namanya usia muda, darah mudanya masih sering bergejolak. Jangan sampai menikah semata-mata cuma karena nafsu. Dan, juga jangan mudah mengucapkan pisah karena maish muda

  9. Kalau menurut saya, nikah mudah ada sisi positif dan negatifnya. Mungkin negatifnya, tingkat kematangan pemikiran dan pengalamannya masih kurang. Yang penting niat yang benar-benar tulus, insya Allah bisa. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s